Ikhtiar Pemerintah Hadang "Bughot"

id perppu, HTI, bughot, ansor, ormas, khilafah

Ikhtiar Pemerintah Hadang

H Rizza Ali Faizin (penulis/IST)

Di satu sisi, pelarangan memang bukan pilihan yang efektif dan harus berani menelan pil pahit dibenci warga Negara sendiri, namun pada sisi yang lain, penerbitan peraturan ini juga agar Indonesia tidak menjadi Negara yang sakit akibat dari penggulingan konstitusi yang tak sesuai dengan kebhinnekaan (kemajemukan/pluralitas) bangsa
Indonesia sebagai Negara Kesatuan merupakan realitas yang tak lagi bisa dikompromikan dan diperdebatkan, karena bentuk Negara ini telah final melalui kesepakatan antara elemen bangsa yang terdiri dari berbagai representasi kesukuan, agama dan golongan.

Upaya meruntuhkan Negara kesatuan, sama halnya dengan menghianati para pendiri bangsa yang telah bertaruh nyawa dan darah untuk merebut kemerdekaan. Jangankan menggantinya dengan bentuk Negara lain, fakta sejarahpun menunjukkan "pemberontakan" bahwa konstitusi Negara pasca kemerdekaan tahun 1949-1950 melalui bentuk federal pun terbukti tak cocok tumbuh di Nusantara. Jadi, saat ini dan saat yang akan datang, hanya ada satu seruan pertahanan: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Titik


Dewasa ini, suhu politik bangsa Indonesia benar-benar terkuras oleh ulah segelintir kelompok masyarakat yang menginginkan perubahan bentuk Negara. Adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang di negara kelahirannya Palestina menjadi organisasi terlarang, ingin melakukan "perlawanan hukum" sebagai akibat sikap pemerintah yang dengan tegas membubarkan organisasi trans-nasional ini.


Alasan mendasarnya, karena organisasi politik ini menyerukan satu bentuk Negara Khilafah agar diterapkan di Indonesia. Alasan teologispun menjadi sandaran organisasi politik itu bahwa ikhtiar ini (khilafah) dalam rangka menegakkan agama Tuhan. Maka, penolakan padanya langsung dicapnya sebagai penindas dan penghalang agama dakwah Islam. Padahal, penegakan syariah dan kepentingan khilafah (politis) merupakan dua hal yang berbeda.

Antara Dakwah dan "Bughot"

Dalam tradisi Islam, konsep Khilafah merupakan salah satu diskursus yang terdapat dalam kajian fiqh. Karena termasuk dalam bidang fiqh, maka ide tentang khilafah merupakan ranah pemikiran (ijtihadi), bukan sesuatu yang nilai perjuangannya sama dengan mempertahankan keyakinan/akidah.


Karena konsep kepemimpinan (imamah) yang menjadi aspek terpenting


dalam khilafah bersegmentasi sebagaimana hukum islam yang ijtihadi,


yaitu sangat kental pertimbangan temporal dan kondisional, maka apapun


bentuk negaranya, republik, kekaisaran, kerajaan atau federal, asalkan


menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, persamaan di mata hukum,


kesamaan derajat dan kebebasan melaksanakan ibadah semua agama, akan


merupakan hal yang dilegitimasi oleh Islam sebagaimana kaidah yang


menyatakan bahwa ukuran seorang pemimpin Negara/masyarakat adalah jika


membawa kebaikan publik (maslahah ammah).

Kekhalifahan yang selama ini diusung oleh HTI dan beberapa


organisasi trans-nasional yang lain, berkeinginan untuk menyatukan umat


Islam seluruh dalam naungan satu kepemimpinan (imam). Tentu saja,


cita-cita ini sangat delutif dan bersifat inkonstitusional jika


dihadapkan pada Negara. Ikhtiar mendirikan khilafah bukan masuk dalam


ranah dakwah, karena telah merangsek pada gerakan politik, sehingga


mendirikan khilafah di tengah-tengah Negara yang telah berdaulat,


merupakan satu bentuk upaya pemberontakan (bughot) atau makar pada


pemerintahan yang sah.

