Minggu, 26 Maret 2017

LIPI Soialiasikan Pupuk Organik Hayati di Jember

id pupuk organik hayati, pupuk organik, pupuk lipi, sosialisasi pupuk, pupuk jember
LIPI Soialiasikan Pupuk Organik Hayati di Jember
Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto (tengah) saat melihat budi daya tanaman pangan melalui hidroponik di Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember (istimewa)
Pupuk organik itu berbasis dari mikroba yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia untuk membantu penyerapan dari NPK (kandungan dari pupuk kimia), dan dalam pembuatan pupuknya juga menggunakan bahan baku lokal,
Jember (Antara Jatim) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar sosialisasi penggunaan pupuk organik hayati dan membantu proses pembuatannya bersama petani di Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat.

"Pupuk organik itu berbasis dari mikroba yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia untuk membantu penyerapan dari NPK (kandungan dari pupuk kimia), dan dalam pembuatan pupuknya juga menggunakan bahan baku lokal," kata Wakil Kepala LIPI Prof Bambang Subiyanto di Jember.

Dalam proses pembuatan pupuk organik hayati tersebut, lanjut dia, para petani akan diberi alat dan untuk teknik pembuatannya akan dibimbing langsung oleh peneliti LIPI.

"Kami akan ajari langsung para petani dan sampai bisa membuat pupuk organik hayati  sendiri. Untuk bahan bakunya sangat mudah dicari di Jember yakni kecambah, air kelapa, gula merah, telur, dan dedak," tuturnya.

Pihak LIPI membantu proses pembuatan pupuk yang bertujuan untuk mengontrol kualitas karena yang utama dari bahan pupuk organik hayati tersebut adalah mikrobanya dan untuk bahan yang lain adalah sebagai suplemennya.

"Untuk pupuk organik hayati tersebut, lebih tepat bukan sebagai pupuk seperti halnya pupuk-pupuk yang digunakan pada umumnya, namun sebagai suplemen khusus dan cocok digunakan untuk tanaman yang ada di Indonesia," katanya.

Ia mencontohkan seperti halnya padi dan buah-buahan dengan buah-buahan yang cocok menggunakan pupuk organik hayati tersebut di antaranya semangka, melon, dan buah waluh.

"Kita pernah mencoba menggunakan pupuk organik hayati di Ngawi dan Wonogiri. Dengan penggunaan pupuknya, maka komposisinya adalah 50 persen pupuk kimia pada umumnya yang digabung dengan pupuk organik hayati," tuturnya.

Bambang menjelaskan setiap hektarenya membutuhkan 20 liter dan itu bisa meningkatkan pendapatan yang biasanya produksinya berkisar 7 sampai 8 ton, kini bisa memproduksi sampai 12 ton.

"Apabila petani yang biasanya menghasilkan 7 sampai 8 ton sudah mendapatkan untung yang cukup, maka dengan penggunaan pupuk organik hayati bisa lebih menguntungkan bagi para petani," ujarnya.

Dalam kegiatan Diseminasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tentang "Pengenalan Konservasi dan Pengembangan Potensi Daerah" dari LIPI tersebut, juga hadir anggota Komisi VII DPR RI Daerah Pemilihan Jember-Lumajang Bambang Hariadi.

Dalam kesempatan tersebut, Bambang Hariadi juga menyerahkan bantuan 2 ribu bibit pohon jambu biji yang bermanfaat untuk menyerap limbah rumah tangga di Desa Wonoasri, sehingga semakin banyak masyarakat menanam pohon jambu biji, maka kualitas air sumur masyarakat juga akan semakin sehat," katanya.

Editor: Tunggul Susilo


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.1558 seconds memory usage: 0.58 MB