Jumat, 28 Juli 2017

30 Ha Tembakau Probolinggo Terserang Virus Phytopthora

id tanaman tembakau, terserang penyakit keriting, dkpp probolinggo
30 Ha Tembakau Probolinggo Terserang Virus  Phytopthora
DKPP Probolinggo bersama petani melakukan pengendalian penyakit keriting atau virus phytopthora pada tanaman tembakau (Foto Kominfo Pemkab Probolinggo)
Oleh karena itu, tanaman tembakau yang terserang penyakit keriting harus dicabut dan dikubur, sebagai upaya untuk mencegah agar tidak menyebar kepada tanaman tembakau yang masih sehat.
Probolinggo (Antara Jatim) - Sebanyak 30 hektare tembakau terserang penyakit keriting (penyakit ker-ker) atau terkena virus phytopthora di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

"Luas tanaman tembakau hingga minggu pertama Juli 2017 mencapai sekitar 16.900 hektare, namun yang terkena penyakit ker-ker tidak lebih dari 5 persen atau sekitar 30 hektare yang tersebar di beberapa desa di tujuh kecamatan wilayah potensi tembakau di Probolinggo," kata Kasi Perlindungan Tanaman Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Suparman di Probolinggo, Senin.

Menurutnya pihak DKPP bersama petani sedang melakukan pengendalian dan penanganan tanaman tembakau yang terkena virus phytopthora, meskipun virus itu hanya menyerang beberapa tanaman saja dalam satu hektarenya.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bahwa musim tanam tembakau bisa dimulai minggu kedua Mei 2017 karena musim kemarau terjadi pada waktu tersebut.

"Sebagian petani sudah ada yang menanam pada bulan Mei tersebut, namun dalam perjalanan pemeliharaan tanaman tembakau masih turun hujan hingga beberapa kali, sehingga tidak sedikit tanaman mati atau layu karena hujan dan yang bertahan hidup pada akhirnya terkena virus phytopthora," tuturnya.

Ia menjelaskan penyakit keriting itu disebabkan karena cuaca yang kurang mendukung, sehingga tanaman yang terserang virus phytopthora memang tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, bahkan menjadi sumber virus pada tanaman yang sehat. 

"Oleh karena itu, tanaman tembakau yang terserang penyakit keriting harus dicabut dan dikubur, sebagai upaya untuk mencegah agar tidak menyebar kepada tanaman tembakau yang masih sehat," katanya.

Menurutnya virus phytopthora hingga saat ini belum ada obatnya, sehingga agar tidak menular kepada yang sehat, satu-satunya cara hanya dengan dicabut, sedangkan untuk pengendalian agar tidak terserang penyakit ker-ker itu bisa dilakukan dengan penyemprotan trichoderma.

"Trichoderma merupakan jenis jamur antagonis yang bisa mengendalikan penyakit yang ditimbulkan oleh jamur yang lain," ujarnya.

Serangan virus phytopthora juga sudah dikendalikan oleh petani dengan cara tanaman yang terserang dicabut dan diganti dengan tanaman yang baru dan menambah abu dapur pada bekas tanah yang terserang virus.

"Kami berharap kepada petani untuk dapat menyikapi dengan membuat saluran drainase sehingga selain bisa menekan terjadinya serangan virus juga menghindari tanaman mati dan kebanjiran dengan situasi masih turunnya hujan di Probolinggo," katanya.

Biasanya tanaman tembakau yang terserang penyakit ker-ker adalah tanaman berumur 2 hingga 3 minggu setelah tanam, sehingga harus diwaspadai.

Selain faktor cuaca, lanjutnya, hal lain yang dapat mengganggu tanaman tembakau bagi petani adalah vektor (serangga) atau pembawa virus berupa trip/majjuz atau sebangsa kutu-kutuan yang berfungsi sebagai pengisap dari tanaman yang terserang pindah ke tanaman yang sehat. 

"Kalau ini bisa dikendalikan dengan pestisida nabati, namun bila situasinya sudah tidak memungkinkan, maka bisa menggunakan pestisida kimia yang sistanik untuk mengendalikan serangga pengganggu tanaman tembakau itu," katanya.(*)

Editor: Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0087 seconds memory usage: 0.6 MB