Bekas rumah kontrakan gembong teroris Dr. Azahari di Jalan Flamboyan Blok A 7 Batu, yang kini berubah menjadi Jalan Simpang Flamboyan A1-7, tampak senyap dan tak terurus.
Reruntuhan bangunan sisa-sisa ledakan empat tahun silam tetap berantakan dan makin terlihat kumuh.
Azahari tewas bersama bom bunuh diri yang meluluhlantakkan dua bangunan di sisi kiri-kanannya. Hingga kini bangunan itu belum berubah.
Selama kurun waktu empat tahun, peristiwa penyergapan Azahari di Batu oleh Densus 88 Antiteror, mulai sedikit terlupakan, demikian juga dengan kepahitan yang dirasakan warga Kota Batu.
Namun, peristiwa bom Mega Kuningan, di Hotel J.W. Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta pekan lalu (Jumat, 17/7) membuka kembali memori menegangkan itu.
"Dahsyatnya ledakan bom di vila yang dihuni Azahari empat tahun lalu masih segar dalam ingatan saya. Kadang saya juga masih trauma kalau ingat peristiwa itu sebab listrik seantero Kota Batu dan Malang tiba-tiba padam, kemudian diiringi ledakan keras serta bunyi tembakan yang bersahutan," kata Erin Dwiwayani, warga yang tinggal tepat di depan rumah kontrakan Azahari di Batu.
Saat menyaksikan liputan bom Mega Kuningan yang diduga dilakukan oleh jaringan teroris Nurdin M. Top--gembong teroris yang lolos dari penyergapan di Batu--ingatannya kembali melayang pada peristiwa empat tahun silam.
"Kok tega-teganya, ya, mereka melakukan itu dan merusak negeri ini," ujarnya.
Putra pertama Erin, Kevin, mengenang peristiwa yang menakutkan sekaligus menegangkan itu karena dia adalah kawan main anak buah Azahari, Arman dan Cholily.
Ia tidak pernah menyangka kalau yang sering bermain dan jalan-jalan bersama dengannya adalah seorang teroris.
Ketika terjadi penggerebekan yang menewaskan Azahari dan Arman akibat bom bunuh diri itu, Kevin masih duduk di kelas II SD dan saat ini Kevin sudah kelas VI SDN Ngaglik Kota Batu.
Warga Jalan Famboyan lainnya, Rodji, mengatakan, dirinya dan warga yang rumahnya berdekatan dengan kontrakan Azahari juga tidak bisa melupakan peristiwa tersebut. Apalagi setelah peristiwa bom di Hotel J.W. Marriott dan Ritz-Carlton.
Sebenarnya Rodji hampir melupakan peristiwa empat tahun silam. Namun, ketika ada ledakan bom lagi dan menewaskan orang-orang tak bersalah membuat ingatan itu kembali muncul.
Azahari dan Arman tewas dalam penggerebekan Densus 88, sedangkan Cholily--warga Kota Malang--selamat, dan saat ini menjalani hukuman selama 18 tahun di LP Kelas I Lowokwaru.
Cholily ditempatkan terpisah dengan terpidana lainnya. Ia "diasingkan" dari dunia luar, seperti aktivitas membaca koran dan menonton TV.
Daya Tarik
Selama ini, rumah kontrakan Azahari yang berada di kawasan padat penduduk itu masih tetap memiliki daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu.
Menurut Erin, kunjungan ke rumah Supomo, yang dikontrak Azahari itu, memang tidak seramai pada awal tewasnya gembong teroris asal Malaysia tersebut.
"Sekarang masih ada saja yang datang dan biasanya rombongan keluarga atau warga sekitar Malang Raya yang ingin melihat perkembangan terakhir rumah yang menewaskan Azahari dan anak buahnya," katanya.
Namun, penjualan tanda mata berupa VCD peristiwa penyergapan Dr. Azahari dan Arman yang dijual Rp20 ribu per keping, kini juga sudah tidak dilakukan warga. Pengunjung yang datang, kini hanya bisa menyaksikan puin-puing rumah bercat biru dan putih yang mulai buram.
Masyarakat di kawasan Flamboyan berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan "Monumen Dr. Azahari", seperti yang dijanjikan almarhum Wali Kota Batu Imam Kabul.
Mereka berharap monumen itu bisa mendatangkan rezeki baru bagi masyarakat sekitar, baik dari penjualan pernik-pernik Dr. Azahari berupa kaset VCD maupun tiket pengelolaan dan jasa parkir.
Salah seorang warga, Jalil, berharap agar Pemkot Batu segera merealisasikan pembangunan monumen Dr. Azahari sebagai salah satu aset wisata Kota Batu sehingga bisa menunjang pendapatan asli daerah (PAD) dan penghasilan warga sekitar.
"Saya berharap tiga rumah yang berdekatan di sisi kiri-kananya itu dibeli oleh Pemkot Batu, lantas dijadikan satu sebagai areal monumen. Saya yakin pengunjung akan semakin banyak karena reruntuhannya masih asli. Banyak pengunjung yang ingin tahu tempat persembunyian Azahari seperti apa," ujarnya.
Menurut dia, kalau pembangunan monumen itu terwujud, tidak hanya VCD saja yang bisa dijual ke pengunjung, tetapi juga kaos, gantungan kunci, dan benda lainnya seperti halnya lokasi wisata lainnya yang memiliki kekhasan produk.
Tutup mulut
Meski tewasnya gembong teroris itu sudah empat tahun berlalu, warga Kota Batu masih tetap was-was untuk membuka mulut seputar kejadian yang menggemparkan tanah air itu.
"Terus terang kami ini masih khawatir, kalau jaringan Azahari belum tertangkap seluruhnya, seperti Noordin M. Top dan anak buahnya yang jumlahnya tidak sedikit. Kami belum bisa bercerita banyak seputar peristiwa tewasnya Dr. Azahari," kata Rodji.
Pengakuan senada juga dilontarkan, Ika Wardani. Ia masih merasa khawatir akan terjadi lagi kasus-kasus teror bom, seperti di Bali dan di Jakarta.
"Saya berharap aparat keamanan secepatnya meringkus jaringan anak buah Azahari, termasuk Noordin M. Top agar masyarakat terbebas dari rasa was-wasnya jika bepergian dengan angkutan umum atau berada di lokasi-lokasi ramai," ujarnya.
Apalagi, lanjut dia, kawasan Malang Raya masih tetap menjadi lokasi "empuk" sebagai tempat persembunyian para teroris jaringan internasional. Terbukti, di kawasan Perumahan Buring di Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang dan di Sidomulyo Batu menjadi persembunyian salah seorang yang diduga sebagai teroris yakni Hendrawan dan istrinya, Najwa yang telah ditangkap di Solo.
Kedua lokasi yang diduga sebagai tempat persembunyian Hendrawan dan istrinya itu juga tidak luput dari pemeriksaan Densus 88 Antiteror pada akhir Juni lalu. Aparat keamanan juga makin meningkatkan intensitas pengawasan dan penjagaan di setiap pintu gerbang perbatasan.
"Kita tidak hanya memperketat penjagaan di setiap pintu gerbang masing-masing daerah, hotel-hotel, dan fasilitas umum juga diawasi secara ketat," kata Kapolres Batu Ajun Komisaris Besar Polisi (AKPB) Tedjo Wijanarko.
Bom Kuningan Buka Memori Tewasnya Azahari
Top Stories : Liputan Khusus
Tajuk
Saatnya Perempuan Keluar dari "Jerat" Ketidakberdayaan

Foto Berita
![]() Kongres Sepakbola Nasional | ![]() KRI Dewa Ruci Kembali Berlayar |
![]() HTI Jember Tolak Obama | ![]() Deportasi |


























