Tiga pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang kini berlaga dalam Pemilu Presiden 2009, yakni Hj.Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto; H.Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono; H.M.Jusuf Kalla-Wiranto adalah pilihan rakyat melalui gerbang partai politik.
Kemudian, siapa di antara mereka yang terpilih menjadi Presiden RI? Suara rakyatlah yang menentukannya, apakah capres yang masuk Istana Negara lagi, capres yang tetap bertahan di Istana Negara, atau capres yang kantornya pindah dari Istana Wakil Presiden RI ke Istana Presiden RI.
Terkait dengan suara rakyat, ada adagium yang sempat populer di Eropa pada abad pertengahan ini, yakni "Vox Populi Vox Dei". Perumpamaan ini mengidentikkan pengertian "suara rakyat" dengan "suara Tuhan".
Di balik pro-kontra ungkapan itu, bahwa suara rakyat adalah rakyat dan bukan Tuhan, untaian yang terdiri atas empat lema ini mengandung makna bahwa siapa pun yang kalah dalam pemilihan umum (pemilu) presiden, 8 Juli 2009, harus menerima kekalahan secara "legawa".
Tidak hanya pasangan capres dan cawapres yang bersikap "legawa", tetapi juga tim sukses dan para pendukungnya. Kemudian, sikap itu ditunjukkan dengan memberi ucapan selamat kepada pemenang secara terbuka dan ikhlas.
Keikhlasan ini dimanifestasikan dengan mendukung presiden terpilih dalam menjalankan roda pembangunan. Jadilah "cermin pemerintahan" yang baik, dengan melontarkan kritik membangun.
Dengan menjadi "cermin" yang baik, niscaya partai Anda akan dikenang oleh rakyat. Dan ini merupakan "investasi" yang tak ternilai. Kalau perlu, partai Anda mendirikan pos-pos aspirasi rakyat guna memberikan masukan kepada pemerintah, sekaligus sebagai media rakyat menagih janji terhadap presiden terpilih.
Hasil pemilu legislatif dan Pemilu Presiden 2009 juga bisa dijadikan cermin bagi partai Anda, bahwa kiprah yang dilakukan elite dan kader partai Anda selama lima tahun ini, ternyata belum diterima rakyat. Jangan malah sebaliknya, melakukan tindakan yang tidak elegan, yang justru akan memperparah peraihan suara partai Anda lima tahun mendatang.
Karena untuk menarik simpatik rakyat, tidaklah dilakukan secara instan (baca: pada masa kampanye). Simpati rakyat tumbuh secara alami, ibarat tanaman yang selalu dirawat dan dijaga jangan sampai mati.
Jadi, jangan berharap "pohon simpatik" itu membuahkan hasil yang diasakan pada Pemilu Presiden 2009, bila mesin partai Anda selama lima tahun ini baru berjalan hanya pada saat kampanye.
Terimalah kekalahan sebagai keputusan Tuhan. Apa pun yang sudah menjadi putusan-Nya, insya Allah terbaik bagi kita semua. Bagi sang calon, bagi tim sukses, bagi pendukungnya, dan bagi rakyat Indonesia.
Vox Populi Vox Dei

Top Stories : Tajuk
Tajuk
Tradisi Belanja Lebaran




























