Kamis, 17 Agustus 2017

Penyaluran Rastra Bulog Jatim Capai 82 Persen

id Bulog Jatim, Penyaluran Rastra
 Penyaluran Rastra Bulog Jatim Capai 82 Persen
Gubernur Jawa Timur Soekarwo bersama dengan forum komunikasi pimpinan daerah Provinsi Jawa Timur memberangkatkan truk bulog untuk menstabilkan harga bahan pangan ke berbagai daerah. Jumat (26/5) (indra)
Sidoarjo (Antara Jatim) - Badan Urusan Logistik Divisi Regional Jawa Timur hingga bulan Juni 2017 telah menyalurkan sebanyak 182.325.901 ton atau sekitar 82 persen beras sejahtera (rastra) dari total pagu sebanyak 246.836.970 ton untuk penyaluran selama enam bulan.

Kepala Bulog Divre Jawa Timur Usep Karyana, Senin mengatakan, tahun ini penyaluran beras rastra dimulai sejak bulan April 2017 untuk alokasi sejak bulan Januari.

"Penyaluran tahun ini memang mengalami beberapa kendala hingga terjadi keterlambatan, antara lain penentuan pagu rastra dari pemerintah pusa," ujarnya saat temu media di Sidoarjo, Jawa Timur.

Ia mengemukakan, keterlambatan penentuan pagu tersebut akan berimbas pada keterlambatan pengajuan surat perintah alokasi (SPA) dari masing-masing pemerintah daerah kepada bulog.

"Untuk mengatasinya, bulog dibantu dengan pemerintah daerah telah melakukan percepatan penyaluran rastra sampai bulan Juni 2017 sehingga saat telah terselesaikan seluruhnya untuk alokasi enam bulan sejak Januari sampai dengan Juni 2017 di seluruh Jawa Timur," ujarnya.

Ia mengatakan, dengan adanya percepatan ini saat memasuki bulan Juli usai momentum Idul Fitri, penyaluran rastra bisa kembali normal dilakukan setiap bulannya.

"Percepatan penyaluran ini juga sebagai usaha menekan angka inflasi akibat 'volatile food' yang rawan terjadi menjelang Idul Fitri. Dengan dilakukannya penyaluran hingga Juni 2017, maka diharapkan harga pokok terutama beras tetap terjaga stabil seperti sekarang ini," ujarnya.

Ia menambahkan, untuk menjaga kestabilan harga kebutuhan bahan pokok, pihaknya sudah melakukan beberapa langkah seperti memaksimalkan funsi dari rumah pangan kita (RPK) dan juga toko binaan bulog yang ada di masing-masing pasar tradisional.

"Sehingga nantinya, stabilisasi harga bisa ditekan dengan dikendalikan melalui keberadaan RPK dan juga toko binaan ini. Hal ini karena selama ini, setiap kali melakukan stabilisasi harga pangan, bulog lebih banyak mengandalkan kegiatan operasi pasar," ujarnya.(*)

Editor: Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0078 seconds memory usage: 0.58 MB