Minggu, 26 Maret 2017

Fahmi: Teror di Indonesia Ekstremisme bukan Radikalisme

id Pengamat, bom bandung. ekstrimisme
Fahmi: Teror di Indonesia Ekstremisme bukan Radikalisme
Pengamat terorisme dari Institute For Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi. (IST)
"Nah, berkaca dari bom panci Bandung itu sebenarnya bentuk ekstrimisme, mereka menyampaikan pesan untuk supaya aparat membebaskan teman-temamnya," kata dia.
Teror yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini lebih condong ke arah ekstremisme, bukan radikalisme, ujar Surabaya pengamat terorisme dari Institute For Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi.

"Radikalisme lebih menjurus pada anarkisme, vandalisme, maupun kerusuhan. Sedangkan ekstremisme merupakan bentuk teror yang dinilai dapat memberikan pesan efektif," ucapnya saat di sela sidang doktoral Menpan RB Asman Abnur di Unair, Surabaya, Senin (27/2).

Fahmi menjelaskan berkaca dari bom panci di Bandung itu sebenarnya bentuk ekstremisme. "Mereka menyampaikan pesan supaya aparat membebaskan teman-temamnya," kata dia.

Baginya, deradikalisasi yang diprogramkan pemerintah belum berjalan maksimal. Ia menambahan, aksi teror terjadi bisa saja akibat rasa ketidakpuasan, kekecewaan, serta keputusasaan kelompok tertentu atas berbagai persoalan.

"Pemerintah mungkin perlu memikirkan cara yang efektif untuk menggunakan kanal-kanal, misalkan melibatkan ormas. Tidak harus melalui agama, bisa menggunakan saluran komunikasi sehingga harapan mereka bisa terkelola dengan baik," ujarnya.

Menurut Fahmi, sekeras apa pun ormas, selama masih dalam koridor sistem kebangsaan perlu sekiranya dilibatkan.

"Selama ini memang langkah pemerintah melibatkan ormas belum terlihat nyata, padahal itu perlu untuk kontrol sehingga mengelolanya lebih mudah, apa yang mereka inginkan akan dapat diketahui," ucapnya.

Apalagi, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyebut pelaku aksi bom panci di Bandung merupakan pemain lama yang pernah ditangkap saat latihan teroris di Kota Jantho, Aceh Besar pada tahun 2011.

"Pelaku tercatat dalam Jamaah Ansharud Daulah Bandung, yang berafiliasi ke Aman Abdurahman (Maman). Pelaku ini pernah dihukum tiga tahun penjara," ujarnya di sela acara yang sama. (*)

Editor: Endang Sukarelawati


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0733 seconds memory usage: 0.57 MB