Senin, 27 Februari 2017

22 DAS Brantas Jasa Tirta I Rusak

id Das brantas, jasa tirta, rusak, sumber brantas, arboretum
22 DAS Brantas Jasa Tirta I Rusak
ILLUSTRASI - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara ketika menanam Pohon Pule di Arboretum Sumber Brantas Kota Batu, Jawa Timur, Jumat (6/1) (Endang Sukarelawati (Antarajatim))
Deforestasi yang melibatkan masyarakat sekitar hutan konservasi ini berdampak cukup besar terhadap kelangsungan sumber air maupun sedimentasi di aliran sungai maupun waduk
Malang, (Antara Jatim) - Sebanyak 22 daerah aliran sungai (DAS) Brantas yang dikelola Perum Jasa Tirta I Malang mengalami kerusakan akibat maraknya penebangan pohon oleh warga sekitar kawasan hutan konservasi (deforestasi) milik perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.
    
Sekretaris Perusahaan Perum Jasa Tirta I Malang Zainal Alim di Malang, Selasa, mengakui penebangan pohon secara ilegal (ilegal logging) yang dilakukan warga sekitar hutan konservasi tersebut, mengakibatkan sedimentasi, baik di sub-sub DAS Brantas maupun waduk-waduk yang dikelola Jasa Tirta.
    
"Deforestasi yang melibatkan masyarakat sekitar hutan konservasi ini berdampak cukup besar terhadap kelangsungan sumber air maupun sedimentasi di aliran sungai maupun waduk. Penebangan pohon ini dengan tujuan alih lahan. Rata-rata dialhkan emnjadi lahan pertanian sayur, seperti wortel, kentang dan kol," urainya.
    
Akibat deforestasi tersebut, kata Zainal, sejumlah waduk mengalami sedimentasi, sehingga harus dikeruk, terutama di Waduk Sengguruh, Selorejo dan Karangkates di Kabupaten Malang. Pengerukan sedimen di masing-masing waduk itu rata-rata mencapai 100 ribu hingga 400 ribu meter kubik.
    
Ia mengatakan sedimentasi (pendangkalan) yang terjadi di sejumlah waduk tersebut sebagai akibat dari tidak adanya daya serap air yang cukup kuat karena tidak adanya pepohonan yang mengikat.
    
Jika di Waduk Sengguruh, Karangkates dan Selorejo mengalami pendangkalan, Waduk Wlingi dan Lodoyo justru terjadi "flowering" karena di daerah hulu, yakni Kediri, Mojokerto dan Jombang, ada pengerukan (penambangan) pasir, sehingga mengalami degradasi dasar sungai dan kondisi air menjadi turun lebih dari 11.
    
Penurunan kondisi air dan degradasi dasar sungai ini, lanjutnya, tidak hanya berpengaruh terhadap suplai air di waduk, tetapi juga mempengaruhi kondisi jembatan, sebab kondisi tanah yang turun membuat pondasi jembatan juga turun (amblas), sehingga jembatan menjadi miring. (*)

Editor: Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0088 seconds memory usage: 0.58 MB