Melawan Trauma Berkawan Bencana

id longsor, longsor ponorogo, bencana banaran, ponorogo, bencana
Melawan Trauma Berkawan Bencana
Nenek Sipon (tengah) menaiki kendaraan evakuasi jenis jeep wilis untuk segala medan, bersama sejumlah pengungsi lain saat terjadi longsor susulan di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur, Minggu (9/4) (Destyan Sujarwoko)
"Supaya kami bisa mulai hidup normal kembali dan beraktivitas seperti sedia kala. Kami tak bisa terus-terusan mengandalkan bantuan masyarakat," kata Gito, pengungsi di rumah Kades Sarnu.
Longsor besar yang melanda bumi (desa) Banaran tak membuat warga yang bermukim di kaki gugusan Gunung Wilis di Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur itu lantas eksodus. Mereka memilih bertahan meski harus hidup di bawah bayang-bayang bencana.

Trauma belum sepenuhnya hilang dari wajah-wajah penduduk Desa Banaran, terutama warga yang bermukim di Dusun Tangkil dan Krajan yang rumahnya berjarak sangat dekat dengan area terdampak longsor.

Setiap kali ada bunyi kentongan bertalu, atau teriakan warga dan petugas dari atas, mereka sontak tergopoh mencari tempat aman.

Kepanikan tak jarang masih terjadi, terutama dirasakan oleh kelompok ibu-ibu yang membawa anak kecil serta orang tua lanjut usia atau lansia.

Suasana mencekam pascalongsor besar yang mengubur hidup-hidup 28 warga Dusun Tangkil dan sebagian Dusun Krajan pada Sabtu (1/4), itu jelas tergambar saat terjadi longsor susulan sepekan kemudian, tepatnya pada Minggu (9/4) siang.

Warga berhamburan keluar rumah. Spontan mereka berlari mengikuti naluri masing-masing. Mencari tempat lebih tinggi lalu berlindung.

Ada sekelompok keluarga yang terdiri dari orang tua (ibu), remaja dan anak-anak berjalan tergegas ke arah rumah Kades Banaran, Sarnu yang menjadi posko pengungsian, karena tempatnya yang memang lebih tinggi.

Namun, mereka segera kembali turun setelah sejumlah relawan dan tim SAR gabungan saat itu, dari unsur TNI dan Polri, mengarahkan ke tempat yang lebih jauh, menjauhi area rawan terdampak longsor.

Begitu halnya yang dialami Nenek Sipon (85), yang tergopoh dipapah dua relawan menuju mobil jenis SUV atau jeep bak terbuka (wilis) untuk membantu sarana evakuasi warga.

Gurat wajahnya yang keriput terlihat tegang. Rupanya ia menahan sakit saat gopoh langkah kakinya yang sudah ringkih dipaksakan bergerak lebih cepat dari otot-otot kaki dan tubuhnya berkontraksi.

Nenek Sipon baru bisa bernafas lega sesudah berhasil menaiki bak jeep wilis bersama sejumlah warga lain yang terdiri dari anak-anak dan orang dewasa.

Ia hanya memandangi suasana kegaduhan di belakang saat kendaraan evakuasi yang mengangkutnya berderu melaju pergi ke arah desa Wagir Kidul, menjauh dari titik lokasi longsor susulan.

Suasana panik nan mencekam saat terjadi longsor susulan berupa pergerakan lumpur jenuh dalam volume sangat besar pada Minggu (9/4) itu konon masih tidak ada seberapanya dibanding saat longsor besar yang menerjang 32 rumah serta mengubur hidup-hidup 28 warga Dusun Tangkil dan Krajan terjadi pada sepekan sebelumnya, Sabtu (1/4).

Kesaksian warga dan keluarga korban, suasana saat terjadi longsor besar yang disebabkan ambrolnya lereng atau tebing Gunung Gede (sebutan untuk bukit di gugusan anak Gunung Wilis yang berada persis di belakang pemukimam Desa Banaran), jauh lebih mengerikan.

Longsor diibaratkan terjadi hanya dalam durasi tiga detik. Sangat singkat, namun dampak yang ditimbulkan sangat merusak dan mematikan. Sebanyak 24 warga masih dinyatakan hilang sampai sekarang, dan diyakini sudah tewas terkubur di bawah timbunan material tanah yang tebalnya mencapai 10-20 meter.

Empat dari total 28 warga yang sebelumnya dinyatakan hilang, sudah ditemukan saat dilakukan operasi pencarian secara maraton mulai Minggu (2/4) hingga sepekan kemudian, Minggu (9/4).

Sogol Purwanto (35), korban selamat yang saat peristiwa terjadi berada di luar rumah persis di sekitar titik nol atau sektor A lokasi longsor utama seberang lereng Gunung Gede yang ambrol menuturkan, tragedi 1 April itu mirip tsunami.

Begitu terjadi gemuruh diiringi serangkaian ledakan akibat patahan batuan di lereng Gunung gede yang ambril, tebing setinggi 200-an meter di ujung pemukiman Dusun Tangkil, Desa Banaran itu jatuh berdebum ke bumi.

