Bojonegoro - Petani harus membuka diri untuk tidak fanatik terhadap merek pupuk tertentu. Mereka juga harus melihat kandungan unsur hara pupuk yang ada.

"Seperti uji coba yang kami dilakukan di Bojonegoro. Saya berharap kepada para petani untuk tidak fanatik dengan merek produk tertentu," kata Penyalur Pupuk 999 dari CV Mega Kimia Industri, Hendri.

Menurut dia, mulai saat ini petani harus terbuka untuk mengerti dan memahami pupuk dari kandungan dan kegunaanNya. Hendri lalu menjelaskan produk pupuk 999 dengan jenis Super TS 27 dan NPK Delima. Produk pupuk itu sudah dibuat sedemikian rupa sehingga cocok untuk kondisi tanah di Bojonegoro dan Jawa Timur.

Hendri menjelaskan bahwa setiap produk yang dikeluarkan berbeda di masing-masing provinsi, karena disesuaikan dengan kondisi tanah yang ada.

Harga pupuk 999 itu juga dinilai mampu dijangkau petani, meskipun produksinya tidak diberi subsidi. Untuk Super TS 27, setiap 50 kilogram (kg)-nya dijual Rp85.000,00. Sementara NPK Delima dijual Rp45.000,00 setiap 20 kg. "Sementara kandungannya super T 27 sama dengan P205 maksimal 10 persen, sementara NPK Delima N-nya 15 persen, P 15 persen dan K 15 persen, " katanya menjelaskan.

Dengan komposisi tersebut, kandungan pupuk tersebut dinilai sangat berimbang dan cocok bagi tanaman dengan kondisi tanah di Bojonegoro, khususnya dan Jawa Timur pada umumnya.

Mengenai jangkauan distribusi, kata Hendri, pihaknya telah bekerja sama dengan Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Bojonegoro, melakukan demlot atau uji lapangan pemakaian pupuk 999 jenis SUper TS 27 dan NPK Delima. "Demlot dilakukan di bengkok kepala Desa Kapas milik Bapak Totok," katanya.

Dari luas lahan satu hektare dan menggunakan 200 kg Super TS 27 dan 200 kg NPK Delima, sebagaiamana diungkapkan Hendri, mampu memberikan hasil memuaskan. Pada panen raya padi 15 Juni lalu, hasil ubi per meter persegi sebanyak 10.500 kg, katanya.

Sementara itu, Ketua KTNA Bojonegoro, Sarif Usman, menjelaskan, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil produksi pertanian. Diantaranya, faktor air, tanah, bibit , hama penyakit dan pupuk.

"Kesulitan mendapatkan pupuk dalam jumlah cukup yang tidak tepat waktu dapat menurunkan produksi antara 20 sampai dengan 40 persen. Apalagi kalau sampai tidak dipupuk," katanya.

Dia menuturkan, hasil memuaskan panen raya pada 15 Juli lalu, diperoleh pada musim kemarau I. Padahal, saat itu hampir semua lahan petani mengalami penurunan produksi. "Tapi dengan pupuk ini mudah bisa meningkat dan ini sangat bagus, " katanya menegaskan. (adv).