Selasa, 17 Oktober 2017

Diperindag Madiun Temukan Mi tanpa Label Halal

id Mi Tanpa Label Halal, Diperidag Madiun, mi asal korea, mi asal korsel
Diperindag Madiun Temukan Mi tanpa Label Halal
Petuas Dinas Perdagangan Kota Madiun saat meminta pengelola Hypermart Madiun untuk menarik mi instan impor Korea Selatan yang tidak ada label halal dari MUI dalam raazia makanan dan minuman di Kota Madiun, Senin (19/6). (Foto : Dinas Kominfo Kota Madiun)
Madiun (Antara Jatim) - Dinas Perdagangan Kota Madiun, Jawa Timur, menemukan mi instan produk impor asal Korea Selatan tidak berlabel halal dalam kegiatan razia makanan dan minuman yang digelar di sejumlah toko swalayan di daerah setempat, Senin.
     
Kepala Bidang Perdagangan, Disperindag Kota Madiun Harum Kusumawati mengatakan produk mi instan kemasan merek "Shin Ramyun" tersebut ditemukan saat petugas gabungan melakukan razia di Hypermart di Jalan Pahlawan Madiun. Pihaknya langsung meminta pengelola untuk menarik produk tersebut karena ditakutkan mengandung lemak babi.
     
"Atas temuan tersebut, kami meminta pengelola untuk menarik. Sebab produk mi tersebut sempat menjadi polemik di BPOM," ujar Harum kepada wartawan.
     
Menurut dia, BPOM telah menyatakan bahwa ada empat jenis produk mi dari Korea Selatan yang dilarang edar karena mengandung lemak babi. Keempat peoduk tersebut adalah, Samyang (mi instan U-Dong), Samyang (mi instan rasa Kimchi), Nongshim (mi instan Shin Ramyun Black), dan Ottogi (mie instan Yeul Ramen). 
     
"Sesuai edaran dari BPOM, keempat produk tersebut agar ditarik karena mengandung lemak babi, produknya Korea Selatan. Disini kebetulan tidak ada. Hanya, kami temukan mi Shin Ramyun, ini tidak masuk dalam kategori yang dilarang BPOM, tapi tidak ada label halalnya. Daripada ragu-ragu, lebih baik ditarik sekalian," kata dia.
     
Menanggapi hal itu, Divisi Manajer Hypermart Madiun, Achmad Hidayatur mengatakan sesuai imbaun BPOM, mi Samyang yang positif mengandung lemak babi sudah ditarik sejak seminggu yang lalu.
     
"Terkait temuan petugas saat razia tentang mi Shin Ramyun yang tidak  berlabel halal MUI, kami akan menindaklanjutinya," kata Achmad.
     
Perwakilan UPT Perlindungan Konsumen di Kediri, Sentot Susilo mengatakan, mi instan Shin Ramyun tersebut sementara memang harus ditarik dari peredaran sampai proses izin atas label halal MUI terpenuhi.
     
"Mi Shin Ramyun itu masih dalam proses izin label halal. Demi keamanan, harus ditarik karena belum ada izinnya," ungkap Sentot.
     
Selain menemukan produk mi tanpa label halal MUI, tim gabungannya juga menemnukan produk makanan dan minuman rusak. Bahkan petugas masih menemukan buah yang busuk dan berjamir yang masih dipajang di etalase untuk dijual.
     
"Atas temuan-temuan tersebut, kami langsung meminta untuk menariknya karena jika dikonsumsi dapat membahayakan kesehataan konsumen," kata Sentot. 
     
Sementara Harum menambahkan, razia makanan dan minuman tersebut dilakukan guna memantau kestabilan harga serta pasokan barang di pasaran. Selain itu juga untuk mengantisipasi peredaran makanan dan minuman tidak layak edar karena haram, rusak, kedaluwarsa, dan alasan lain.
     
Adapun razia akan dilakukan selama empat hari, mulai tanggal 19 hingga 22 Juni 2017. Sedangkan ssarannya adalah sejumlah toko modren dan toko swalayan yang ad di Kota Madiun.
     
Petugas meminta masyarakat berhati-hati saat mengonsumsi makanan dan minuman olahan. Sebab, momentum lebaran yang identik dengan tingginya konsumsi bahan pangan, sering disalahgunakan oknum untuk mencari keuntungan dengan cara yang salah. (*)

Editor: Masuki M. Astro


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0083 seconds memory usage: 0.58 MB