Sabtu, 23 September 2017

Mensos dengan Putra-Putri Pendiri Bangsa Serukan Jaga Persatuan

id Mensos dengan, Putra-Putri, Pendiri Bangsa, Serukan Jaga Persatuan, pesantren tebuireng, kabupaten jombang
Mensos dengan Putra-Putri Pendiri Bangsa Serukan Jaga Persatuan
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dalam dalam acara pertemuan putra-putri pendiri bangsa dan tokoh lintas agama di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu (13/8). (Foto Asmaul Chusna)
Seluruh negeri bisa memahami, menyerap ke hati. Ini seruan yang baik, tidak memihak siapapun, tapi mengajak lebih baik mengelola negeri kita, terutama tentang persatuan yang menyangkut Bhineka Tunggal Ika
Jombang, (Antara Jatim) - Sejumlah putra dan putri para pendiri bangsa membuat seruan yang ditujukan pada pemerintah dan seluruh masyarakat dengan harapan semua mampu menjaga persatuan, yang ke depannya bisa membuat rakyat semakin sejahtera.

"Seluruh negeri bisa memahami, menyerap ke hati. Ini seruan yang baik, tidak memihak siapapun, tapi mengajak lebih baik mengelola negeri kita, terutama tentang persatuan yang menyangkut Bhineka Tunggal Ika," kata perwakilan putra dan putri para pendiri Meutia Farida Hatta Swasono.

Meutia mengemukakan itu dalam acara pertemuan putra-putri pendiri bangsa dan tokoh lintas agama dengan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu.

Ia juga mengatakan, NKRI harus bersatu. Salah satunya, karena mempunyai musuh bersama yang harus dihadapi. Musuh itu disebutnya tidak hanya konkrit, melainkan juga abstrak, misalnya, kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan yang memang harus diatasi.

Untuk itu, ia juga berharap rakyat juga harus lebih sejahtera, negara harus aman, kedaulatan harus dijaga baik demi menjaga persatuan tersebut.

Meutia juga mengingatkan kembali tentang perjuangan para pendiri bangsa yang penuh dengan keikhlasan, mengorbankan jiwa raga untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Para pendiri bangsa mempunyai cita-cita bersama untuk menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat, bersatu, adil dan makmur.

"Para pendiri bangsa telah berhasil mendirikan negara dengan tujuan melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia," tuturnya, membaca seruan itu.

Ia juga prihatin dengan kondisi saat ini. Setelah 72 tahun merdeka, ternyata masih ditemukan beragam tantangan yang harus diatasi dengan serius, misalnya memudarnya rasa kebersamaan, gotong royong, rasa persatuan dan kesatuan bangsa, melemahnya kohesi nasional dan implementasi Bhineka Tunggal Ika, dalam kehodupan berbangsa, bernegara, serta rasa keadilan di lingkungan masyarakat.

Ia menambahkan, penjagaan yang lebh ketat juga harus dilakukan untuk melindungi aset negara berupa sumber daya alam (SDA) dan juga sumber daya manusia (SDM) yang terwujud sebagai kearifan lokal dari budaya masyarakat Indonesia yang multikultural maupun peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia.

"Secara keseluruhan pembangunan nasional untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia perlu menjadi fokus perhatian dari pemerintah, agar ketimpangan antara pembangunan di kawasan barat dan timur Indonesia dihilangkan karena setiap kawasan memiliki kekuatannya masing-masing yang perlu ditangani secara spesifik, berkesinambungan dan mengutamakan keadilan," paparnya, menjelaskan.

Ia berharap, dari berbagai perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara Indoensia selama beberapa tahun terakhir, agar Bhineka Tunggal Ika harus dirawat dan dikembangkan demi kemajuan bangsa. Selain itu, juga semakin memperkokoh kedaulatan bangsa, menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Meutia juga menyerukan agar pemerintah konsisten dalam menjalankan tugas yang diamanahkan dalam pembukaan UUD 1945 mengenai tujuan mendirikan negara. Pemerintah diharapkan segera memenuhi hak dasar rakyat seperti hak hidup, hak memperoleh pelayanan, pendidikan dasar, dan menengah dengan meningkatkan mutu pendidikan secara merata.

"Karakter bangsa yang sejak awal dicanangkan para pendiri negara harus diperjuangkan untuk terwujudkan secara nyata," ucapnya, menegaskan.

Ia juga menambahkan, tokoh tokoh partai politik harus mengubah orientasi meraih kekuasaan semata menjadi oritentasi melayani masyarakat. Tokoh partai politik harus memiliki jiwa kenegaraan, terutama dalam pengelolaan ekonomi nasional, keamanan nasional, dan penegakan keadilan serta kepastian huukum.

Lebih lanjut, ia menyerukan agar birokrasi pemerintah harus melakukan transformasi menjadi pelayan masyarakat yang profesional dan berintegritas.

Selain itu, media juga harus menjalankan fungsinya sebagai sarana pendidikan bangsa dan memberi informasi yang benar. Media harus mengisi jiwa rakyat dengan rasa kemanusiaan yang tinggi.

Dalam kegiatan tersebut, dihadiri sejumlah putra dan putri pendiri bangsa, di antaranya KH Sholahudin Wahid (Putra KH Wachid Hasjim), SR Handini B Maramis (Putri AA Maramis), Agustanzil Sjahroezah (Cucu Haji Agus Salim), MA Rohadi Subardjo (Putra Prof Mr Achmad Soebardjo), Muhammad Afnan Hadikusumo (Cucu Ki Bagus Hadikusumo), Nugroho Abi Kusno (Cucu Abikoesno Tjokrosoejoso), dan Meutia Farida Hatta Swasono (Putri Muh Hatta).

Acara tersebut juga dihadiri Menteri Sosial Khofifah Indar Parawanwansa serta tokoh lintas agama, serta seluruh tamu undangan. Seluruh putra dan putri pendiri bangsa tersebut juga diberikan waktu untuk menyampaikan pesan kebangsaan, yang diakhiri dengan menyampaikan seruan kepada bangsa tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Mensos Khofifah Indar Parawansa juga mengatakan, Kementerian Sosial juga akan meneruskan seruan tersebut ke Presiden. Diharapkan, dengan adanya pertemuan tersebut seruan yang ingin disampaikan bisa sampai secara langsung.(*)

Editor: Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0085 seconds memory usage: 0.61 MB