Kamis, 24 Agustus 2017

Ikhwan Arif: Selamatkan Terumbu Karang untuk Masa Depan

id ikhwan arief, kalpataru, selamatkan terumbu karang, bangsring underwater banyuwangi
Ikhwan Arif: Selamatkan Terumbu Karang untuk Masa Depan
Ketua Kelompok Nelayan Samudra Bakti Ikhwan Arief menerima penghargaan Kalpataru dari Presiden Joko Widodo di Jakarta, 2 Agustus 2017 (istimewa)
Dengan semakin baiknya kondisi terumbu karang maka hasil tangkapan nelayan juga meningkat, serta potensi wisata di Bangsring juga mendapat perhatian dari masyarakat luas, sehingga perekonomian masyarakat semakin sejahtera
Menangkap ikan dengan menggunakan potasium atau bom ikan sudah tidak zamannya lagi, karena dengan tindakan tersebut maka populasi ikan kecil juga musnah dan rumah ikut hancur yang berdampak pada hasil tangkapan ikan nelayan semakin berkurang.

Ikhwan Arief yang merupakan Ketua Kelompok Nelayan Samudra Bakti sudah memulai perjuangannya untuk mengajak nelayan di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo untuk menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan sejak tahun 2008.

Tidak mudah mengajak nelayan untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan yang dilakukan dalam menangkap ikan dengan pengeboman atau menggunakan potasium, sehingga perlahan-lahan Ikhwan bersama nelayan lain yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Samudra Bakti terus gigih untuk mengubah "mindset" nelayan tradisional itu.

"Dengan perjuangan bersama sama kelompok nelayan akhirnya pola pikir nelayan di Desa Bangsring perlahan-lahan berubah, sehingga edukasi kepada nelayan terus dilakukan untuk menjaga kelestarian terumbu karang," tuturnya.

Kelompok Nelayan Samudra Bakti sendiri menjadi pelopor dalam konvervasi laut karena memperbaiki ekosistem laut dengan mengubah perilaku dan budaya tangkap ikan para nelayan, sehingga kawasan perairan Pantai Bangsring yang menjadi basis kelompok nelayan itu telah menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Banyuwangi.

"Kami mengubah perilaku dalam menangkap ikan, tadinya menggunakan potassium atau bom ikan menjadi lebih ramah lingkungan. Awalnya banyak yang menentang, tapi kami tidak menyerah dan juga menetapkan area konservasi laut seluas 15 KM di mana di area ini tidak boleh ada aktivitas penangkapan ikan," katanya.

Berdasarkan data Kelompok Nelayan Samudra Bakti sejak tahun 2008 jumlah terumbu karang yang terpantau sekitar 18 persen saja karena sebagian besar sudah rusak, kemudian dengan berbagai usaha melakukan transplantasi terumbu karang di perairan setempat, sehingga pada tahun 2013 tercatat tutupan terumbu karang sudah menjadi 70 persen.

Nelayan kelahiran 6 April 1984 itu meyakini masyarakat yang merawat laut, maka laut akan memberikan yang lebih  dan saat ini terumbu karang di Bangsring sudah tumbuh dengan bagus, sehingga berdampak pada perekonomian nelayan juga menjadi lebih baik.

"Dengan semakin baiknya kondisi terumbu karang maka hasil tangkapan nelayan juga meningkat, serta potensi wisata di Bangsring juga mendapat perhatian dari masyarakat luas, sehingga perekonomian masyarakat semakin sejahtera," katanya.

Kegigihan Kelompok Nelayan Samudra Bakti untuk menjaga ekosistem dengan melestarikan terumbu karang selama bertahun-tahun dan mengubah pola pikir nelayan itu menyabet penghargaan Kalpataru Kategori Penyelamat Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta, 2 Agustus 2017.

Penghargaan tersebut diberikan kepada kelompok masyarakat baik formal maupun informal yang berhasil melakukan upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup atau pencegahan kerusakan karena Kelompok Nelayan Samudra Bakti yang dipimpin Ikhwan Arif dinilai berhasil menjadi pelopor dalam konservasi laut. (*)

Editor: Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.1209 seconds memory usage: 0.6 MB