Menangkal Radikalisme Ala TKI di Hong Kong (Video)

id Menangkal Radikalisme, Ala TKI di Hong Kong, panggung merah-putih

Menangkal Radikalisme Ala TKI di Hong Kong (Video)

Konsul Jenderal RI di Hong Kong Tri Tharyat membuka acara Panggung Merah Putih di HKCEC, Minggu (6/8). (Foto Irfan Ilmie)

Hong Kong, (Antara) - Christopher Drake beranjak dari tempat duduknya di depan layar monitor sisi kanan panggung saat dikumandangkan lagu Indonesia Raya.

Telapak tangan kirinya dirapatkan di dada, sedangkan tangan kanan menggenggam erat kamera mini agar sorotannya tak sedikit pun  luput dari pergerakan demi pergerakan di panggung.

Sesekali sorot kameranya juga diarahkan ke bagian tengah gedung Hong Kong Convention and Eexhibition Center (HKCEC) yang dipadati sekitar 3.000 orang.

Pria asal Inggris yang sudah lama menetap di Hong Kong itu, mengaku memiliki ikatan emosional tersendiri dengan Indonesia.

"Hampir semua budaya Indonesia menarik perhatian saya," kata pria yang sudah beberapa kali berkunjung ke beberapa tempat menarik di Indonesia.

Meskipun semua rangkaian acara Panggung Merah-Putih yang digelar KJRI Hong Kong, Minggu (6/8) itu, berbahasa Indonesia, Drake tak sudi sedikit pun melewatkannya.

Tak peduli pengisi acaranya artis ternama atau hanya tenaga kerja Indonesia yang menjadi buruh rumah tangga, bagi Drake acara di gedung bersejarah tempat Pangeran Charles dari Inggris menyerahkan kedaulatan Hong Kong kepada China pada 1 Juli 1997 itu sangat penting.

Gedung yang berdiri di atas tanah reklamasi Pelabuhan Victoria sore itu penuh dengan nuansa Merah-Putih.

Kaum buruh migran yang duduk di kursi penonton tidak kalah heroiknya dengan rekan-rekan senasib dan seperjuangan yang mendapatkan kesempatan tampil sebagai pengisi acara.

Mereka tidak hanya menjadi penonton yang aktif, melainkan juga atraktif dengan pakaian yang dikenakannya senada dengan warna bendera Indonesia.

Apalagi sejak melewati pintu masuk, panitia penyelenggara telah membagikan pin berbentuk bendera Merah-Putih.

Tanpa dikomando pun, para pembantu rumah tangga yang kebanyakan kaum hawa itu dengan bangga menyematkan pin Merah-Putih di dada atau di kerudung.
        
Nasionalisme
"Tanah airku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku. Biarpun saya pergi jauh, tidak 'kan hilang dari kalbu. Tanahku yang ku cintai. Engkau kuhargai...."

Teriakan mereka membahana tatkala sebagian dari rekannya tampil di panggung memainkan instrumentalia lagu ciptaan Ibu Sud itu dengan alat musik angklung dan biola.

Konsul Jenderal RI di Hong Kong selaku panitia penyelenggara tidak sedikit pun mengarahkan hadirin untuk menyanyikan lagu itu. Spontanitaslah yang muncul beriringan dengan intro pada partitur angklung.

Jiwa nasionalisme mereka makin teraduk mana kala rekan mereka yang lainnya tampil membawakan lagu Bendera yang pertama kali dipopulerkan grup band Coklat pada 2006.

"Merah-Putih teruslah kau berkibar. Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini. Merah-Putih teruslah kau berkibar. Ku kan selalu menjagamu," demikian koor kaum buruh yang seakan tak mau kalah oleh gemerlapnya acara pelantikan Chief Executive Hong Kong Carrie Lam di gedung yang sama pada 1 Juli 2017.

