Pemprov Jatim Libatkan ITS-UGM Petakan Daerah Bencana

id Pemprov jatim, longsor, relokasi, ITS-UGM
Pemprov Jatim Libatkan ITS-UGM Petakan Daerah Bencana
Gubernur Jawa Timur Soekarwo (tengah) usai memantau pelaksanaan UNBK SMA hari pertama di Surabaya, Senin. (Willy Irawan)
Mau kita relokasi. Longsornya sulit ditahan, tapi penduduknya tidak di daerah longsor lagi.
Surabaya (Antara Jatim) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melibatkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk memetakan daerah bencana di wilayah itu.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo di Surabaya, Senin mengatakan pemetaan itu bertujuan untuk mencari solusi terbaik bagi masyarakat sekitar lokasi bencana. Selain itu, pihaknya juga akan merelokasi warga yang berada di kawasan longsor.

"Mau kamia relokasi. Longsornya sulit ditahan, tapi penduduknya tidak di daerah longsor lagi," katanya usai memantau pelaksanaan UNBK di SMA Surabaya.

Dia menjelaskan, prinsip relokasi ini akan dibicarakan lebih lanjut dengan DPRD Jatim. Bisa jadi nantinya tanah disediakan oleh kabupaten, sedangkan rumah disediakan provinsi.

"Tapi ini masih pendapat gubernur, nanti kita bicarakan dengan DPRD. Saya yakin menolong orang itu semua pasti setuju," kata dia.

Geolog dari ITS dan UGM ini, lanjut Pakde, dilibatkan juga meneliti longsor di Nganjuk. Dia menjelaskan, Jatim sendiri saat ini petanya wilayah Utara banjir, tengah longsor, di sebelah Selatan gempa.

Mantan Sekdaprov Jatim ini menegaskan, untuk sebelah Utara, pengendalian Bengawan Solo baru Gajah Mungkur. Maka di Lamongan Pemprov Jatim membuat Plot W, pembuangan air sungai ke laut agar 41 ribu lahan bisa ditanami saat musim hujan.

Sementara terkait banjir di Sampang, dirinya juga menyiapkan strategi relokasi penduduknya. Sebab, sungainya berada di bawah permukaan laut. Sementara ini, Pemprov Jatim membuat pompa dengan anggaran Rp50 miliar untuk memompa air ke laut.

"Jadi kalau sudah musim naik airnya, ini di bawah. Sungainya di bawah, sebelah timurnya kabupaten, sebelahnya pasar, itu sudah 1,5 meter di bawah permukaan laut. Tidak ada pilihan lain, ketika airnya dipompa, penduduknya tidak boleh berada di situ. Jalan terbaik adalah relokasi." ujar Pakde Karwo.(*)

Editor: Masuki M. Astro


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0254 seconds memory usage: 0.57 MB