Gulungan material longsor seperti melompat laiknya ombak tsunami yang mengurung apa saja di bawahnya hingga terkubur dan tak terlihat lagi.

"Warga yang sedang panen jahe persis di bawah seberang lereng tak berhasil menyelamatkan diri, demikian juga Maryono (Sumaryono, 17) korban keempat yang ditemukan tim SAR di hari terakhir pencarian, yang saat kejadian sedang menjemur jahe di jalan desa bersaam dua warga lain," tuturnya.

Selain alasan ketidaksiapan keluar dari "zona nyaman", atau dalam istilah anak muda sekarang tidak bisa "move on" dari Desa Banaran, rata-rata warga masih memiliki ladang cukup luas di perkampungan tersebut. 
   
Ia hanya tahu Muryono dan warga yang sedang panen jahe sempat histeris dan mencoba berlari, tapi semua kemudian menghilang ditelan gemuruh longsor yang rekoset menerjang pemukiman Dusun Tangkil dan Banaran yang ada di bawahnya.

Penuturan saksi korban selamat lain di dusun Krajan, lokasi terakhir yang dilumat longsor Sabtu (1/4), tsunami longsor datang seperti dari langit dan langsung mengubur rumah dan warga yang ada di bawahnya.

"Teriakan histeris warga bersahutan. Mereka benar-benar panik dan kalang-kabut, karena banyak warga yang tertimbun tak bisa menyelamatkan diri," tutur Catur, salah satu awak media televisi nasional di Ponorogo yang sempat melihat detik-detik kepanikan warga saat longsor terjadi.

Sebegitu histeria pilu warga yang panik membuat Catur dan pewarta lain di lokasi bencana memilih menaruh kamera dan bergabung dengan petugas membantu upaya evakuasi warga menuju tempat aman.

Kini, setelah dua pekan lebih bencana berlalu warga berangsur tenang. Terutama semenjak tim SAR gabungan dan ribuan relawan berikut aneka bantuan datang silih-berganti.

Korban yang kehilangan rumah dan anggota keluarga memang mengungsi ke rumah Kades Sarnu, warga lain ataupun sanak saudaranya yang ada di tempat aman. Tapi warga yang huniannya selamat namun berada di dekat lokasi bencana tetap menjalankan aktivitas normal.

Saat evakuasi atau pencarian berlangsung, mereka tak jarang menonton dari jauh. Tapi tak jarang pula membantu petugas dan relawan melakukan pencarian.

Setelah pencarian resmi dihentikan pasca terjadi longsor susulan yang membawa ribuan kubik lumpur jenuh dari sektor A hingga D dan menyebabkan dua rumah lain rusak, satu unit alat berat yang sedang beroperasi melakukan pencarian terpendam di sektor D, warga Banaran kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Hanya 40-an KK yang dipaksa petugas mengosongkan rumahnya sementara karena lokasinya yang berada di sekitar jalur patahan Sungai Tangkil, termasuk SD Negeri Banaran yang berjarak sekitar 100 meter dari ujung longsor.

Enggan relokasi
Dari total 40 KK (32 unit rumah terdampak longsor 1,5 terdampak longsor susulan, 3 rawan), tak satupun yang bersedia di relokasi keluar dari Desa Banaran.

Apalagi diikutkan program trasmigrasi yang telah berulangkali di tawarkan Pemkab Ponorogo seperti diungkap bupati setempat Ipong Muchlissoni dalam beberapa kesempatan.

Ikatan batin yang kuat terhadap desa yang menjadi tanah kelahiran leluhur membuat mereka enggan "terusir" dari kampung halamannya, sekalipun ancaman bencana tanah longsor masih terus membayangi lekat di depan mata.

Kades Sarnu mengatakan, warganya ingin tetap bertahan tinggal dan melanjutkan hidup bersama sanak-saudara dan tetangga lain di Desa Banaran.

Mereka hanya bersedia relokasi selama berada di lingkup Desa Banaran, tidak mau lebih dari itu.

Selain alasan ketidaksiapan keluar dari "zona nyaman", atau dalam istilah anak muda sekarang tidak bisa "move on" dari Desa Banaran, rata-rata warga masih memiliki ladang cukup luas di perkampungan tersebut.

Kekukuhan itu terlihat jelas dari 10 keluarga korban longsor yang memiliki relokasi mandiri di ladang-ladang milik mereka sendiri, namun pembangunan hunian disubsidi pemerintah.

Sementara 30-an KK lainnya bersedia relokasi hunian baru yang lokasinya juga tidak terlalu jauh dari kawasan terdampak bencana.

"Lokasi hunian sementara maupun untuk relokasi permanen, baik yang sepenuhnya bantuan pemerintah ataupun mandiri, semua sudah diperiksa kelayakan (lokasi) oleh tim kaji cepat UGM bersama tim peneliti dari PVMBG (pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi) dan BNPB (badan nasional penanggulangan bencana). Semua sudah dinyatakan aman, termasuk tempat relokasi sementara yang ada di dekat sektor A," tutur Kepala BPBD Ponorogo Sumani.

Sejumlah pengungsi yang masih bertahan di penampungan rumah warga dan Kades Sarnu justru mengaku mulai bosan dengan kondisi bencana yang masih berlarut.

Mereka berharap pembangunan relokasi sementara di barak penampungan semipermanen di lokasi A dan B Dusun Tangkil yang berjarak sekitar 500 dan 800 meter dari titik longsor sektor A segera rampung.

"Supaya kami bisa mulai hidup normal kembali dan beraktivitas seperti sedia kala. Kami tak bisa terus-terusan mengandalkan bantuan masyarakat," ucap Gito, pengungsi di rumah Kades Sarnu.

Gito dan sejumlah pengungsi dewasa lain mengaku bosan terus menunggu dengan hanya duduk-duduk di tempat penampungan, tanpa ada aktivitas kerja yang menghasilkan uang seperti dulu.

"Kami berharap bisa mulai bekerja lagi di ladang, sejauh lokasi sudah dinyatakan aman," timpal Sirmadi, pengungsi lain di lokasi yang sama.
   
Belajar Sadar Bencana
Menurut Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Ponorogo Setyo Budiono, warga Banaran mulai terlatih menghadapi bencana longsor maupun potensi banjir lumpur yang kini masih terus mengancam desanya.

Dulu sebelum bencana terjadi, kesadaran untuk memantau potensi longsor sebenarnya sudah aktif dilakukan semenjak retakan atau rekahan tanah diidentifikasi pada 11 Maret 2017.

Sejak itu, secara berkala warga bergantian melaporkan kondisi retakan yang semakin dalam dan melebar seperti terpantau di puncak bukit Gunung Gede.

Bahkan saban hari, kondisi terkini rekahan tanah rutin dilaporkan perangkat kaur keamanan (jagabaya) ke pemerintah desa, kecamatan, BPBD, polsek dan koramil setempat.

Satu-satunya kesalahan berakibat fatal yang tak diindahkan warga saat itu adalah ketidaksediaan mereka untuk secepatnya mengosongkan total pemukiman menjelang longsor besar terjadi.

Aktivitas mengungsi memang sudah acapkali dilakukan tiap sore menjelang hingga pagi, atau saat turun hujan.

Tak satupun yang berani tinggal di pemukiman yang berada di jalur patahan Sungai Tangkil dan secara topografi berada persis di bawah tebing yang dilaporkan retak panjang dan dalam itu.

Kenekatan warga Dusun Tangkil itu oleh beberapa warga di luar Banaran, disebut kesombongan yang harus dibayar mahal.

Entah diamini atau tidak, setidaknya warga Banaran sekarang jauh lebih waspada terhadap potensi longsor susulan yang besar kemungkinan masih akan terjadi.

Selain retakan tebing yang masih ada di kanan-kiri area tebing yang longsor pertama, volume material tanah bercampur batuan gembur yang menjadi lumpur jenuh akibat endapan air hujan dua pekan terakhir dikhawatirkan kembali bergerak seperti peristiwa Minggu (9/4).

Jika hal itu terjadi, pemukiman di bawah sektor D yang selama ini aman tidak tersentuh longsor bisa ikut porak-poranda atau bahkan terkubur.

Padahal di bawah sektor D yang masuk Dusun Krajan ini tergolong pemukiman padat, ada masjid utama desa, kantor Pemdes Banaran, SDN Banaran, puskesmas dan beberapa fasilitas umum.

Boleh dibilang, kawasan rawan longsor yang baru itu pusat kotanya Desa Banaran. Keramaian dulu selalu menghias daerah ini.

Namun sekarang, suasana jauh berbeda. Jangankan sore dan malam hari, saat siang pun kini hanya segelintir orang dan petugas yang berani lalu lalang di daerah ini. Kecuali warga luar yang nekat menerobos tanda larangan demi melihat jejak bencana.

Menurut Kapolsek Pulung AKP Deny Fachrudianto, seluruh warga yang bermukim di Dusun Krajan yang rawan terdampak longsor telah dievakuasi. Jumlahnya diperkirakan mencapai 300 jiwa lebih.

Selain tindakan pengonsongan kawasan mukim sampai batas waktu yang belum ditentukan itu, warga Banaran saat ini aktif melakukan ronda bergilir siang-malam.

Mereka yang berada di daerah mukim atas di Dusun Tangkil yang lokasinya berseberangan dengan titik nol bergiliran mengawasi kondisi lumpur atau tanah material longsor yang masih labil tersebut.

Jika terlihat ada pergerakan kecil saja, warga akan segera memukul kentongan atau berteriak untuk memberi tahu warga di bagian tengah atau bawah kawasan mukim untuk waspada.

Kades Sarnu menambahkan, kewasadaan juga aktif dilakukan warganya yang berladang dengan menjauh dari zona bahaya serta memberitahu perangkat dan petugas jika mendapati ada jejak retakan baru di lereng perbukitan setempat.

Tidak hanya itu, langkah mitigasi sebagian besar sudah mulai dikenali warga Banaran dengan mengikuti jalur-jalur evakuasi apabila bencana longsor susulan ataupun banjirb lumpur terjadi.(*)

Editor: Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.013 seconds memory usage: 0.67 MB