Saat beberapa kelompok komunitas masyarakat Hong Kong yang memiliki ikatan emosional dengan Indonesia tampil di panggung raksasa itu, mereka juga memberikan semangat yang setara dengan penampilan kawan mereka sendiri.

Ada dua komunitas warga Hong Kong yang secara sukarela menyumbangkan kemampuan olah vokal dan kepiawaian bermusiknya di panggung tersebut, meskipun mereka rata-rata sudah berusia senja.

Panggung yang didirikan KJRI Hong Kong itu mirip dengan ajang seni gado-gado. Beragam jenis musik, tari-tarian, dan seni beladiri pun jadi satu di panggung itu. Demikian halnya atraksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka yang juga dari kalangan buruh migran.

Penonton makin merangsek ke arah panggung manakala artis serba bisa Dorce Gamalama tampil mengenakan pakaian terusan warna putih gading mulai menembangkan Indonesia Tanah Air Beta.

Situasi di dalam gedung itu pun sempat kacau karena beberapa penonton bergegas menuju panggung agar bisa mendekati artis Ibu Kota itu. Keadaan berangsur normal setelah panitia dibantu petugas keamanan gedung turun tangan.
        
Sedikit Berbeda          
Rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan RI di Hong Kong pada tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Biasanya setiap 'Agustusan' ada pemandangan penonton yang pingsan karena kepanasan, sekarang tidak," kata Konsul Jenderal RI di Hong Kong, Tri Tharyat.

Dengan dukungan penuh dari beberapa BUMN dan sejumlah perusahaan di Hong Kong sebagai mitra kerjanya, KJRI memberanikan diri menyewa gedung megah di kawasan Wanchai itu yang tentunya berbiaya mahal.

"Karena yang tersedia tanggal 6," kata Tharyat beralasan mengenai jadwal digelarnya puncak peringatan Hari Kemederkaan RI sebelum tanggal 17 Agustus itu.

Rangkaian kegiatan Hari Kemerdekaan RI tahun ini juga diisi dengan berbagai kegiatan perlombaan seni dan pertandingan cabang olahraga yang digelar di berbagai tempat, termasuk di lapangan Victoria Park yang menjadi tempat favorit para TKI setiap libur akhir pekan.

Di penghujung acara, Husein Idol, penyanyi yang mengorbit setelah menjuarai ajang pencarian bakat di RCTI, didaulat panitia untuk membagi-bagikan hadiah, mulai dari telepon seluler hingga berlian.

Sesungguhnya Panggung Merah-Putih tak sekadar ajang hiburan di tengah kepenatan para buruh migran akan rutinitas sehari-hari.
    
Apalagi, baru-baru ini mereka diresahkan oleh isu adanya sejumlah buruh migran Indonesia di Hong Kong yang terpengaruh paham radikal dan menjadi ekstremis.

Bahkan pada 26 Juli 2017, salah satu media arus utama di Hong Kong, South China Morning Post, mengutip laporan yang dirilis Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) bahwa 45 buruh migran terlibat kelompok ekstremis dengan mendeklarasikan kekhalifahan ISIS pada 2014.

Namun, melihat semangat dan jiwa patriotisme para buruh migran pada Minggu (6/8) itu, seolah-olah menampik laporan lembaga yang pendiriannya dibidani oleh Sydney Jones itu.

Apalagi nama-nama eks-buruh migran Indonesia di Hong Kong yang tercantum dalam laporan IPAC mengenai keterlibatan dalam jaringan ISIS tersebut tidak terkonfirmasi kejelasannya.

"Insya Allah teman-teman masih tetap mencintai Tanah Air meskipun ada isu seperti itu. Kami jauh-jauh ke Hong Kong untuk mencari nafkah, bukan untuk menjadi pemberontak, apalagi terhadap bangsa kami sendiri," ujar Warsini, pembantu rumah tangga asal Tulungagung, Jawa Timur, seusai menyaksikan rekannya tampil di Panggung Merah-Putih.(*)

Video Oleh M. Irfan Ilmie
Pewarta :
Editor: Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar