Minggu, 23 Juli 2017

Menikmati Suasana "Kampung Lawas" di Surabaya

id kampung maspati
Menikmati Suasana
Tampak depan Kampung Lawas Maspati, Bubutan. Foto Antara (Jatim)
Kami ingin kampung Lawas Maspati ini dapat mengundang masyarakat untuk berkunjung ke sini, sebab banyak keberadaan cagar budaya, dan letaknya juga tidak jauh dari Tugu Pahlawan.
Ingin menikmati sejumlah permainan "lawas" seperti engkel, dakon, bekel dan lempar karet dalam sebuah kampung seperti dimasa-masa lalu? Anda bisa temukan itu di Kota Surabaya, tepatnya di "Wisata Kampung Lawas Maspati". 

Kampung yang terletak di wilayah Bubutan ini sengaja diciptakan untuk memenuhi rasa kangen masyarakat kepada suasana dan permainan-permainan yang ada di zaman dahulu, dan dibuka untuk umum khusus pada hari Sabtu dan Minggu.

Menurut Ketua RW VIII Maspati, Sabar, Kampung Lawas Maspati memang dijadikan sebagai kampung wisata di Surabaya, dan menjadi salah satu tonggak kebangkitan "wong kampung" (warga kampung) untuk terus aktif berkreasi dan bertahan di era globalisasi, dengan tidak kehilangan identitasnya sebagai orang kampung Surabaya asli atau Arek Suroboyo. 
     
"Kami ingin kampung Lawas Maspati ini dapat mengundang masyarakat untuk berkunjung ke sini, sebab banyak keberadaan cagar budaya, dan letaknya juga tidak jauh dari Tugu Pahlawan," ucap Sabar yang juga pegiat pariwisata itu.
     
Sabar berpromosi, di Kampung Maspati, wisatawan akan menemukan keberadaan lorong-lorong yang sejak dari dahulu sudah menjadi saksi sejarah panjang Kota Surabaya.

Ditambah ada banyak tempat bersejarah, seperti rumah yang dulunya sekolah desa pada masa pendudukan Belanda yang disebut dengan Sekolah "Ongko Loro" (angka dua). 
     
Selain itu, ada bangunan bekas pabrik roti milik Haji Iskak yang juga pernah menjadi dapur umum kala pertempuran bersejarah, 10 November 1945. 
     
Bangunan tersebut, kata Sabar, ada sejak tahun 1958, dan kini beralih fungsi menjadi Losmen 'Asri' dengan arsitektur antiknya. 
     
"Dan masih banyak bangunan peninggalan kolonial lain dengan langgam arsitektur khas Indis hingga ekletis (campuran). Oleh karena itu mari mampir ke Kampung Maspati, merasakan berada di Surabaya tempo dulu," kata Sabar, berpromosi.

Pemrakarsa

Sementara itu, pemrakarsa kampung ini adalah PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III Persero yang merupakan salah satu BUMN di bidang pelabuhan.

Melalui Program Bina Lingkungan dan Kemitraannya (PKBL) atau dana tanggung jawab perusahaan, PT Pelindo III mendorong tumbuh kembang kampung ini menjadi salah satu destinasi tujuan wisata di Kota Surabaya.
    
"Awalnya, dulu kami hanya membantu mendirikan bangunan serba guna di lokasi itu, dengan harapan dapat menjadi tempat bagi warga untuk melakukan berbagai kegiatan, termasuk berdiskusi memajukan kampungnya. Kini, harapan itu terwujud dengan diresmikannya kampung wisata,” kata Direktur SDM dan Umum  Pelindo III Toto Heli Yanto.

Ia mengatakan kampung yang diluncurkan oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada Januari 2016 itu keberadaannya mampu memupuk kemandirian perekonomian warga, ditambah Pelindo III yang turun tangan langsung mendukung warga melalui berbagai bantuan.
  
Toto mengaku juga selalu melakukan promosi, dengan menginformasikan kepada para turis kapal pesiar (cruise) internasional yang sandar di terminal penumpang Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, untuk singgah ke Kampung Lawas Maspati.
     
"Pelindo III selalu aktif mempromosikan kampung ini ke para turis kapal pesiar internasional, dan kebanyakan turis yang umumnya lanjut usia cenderung menyukai berkunjung ke lokasi bersejarah di Indonesia, yang bagi mereka eksotik dan bertautan dengan sejarah mereka sendiri," kata Toto.
     
Toto berharap, setiap dana yang didapat warga dari pengelolaan wisata dapat disisihkan untuk modal usaha  untuk mendukung permodalan agar semakin berkembang, sehingga warga semakin mandiri dan Kampung Maspati tetap lestari.
     
"Pelindo III juga siap memberikan suntikan modal kembali untuk pengembangan usaha rumahan para warga Kampung Maspati yang memiliki sejumlah produk unggulan, seperti sirup buah markisa, minuman tradisional cincau dan aneka produk kerajinan tangan berupa hiasan, suvenir, hingga pakaian," katanya.(*) 

Editor: Masuki M. Astro


COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga

Generated in 0.1993 seconds memory usage: 0.62 MB