Kamis, 24 Agustus 2017

Pengalaman Buruh Migran Indonesia Dibukukan

id Buruh Migran, Buku, TKI
Pengalaman Buruh Migran Indonesia Dibukukan
Lomba Makan Krupuk Buruh Migran Indonesia di Hong Kong dalam rangka HUT Kemerdekaan ke-72 RI, pekan lalu (Antara Jatim/Irfan Ilmie)
Beragam kisah berhikmah dalam karya tulis dengan isi yang sangat bernas mulai dari mengundang haru, menggetarkan jiwa, takjub, mencahaya, komedi, dan kisah tentang buah manis kerja keras tercurah dalam tulisan yang dikirimkan
Jakarta (Antara Jatim) - Karya tulis hasil pengalaman para buruh migran yang dijaring melalui lomba menulis kisah berhikmah Buruh Migran Indonesia (BMI) tingkat internasional dikompilasikan dalam sebuah buku.

Pemrakarsa lomba menulis kisah Berhikmah BMI Yeni Fatmawati Fahmi Idris dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu, mengatakan lomba karya tulis BMI yang diselenggarakan oleh ICLaw mendapatkan respons luar biasa dari para peserta yang mengirimkan karya tulisnya, tidak hanya kalangan BMI yang kini sedang bekerja di luar negeri namun juga mereka yang telah kembali ke Tanah Air.

"Beragam kisah berhikmah dalam karya tulis dengan isi yang sangat bernas mulai dari mengundang haru, menggetarkan jiwa, takjub, mencahaya, komedi, dan kisah tentang buah manis kerja keras tercurah dalam tulisan yang dikirimkan," katanya.

Tak hanya itu, kata dia, tulisan yang dkirimkan juga berisi juga persaingan sengit, kecemburuan cinta dan sosial, kerinduan mendalam pada keluarga yang jauh, serta tragedi hinaan yang  merendahkan harga diri hingga siksaan yang melukai tubuh.

Yeni sendiri berpendapat sisi positif lomba tersebut yakni bahwa substansi tulisan para BMI pemenang lomba diharapkan bisa dijadikan guru kehidupan yang mengedukasi tentang kejujuran, religiusitas, sekaligus pemicu etos kerja hingga menumbuhkan toleransi dan kasih sayang.

"Juga tentunya memahami apa arti bekerja secara profesional untuk keamanan, kenyamanan dan  kesejahteraan jiwa dan raga," kata Yeni.

Ia pun berharap tulisan para BMI ini dapat bermanfaat sebagai panduan otentik bagi siapa saja yang ingin bekerja di luar negeri dan tentunya melalui BMI Formal (bekerja di perusahaan/lembaga) maupun BMI Nonformal (bekerja di lingkup domestik/rumah-tangga).

"Misi yang mengusung gerakan edukasi berpikir kritis-kreatif dan terapi melalui pena untuk BMI inilah yang ingin kami wujudkan bagi calon-calon BMI yang ingin berkerja di luar negeri," ujar perempuan yang menjabat sebagai Managing Partner ICLaw itu.

Sementara itu Ketua Pelaksana Lomba Karya Tulis BMI Naning Pranoto menambahkan lomba karya tulis itu dibuka mulai 1 April hingga 1 Juli 2017 dengan peserta berasal dari BMI Formal  maupun BMI Nonformal.

Peserta lomba yang turut serta banyak berkisah tentang pengalaman kerja mereka di wilayah Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Riyadh, Belanda, Dubai, Australia, Amerika, dan Selandia Baru.

"Para peserta sangat antusias hal ini terbukti dari banyaknya jumlah naskah yang kami terima. Naskah yang masuk diseleksi oleh Dewan Juri menjadi 24 Karya Unggulan. Kemudian dari 24 Karya Unggulan tersebut dipilih tiga," kata Naning.

Naning menjelaskan untuk penilaian karya tulis mengacu pada isi dan bobot (makna) tulisan, retorika dan bahasa, struktur kalimat, format tulisan, dan panjang tulisan sesuai ketentuan lomba.

"Jadi sekitar 70 persen dari peserta lomba menulis kisahnya lebih dari 10 halaman (maksimal ketentuan). Bahkan ada yang panjangnya hingga 27 halaman. Meskipun demikian kisah panjang yang isi dan bobotnya berhikmah serta menginspirasi pembaca, oleh dewan juri dimasukkan dalam karya unggulan," katanya.

Untuk karya-karya tersebut akan disunting  oleh editor dan dimuat menjadi bagian dari isi buku yang  diterbitkan.

Kemudian nantinya akan dijadikan sebagai bahan informasi kepada masyarakat luas sehingga bisa menumbuhkan minat menulis dan menyuburkan perkembangan gerakan literasi bagi BMI di mana pun berada.

Dalam rapat dewan juri yang diketuai Naning Pranoto dengan anggota Adri Darmaji Woko, Didien Pradoto, Shinta Miranda, Yeni Fatmawati Fahmi Idris, dan Yeni Mulati Achmad (Afifa Afra) memutuskan karya tulis yang menjadi pemenang.

Pemenang pertama yakni karya tulis dengan Judul Minoritas Pangkat Tiga karya Erin Cipta asal Cilacap Jawa Tengah yang pernah bekerja sebagai perawat lansia di Taiwan pada 2012-2015. Pemenang berhak mendapat hadiah uang tunai Rp5 juta plus piagam penghargaan ICLaw Golden Pen Award dan buku hasil lomba.

Selanjutnya pemenang kedua karya dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang Bagi BMI di Negeri Ginseng karya Hasan Sanusi yang kini bekerja dan kuliah di UT Korea Selatan. Atas karya ciptanya Sanusi meraih uang tunai Rp3,5 juga piagam penghargaan ICLaw Golden Pen Award dan buku hasil lomba.

Sedangkan pemenang ketiga karya berjudul Kisah tentang Meramu Kepercayaan karya Etik Purwani asal Blitar Jawa Timur. Pengalaman bekerja di Singapura dan Hong Kong membuatnya mendapatkan hadiah uang tunai Rp2,5 juga piagam penghargaan ICLaw Golden Pen Award dan buku hasil lomba.

Karya tulis yang terpilih sebagai 22 karya unggulan, masing-masing mendapat piagam penghargaan ICLaw Golden Pen Award dan buku hasil lomba.(*)

Editor: Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0102 seconds memory usage: 0.61 MB