Sabtu, 16 Desember 2017

Wanala Unair Capai Puncak Gunung Denali Alaska

id Wanala unair, gunung denali, tim aidex, pendaki unair, pecinta alam unair
Wanala Unair Capai Puncak Gunung Denali Alaska
Tim Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDeX) dari Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Airlangga (Unair) Surabaya di puncak gunung tertinggi di Amerika Utara yakni Gunung Denali di Alaska Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)
"Dalam perjalanan menuju puncak, dua anggota tim terkena serangan "Frost Bite", penyakit yang menyerang para pendaki gunung es dimana terdapat radang pada bagian anggota tubuh seperti hidung, telinga, pipi, jari kaki dan tangan," kata Wahyu.
Surabaya (Antara Jatim) -  Tim Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDeX) dari Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berhasil mencapai puncak Gunung Denali di Alaska, Amerika Serikat Kamis (15/6) pukul 14.05 WIB atau pukul 23.05 waktu Alaska.

Tiga anggota Wanala Unair itu antara lain, Mochamad Roby Yahya mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan, Muhammad Faishal Tamimi Fakultas Vokasi dan Yasak alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Manajer Tim Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDex) 2017 Wahyu Nur Wahid di Surabaya, Minggu mengatakan ketiga anggota Wanala mencapai puncak dengan susah payah.

"Dalam perjalanan menuju puncak, dua anggota tim terkena serangan "Frost Bite", penyakit yang menyerang para pendaki gunung es dimana terdapat radang pada bagian anggota tubuh seperti hidung, telinga, pipi, jari kaki dan tangan," kata Wahyu.

Wahyu menjelaskan salah satu anggota yakni Roby terkena "Frost Bite" pada bagian pipi, namun yang paling parah adalah bagian tangan yang sudah berwarna hitam di jari kiri satu dan kanan dua. Sedangkan Yasak menerima "Frost Bite" pada pada pipi dan yang parah pada jari kiri dua dan kanan tiga, namun tangan Yasak yang dapat difungsikan hanya jari telunjuk keduanya.

Wahyu mengatakan, Faishal yang menunggu kedatangan Roby dan Yasak di kamp lima cukup shock melihat kondisi rekannya tersebut. Dengan sigap Faishal menyalakan api dengan nyala yang cukup besar, mengambil gergaji es, dan segera memotong es balok di bawah tenda kerucut yang digunakan untuk memasak.

Dalam waktu 15-20 menit es itu mencair, Faishal kemudian mengambil handuk dan memasukkan handuk itu pada air mendidih. Air itu mendidih namun karena suhu yang sudah minus tak terasa panasnya air itu, segera dikompreskan pada jari Roby dan Yasak.

"Mata Faishal mulai berkaca-kaca melihaat kondisi kedua rekannya, tidak hanya rekan, namun sudah dianggap sebagai keluarganya," kata dia.

Pada malam harinya, Roby dan Yasak sempat berkomunikasi dengan dirinya yang ada di Surabaya. Lima menit komunikasi yang terjadi, namun mendengar kabar mereka, tim di Surabaya langsung sujud syukur tak terkira dengan air mata yang sudah tidak bisa terbendung.

"Di ruang sekretariat Wanala di Kampus Unair di Surabaya, para anggota berkumpul memanjatkan istighosah, Surah Yasin dan doa supaya tim dapat kembali dengan selamat," ucapnya.

Wahyu menjelaskan, pada Jumat (16/6) waktu Indonesia, tim bergerak menuju kamp empat. Komunikasinya tim akan langsung turun menuju kamp tiga pada ketinggian 11.200 kaki atau 3.413 kaki. Namun berdasarkan pengamatan GPS (Global Positioning System), tim AIDeX berada di kamp empat.

"Yasak dan Roby kemudian menuju pos kesehatan yang disediakan oleh National Park Services (NPS), hasil pemeriksaan tim medis bahwa mereka berdua harus segera di evakuasi, karena "frost bite"-nya sudah cukup parah," tutur Wahyu.

Keesokan harinya, Sabtu (17/6)  pukul 11.01 WIB Yasak dan Roby dievakuasi menggunakan heli menuju Basecamp terlebih dahulu dan dilanjutkan menuju Talkeetna (kota terdekat dari Denali National Park).

Di Talkeetna mereka langsung disambut dengan ambulans dan dilarikan ke Rumah Sakit. Namun  hari sudah berganti, dokter tidak ada di tempat, hanya bidan yang tersedia dan menyarankan untuk selalu menghangatkan jari jangan sampai merasa kedinginan dan tidak lupa untuk terus membersihkan. Akhirnnya tim kembali ke penginapan dan disuruh untuk ke Rumah Sakit pada hari Senin ini.

Wahyu mengungkapkan, para mahasiswa pencinta alam Wanala Unair mulai dari 0 untuk mewujudkan mimpi mengibarkan bendera almamater dan sang saka Merah Putih di Denali. Mengorbankan waktu kuliah, tenaga, sahabat, bahkan keluarga selama 20 bulan mulai dari Oktober 2015 lalu demi 1 bulan ini dari 16 Mei 2017 hingga 26 Juni 2017.

"Pemuda harus bisa membawa bangga keluarga, almamater dan bangsa. Pemuda harus bisa berkreasi," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Unair Prof Djoko Santoso, mewakili rektor memberikan apresiasinya kepada tim atlet dan manajemen yang  sudah berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya dalam menggapai salah satu gunung tertinggi di dunia.

Menurut Djoko, hasil perjuangan yang membanggakan tersebut tak lepas dari keberanian para mahasiswa Unair, khususnya Tim AIDeX untuk memasang target yang tinggi.

"Kami memberikan apresiasi yang luar biasa atas daya juangnya dalam mengharumkan nama Unair sekaligus Indonesia. Perjuangan mereka selama mempersiapkan hingga pendakian membuat mereka layak menjadi contoh bagi generasi yang akan datang," tutur Djoko.(*)

Editor: Tunggul Susilo


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0093 seconds memory usage: 0.6 MB