Kamis, 23 November 2017

Program Penanggulangan Kemiskinan Trenggalek Raih "Wow Service Excellence"

id GERTAK, emil, trenggalek, kemiskinan, destyan, antara
Program Penanggulangan Kemiskinan Trenggalek Raih
Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak(kanan) menerima penghargaan Wow Service Excellence dari Pimpinan Konsultan Pemasaran "Mark Plus" di Surabaya, Selasa (11/7). (Istimewa - Foto Humas Pemkab Trenggalek for Antara Jatim)
"Kalau kita sering dengar pelayanan terpadu satu pintu bagi investor, kini ada pelayanan terpadu bagi warga miskin. Tidak perlu diping-pong ke sana-sini karena setiap unit kerja punya perwakilan yang berkantor di Posko GERTAK. Bahkan pundi kepedulian komunitas dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Trenggalek turut menjadi bagian dari Posko GERTAK ini," kata Emil.
Trenggalek (Antara Jatim) - Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur meraih penghargaan prestisius "Wow Service Excellence" dari konsultan pemasaran terkemuka "Mark Plus" besutan pakar marketing Hermawan kertajaya, atas program layanan penanggulangan masalah kemiskinan GERTAK (Gerakan Tengok Bawah Masalah Kemiskinan).

Bagian Humas Pemkab Trenggalek dalam siaran pers yang diterima Antara, Senin, memaparkan bahwa penyerahan penghargaan dilakukan di Surabaya pada 11 Juli 2017.

"Istilah GERTAK muncul saat rembug dengan mas Wakil Bupati, karena kita butuh gebrakan dalam mengatasi kemiskinan di Trenggalek dan ini adalah masalah jiwa bukan hanya materi. Dengan nama yang tegas, harapannya ada semangat dalam memberantas kemiskinan," kata Bupati Trenggalek Emil Dardak saat tampil di diskusi publik WOW Service Excellence di Surabaya, seperti diulas dalam "web" atau laman resmi Humas Pemkab Trenggalek.

Dengan mengedepankan istilah tengok bawah, lanjut Emil, diharapkan semangat gotong-royong bisa terwujud karena warga miskin tidak hanya melihat ke atas kepada warga yang lebih mampu, tapi juga bisa bersyukur karena ada warga lain yang mungkin kurang mampu.

Melalui musyawarah desa, kata dia, maka secara kolektif seluruh warga akan berupaya bersama-sama untuk menolong mereka yang kurang beruntung.

Posko GERTAK didirikan untuk menindaklanjuti hasil musyawarah desa.

"Kalau kita sering dengar pelayanan terpadu satu pintu bagi investor, kini ada pelayanan terpadu bagi warga miskin. Tidak perlu diping-pong ke sana-sini karena setiap unit kerja punya perwakilan yang berkantor di Posko GERTAK. Bahkan pundi kepedulian komunitas dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Trenggalek turut menjadi bagian dari Posko GERTAK ini," ujar Emil.

Ia secara khusus menyampaikan apresiasi tinggi terhadap Wabup Mochammad Nur Arifin karena menempatkan Posko GERTAK di halaman rumah dinasnya di Jalan Sunan Kalijaga Nomor 11 Trenggalek.

Sejak ada Posko GERTAK, kata Emil, warga miskin di Trenggalek tidak perlu susah-susah kalau mau berobat atau mengakses program pemberdayaan ekonomi.

Menurut penjelasannya, posko yang dirancang "high-tech" itu mampu mendukung verifikasi data kemiskinan dengan cepat, dan memberi dukungan secara sigap karena lengkapnya keterwakilan instansi dan lembaga yang berkompeten.

Bupati Emil mengharapkan jika warga miskin sudah tidak kesulitan berobat dan sekolah, maka mereka bisa lebih fokus dalam ihtiar memperbaiki kondisi ekonomi mereka termasuk melalui program pemberdayaan dari pemerintah.

Program GERTAK telah banyak mendapat pujian dan apresiasi dari berbagai pihak, salah satunya Meteri Sosial Khofifah Inda Parawansa.

Melalui Program GERTAK, Pemkab Trenggalek mengajak seluruh stakeholder untuk "melihat ke bawah", mengetahui dan merasakan kondisi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan kemudian bersama-sama mencarikan solusi masalah sosial masyarakat khususnya kemiskinan.

Badan Amil Zakat Pemda Trenggalek, misalnya, setiap bulannya terkumpul Rp400 juta dari pegawai pemkab ditambah dana CSR dari berbagai lembaga dan perusahaan swasta, maka proses penanganan PMKS akan cepat tertangani.

Dalam GERTAK warga tidak hanya memiliki wadah resmi untuk bersedekah barang ataupun uang, tapi bisa juga dalam bentuk informasi atau infaq informasi.

Sehingga, ketika warga tidak punya uang untuk membantu orang miskin, minimal mereka berkesempatan membantu menyampaikan informasi apabila di suatu tempat atau lingkungannya menemukan ada orang terlantar, ada orang kurang gizi, atau sakit dan memerlukan layanan kesehatan maupun hal-hal lainnya. (*)

Editor: Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.193 seconds memory usage: 0.6 MB