Lima SMP di Tulungagung Buka Kelas Khusus

id PPDB, penerimaan siswa baru, kelas khusus

Lima SMP di Tulungagung Buka Kelas Khusus

Ribuan seniman cilik menari reog kendang secara masal di halaman GOR Lembu Peteng, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis (12/11/15). Antara Jatim/Foto/Destyan Sujarwoko/15 ()

"Kelas khusus ini berbeda dengan jalur kompetensi. Tujuan dari pembukaan kelas ini adalah untuk melestarikan seni budaya daerah," kata Suharno menanggapi pertanyaan wartawan.
Tulungagung (Antara Jatim) - Sedikitnya lima lembaga SMP negeri di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur
masing-masing membuka kelas khusus untuk siswa yang memiliki bakat dan
talenta di bidang seni budaya daerah.


Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tulungagung
Suharno mengatakan kelas khusus dibuka untuk memandu bakat berkesenian
calon peserta didik, terutama di bidang seni budaya daerah.


"Kelas khusus ini berbeda dengan jalur kompetensi. Tujuan dari
pembukaan kelas ini adalah untuk melestarikan seni budaya daerah," kata
Suharno menanggapi pertanyaan wartawan di Tulungagung, Senin.


Ia mengatakan, kelas khusus telah diuji coba di dua lembaga SMP
negeri setempat, yakni di SMPN 2 Tulungagung dan SMPN 1 Ngunut.


Dan hasilnya, Suharno mengklaim program kelas khusus efektif dan
bahkan bisa dibilang berhasil karena beberapa kali mewakili Tulungagung
dalam perlombaan maupun kegiatan penting tingkat Jatim.


"Tahun ini coba dikembangkan ke tiga sekolah lain," ujarnya.


Tiga SMP negeri yang berencana mengadopsi program serupa
masing-masing adalah SMPN 1 Tulungagung, SMPN 3 Tulungagung dan SMPN 1
Kauman.


Ditegaskannya, kelas khusus yang sudah berjalan dan akan terus
dipertahankan mewadahi bakat dan minat di bidang kesenian tradisional.


"Pengajuan sudah disampaikan dan akan kami verifikasi secepatnya agar program bisa dimulai," ucap Suharno.


Senada, Sekretaris Dikpora Tulungagung Hariyo Dewanto mengatakan kelas khusus untuk mengawal prestasi siswa saat masih SD.


Kelas khusus ini kegiatannya akan berbeda dengan kelas reguler,
misalnya, mereka sering meninggalkan sekolah untuk melaksanakan kegiatan
mereka.


"Makanya mereka perlu dikumpulkan di kelas yang sama, agar tidak
memicu rasa iri siswa yang lain. Saat para siswa di kelas khusus ini
tidak masuk sekolah, yang lain bisa memahaminya," kata Yoyok.


Dijelaskan, kelas khusus menjadi tanggung jawab pihak sekolah,
terutama menyangkut harus penyediaan guru pengajar, sampai fasilitas
untuk peserta didik dengan bakat khusus ini.


Hal itu termasuk mengganti jam pelajaran, saat para siswa ada kegiatan di luar sekolah.


"Kalau kurikulumnya sebenarnya sama dengan kelas reguler. Tapi
waktunya fleksibel, dan guru yang memastikan anak-anak ini tetap
mendapat pelajaran," ujarnya.


Dikonfirmasi terpisah, Kepala SMPN 2 Tulungagung Eko Purnomo
mengatakan, kelas khusus di di tempatnya memang diperuntukkan hanya
untuk siswa dengan bakat seni tradisional.


Dikatakannya, proses penerimaan siswa kelas khusus mealui seleksi piagam penghargaan serta tes praktik.


Sebab, kata dia, setiap calon peserta didik tidak diambil dari
peserta tes akademik, melainkan dari ujian praktik kemampuan seni budaya
daerah.


Dari seleksi peserta didik kelas khusus ini akan meliputi banyak
keahlian, misal pedalang, keahlian bermain per alat musik tradisional,
hingga menari dan menyanyi (sinden).


"Kalau jalur prestasi penjaringannya kan prestasi akademik dan
nonakademik. Nonakademik biasanya olahraga, tidak menjurus pada seni
tradisional," tutur Eko.


Hasil dari kelas khusus ini pun sudah bisa dirasakan. SMPN 2
Tulungagung kini mempunyai grup seni tradisional yang bisa dipentaskan
sewaktu-waktu, misalnya, seni jaranan maupun reog kendang yang populer
di Tulungagung.(*)
Pewarta :
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar