Gaya bicaranya yang meyakinkan dan menggebu-gebu tak mampu menyembunyikan masa lalunya sebagai seorang aktivis kampus yang mumpuni.
Itulah sekilas yang bisa ditangkap dari sosok seorang Agus Dono Wibawanto (45), yang tak pernah menyerah dan siapapun dihadapi dengan tegar dan penuh rasionalitas yang ditopang dengan data.
Ketelitiannya sebagai seorang dosen di FISIP Universitas Wijaya Kusuma Surabaya itu, terbawa hingga ke kancah politik dan akan diteruskan ketika dia mewakili rakyat Malang Raya di kursi DPRD Jatim 2009-2014.
"Memang semua yang saya perbuat dan saya lakukan, terutama yang terkait dengan keorganisasian saya sebagai politikus, selalu tercatat secara sistematik dan langkah itu yang mengantarkan saya sebagai wakil rakyat di DPRD Jatim," ucap politikus Partai Demokrat (PD) itu.
Tidak hanya agenda terjadwal yang tersusun rapi, namun program-program yang masih dalam angan-angan pun sudah terjilid dengan rapi, termasuk panduan tugas, pokok, dan fungsi (tupoksi) anggota DPRD Provinsi Jatim untuk lima tahun ke depan.
Menurut dari warga Perum Bumiasri, Sengkaling, Malang itu, panduan yang tersusun dan terjilid rapi itu akan dibagikan kepada para legislator yang baru, terutama anggota dewan terpilih di Jatim dari Partai Demokrat (PD).
"Kalau yang lain mau ya silahkan, saya akan senang sekali, biar kita sebagai anggota dewan ini benar-benar mewakili rakyat dan paham akan tugasnya, tidak hanya 'mengeruk' uang rakyat saja. Saya yakin tanpa mencari uang 'aneh-aneh', gaji kita dari DPRD provinsi sudah cukup untuk kebutuhan hidup," tegas lelaki kelahiran Madiun pada 12 Agustus 1964 itu.
Keinginannya menduduki kursi DPRD Jatim itu juga tidak muluk-muluk, hanya ingin meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Jatim, tak terkecuali masyarakat Malang Raya yang telah mengantarkannya sebagai wakil rakyat.
Selain itu, bapak dua orang putra dan putri yang masih duduk di bangku SD itu juga ingin mempercepat pembangunan infrastruktur di kawasan Malang Selatan agar investasi dari Penanaman Modal Asing (PMA) terus mengalir ke daerah itu dan ekonomi masyarakat akan ikut meningkat.
"Saya sedih dan juga prihatin kalau saya turun ke desa-desa terpencil, bahkan di kawasan yang menjadi pusat ekonomi seperti pelabuhan Sendangbiru itu, akses jalannya jauh dari memadai. Bagaimana PMA mau masuk kalau aksesnya tidak ada," kilahnya, diplomatis.
Kondisi tidak seimbang antara Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang ini yang terus menjadi pemikiran Agus Dono dan misi itu yang akan diperjuangkan di parlemen. Tidak hanya Kota Malang atau Kota Batu saja yang infrastrukturnya memadai, tapi Kabupaten Malang juga harus mengejar ketertinggalannya itu.
Potensi alam Kabupaten Malang cukup beragam dan sangat menjanjikan untuk dikelola terutama yang bermodal besar seperti perusahaan-perusahaan asing melalui PMA-nya, tapi kalau sarana dan prasarana tidak menunjang pasti investor akan lari seperti investor Korea yang akan menggarap pantai Kondangmerak pada 2002.
"Yang terpenting sekarang ini bagaimana saya akan memperjuangkan anggaran dari APBD Jatim, bahkan mungkin pusat, untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di Kabupaten Malang agar investor berdatangan dan menginvestasikan dananya bagi pembangunan ekonomi di daerah ini," tutur pemilik beberapa perusahaan di Malang itu.
Agus Dono Siap Berburu Investasi Asing Untuk Jatim

Top Stories : Kiprah Legislator
Tajuk
Calon Kepala Daerah Perempuan: Kapabilitas versus Popularitas




























