Sabtu, 24 Juni 2017

Bangkalan Bentuk Tim Khusus Tekan Penanganan Kusta

id Kusta di Madura
Bangkalan Bentuk Tim Khusus Tekan Penanganan Kusta
Ilustrasi Penderita Penyakit Kusta (Abd Aziz)
Tim ini memiliki tugas khusus, yakni menekan angka penderita kusta yang ada di Bangkalan ini," kata Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Walid Yusufi.
Bangkalan (Antara Jatim) - Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, kini membentuk tim khusus yang bertugas untuk menekan angka penderita kusta di wilayah itu, dan tim merupakan gabungan dari unsur pemkab dan masyarakat.

"Tim ini memiliki tugas khusus, yakni menekan angka penderita kusta yang ada di Bangkalan ini," kata Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Walid Yusufi si Bangkalan, Senin.

Saat ini, jumlah warga Bangkalan yang terdeteksi menderita penyakit kusta sebanyak 306 orang, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 227 orang.

Mereka itu, tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Burneh, Tanjung Bumi, dan Kecamatan Konang.

Dari tiga kecamatan itu, jumlah penderita kusta terbanyak ialah di Kecamatan Burneh, lalu Kecamatan Tanjung di urutan kedua, dan yang paling sedikit ialah di Kecamatan Konang.

"Nantinya, tim khusus ini akan fokus menangani para penderita kusta di tiga kecamatan ini, disamping bertugas melakukan deteksi dini akan kemungkinan adanya penderita baru," kata Yusufi.

Ia menjelaskan, pembentukan tim khusus yang akan bertugas menangani penyakit kusta ini, sebagai upaya Pemkab Bangkalan mensukseskan program "Jelita/Jatim Eliminasi Kusta" yang dicanangkan di Pamekasan pada 15 Maret 2017.

Titik tekan program "Jelita" ini menurunkan prevalensi angka kesakitan penyakit kusta berada di bawah 1/10.000 penduduk.

Target pemerintah pusat prevalensi dibawah 1/10.000, yakni pada tahun 2019, sedangkan target untuk Jatim akhir tahun 2017.
 
Ada beberapa upaya yang akan dilakukan pemerintah untuk menekan prevalensi kusta itu melalui program "Jelita" tersebut, yakni melalui strategi "SCORE" yaitu Sosialisasi tentang penyakit kusta di masyarakat, Cari orang yang dicurigai mempunyai gejala kusta dengan melibatkan peran aktif masyarakat, Obati sesuai dengan regimen organisasi kesehatan dunia (WHO) yang dapat diperoleh di puskesmas, dan Rehabilitasi tentang Orang yang pernah terinfeksi kusta (Oyapita) membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Selain itu, Evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan untuk mengetahui tindak lanjut dari permasalahan yang ditemukan.

Kabid P2PL Walid Yusufi menjelaskan, gejalanya penyakit kusta ini seperti panu dan ketika diberi obat tidak terasa perih. 

"Jenis penyakit ini ada dua tipe, yakni tipe kusta basah dan kusta kering," katanya, menjelaskan.

Diantara sebanyak 306 warga yang menderita penyakit kusta itu, menurut dia, kebanyakan merupakan penderita kusta basah. "Jenis kusta basah ini mudah menular. Kalau kusta kering tidak," katanya, menjelaskan.

Pemprov Jatim belum lama ini merilis, Jawa Timur termasuk provinsi dengan jumlah angka penderita kusta terbanyak di Indonesia, dan Kabupaten Bangkalan termasuk salah satu diantara kabupaten yang warganya banyak menderita kusta.

Sepanjang 2016, jumlah penderita kusta di Indonesia sekitar 17.000 orang dan 30 persen di antaranya 4.183 orang berada di wilayah Jatim.

Dari jumlah itu, sebanyak 8 persen atau 332 orang di antaranya merupakan penderita usia anak-anak.

Selain di Kabupaten Bangkalan, kantong-kantong penderita kusta di Pulau Madura ialah Kabupaten Sampang dan Kabupaten Sumenep, yakni mencapai 35 persen dari total jumlah penderita kusta di Jawa Timur. (*)

Editor: Masuki M. Astro


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.1348 seconds memory usage: 0.59 MB