Dalam diskursus kajian hukum Islam, upaya "bughot" (makar)


merupakan hal yang sangat dikecam, baik secara syar`i maupun konstitusi,


sehingga bukan hal yang aneh jika keberadaan Hizbut Tahrir ditolak oleh


sekitar 20 negara di dunia, termasuk Negara dimana ia didirikan,


Palestina.

Untuk itu, respons kalangan aktivis HTI yang mengecam pemerintah


menghalangi dakwah Islam merupakan anggapan yang keliru, bahkan salah


sasaran. Karena, sikap pemerintah yang membubarkan HTI merupakan sikap


politik untuk menghadang gerakan politik yang mengancam eksistensi


kedaulatan sebuah Negara. Masak, ada "negara dalam negara" hanya


dibiarkan saja?!.

Dalam media virtual resminya, sudah sangat jelas bahwa HTI


menyatakan bahwa organisasinya bukan organisasi dakwah, organisasi


sosial atau lembaga pendidikan, namun HTI secara tegas menyatakan diri


sebagai organisasi politik. Realitas ini sangat masuk akal karena jamak


dalam kajian, demonstrasi dan selebaran-selebaran yang dikeluarkan


secara resmi oleh organisasi ini, menuduh pemerintah sebagai "penguasa


setan" (thogut),kafir, serta pengharaman demokrasi. Walaupun sangat


lucu, mengharamkan demokrasi, namun hidup di Negara demokratis. Dan,


ketika dilarang, malah mengeluarkan umpatan-umpatan dengan tuduhan


pemerintah bersikap zalim dan arogan. Sebuah organisasi yang genit


sekaligus lucu.

Perppu sebagai Payung Kedaulatan

Akhirnya, pemerintah melalui Menko Polhukam Wiranto menerbitkan


Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun


2017. Perppu ini sengata diterbitkan untuk mengganti Undang Undang Nomor


17 Tahun 2013 tentang organsasi Kemasyarakatan.

Dalam UU sebelumnya, pemerintah tidak bisa menindak secara tegas


sehingga penerbitan perppu merupakan upaya eksekutif untuk menindak


seklaligus menertibkan ormas-ormas yang alergi terhadap NKRI dan


Pancasila sebagai pilar kebangsaan di Indonesia.

Sejatinya, Perppu ini digunakan sebagai upaya pemerintah untuk


melakukan pemberdayaan dan pembinaan kepada ormas agar kegiatan-kegiatan


yang dilaksanakan tidak kontra produktif terhadap Pancasila dan UUD


1945. Karena, UU Nomor 17 Tahun 2013 yang sebelumnya berlaku tidak


memadai untuk mencegah ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.

Dalam Perppu yang baru diterbitkan itu, negara mengatur tentang


sanksi bagi ormas anti-Pancasila yang terdiri dari tiga tahapan teknis.


Tepatnya, pasal 61 Perppu Ormas mengatur sanksi administratif dengan


tahapan peringatan tertulis, penghentian kegiatan dan/atau pencabutan


surat keterangan terdaftar atau pencabutan status badan hukum.

Di satu sisi, pelarangan memang bukan pilihan yang efektif dan


harus berani menelan pil pahit dibenci warga Negara sendiri, namun pada


sisi yang lain, penerbitan peraturan ini juga agar Indonesia tidak


menjadi Negara yang sakit akibat dari penggulingan konstitusi yang tak


sesuai dengan kebhinnekaan (kemajemukan/pluralitas) bangsa.

Walhasil, ikhtiar menelan "pil pahit" menjadi sebuah pilihan


pemerintah agar bangsa Indonesia tetap menjadi Negara yang sehat dan


terhindar dari penyakit disintegrasi dan konflik horizontal sebagaimana


yang terjadi di Negara-negara Timur Tengah. Jadi, Perppu itu justru


merawat persatuan dan kesatuan Indonesia dalam bingkai Negara kesatuan.


(*)

-------------

*) Penulis adalah Ketua GP Ansor Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dan alumni aktivis PW IPNU Jawa Timur.

Pewarta :
Editor: Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar