Banyuwangi (Antara Jatim) - Kementerian Perhubungan merampungkan
pembangunan sarana pendidikan untuk sekolah pilot negeri di Banyuwangi, Jawa Timur, yang diberi nama Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (LP3B).

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemhub, Santoso Eddy Wibowo, di sela-sela peresmian gedung LP3B di Banyuwangi, Senin, mengatakan pembangunan gedung sekolah pilot ini membutuhkan dana Rp39 miliar, yang meliputi ruang kelas, ruang simulator, asrama, hanggar, laboratorium, dan apron dengan luas lahan keseluruhan 2,4 hektare.

"Fasilitas pendidikan ini adalah bagian dari upaya pemerintah menyiapkan sumber daya manusia penerbang yang andal di tengah semakin berkembangnya industri penerbangan nasional. Saat ini, jumlah maskapai dan rute terus berkembang sehingga sisi hulunya, seperti kesiapan SDM harus benar-benar bagus," katanya.

Santoso mengemukakan SDM merupakan faktor vital dalam industri penerbangan dengan kebutuhan tenaga pilot di Indonesia setiap tahun sekitar 800 orang, sedangkan untuk kawasan Asia, kebutuhannya mencapai sekitar 185.000 pilot hingga tahun 2031.

Sebelum bernama LP3B, sekolah pilot yang berlokasi di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, merupakan bagian dari jurusan Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya dan bandara tersebut sebagai tempat praktiknya.

Dengan rampungnya pembangunan gedung LP3B berarti pengembangan dari jurusan di ATKP Surabaya itu telah menjadi sekolah tersendiri dan saat ini terdapat 47 taruna yang menempuh pendidikan di LP3B.

Lembaga ini merupakan fasilitas pendidikan pilot kedua yang dimiliki pemerintah setelah sekolah serupa di Curug, Tangerang, Provinsi Banten yang berdiri pada 1952.

Menurut Santoso, Kemhub juga telah menambah tiga pesawat latih jenis Cessna 172-SP dan tiga simulator "full motion" untuk sarana pendidikan pilot di Banyuwangi dengan menelan dana sekitar Rp34 miliar dan rencananya ada penambahan empat pesawat latih pada 2014.

"LP3B akan menjadi pusat pendidikan yang unggul. Kami juga bekerja sama dengan Boeing untuk melakukan supervisi guna meningkatkan kualitas SDM di industri penerbangan, termasuk para pilot di sekolah ini," tambah Santoso.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan kehadiran LP3B akan semakin melengkapi infrastruktur pendidikan yang ada di daerahnya, setelah beberapa waktu lalu diresmikan berdirinya Politeknik Negeri Banyuwangi.

"Penerbangan adalah sektor vital dan pendongkrak ekonomi. Banyuwangi ingin ikut berkontribusi pada peningkatan kualitas industri penerbangan nasional, karena kami punya bandara berkonsep bagus yang tahun depan Bandara Blimbingsari akan diubah menjadi 'green airport', yakni bandara pertama di Indonesia tanpa fasilitas AC (penyejuk ruangan)," ujarnya.

Menurut Anas, sebagai negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia merupakan pasar besar bagi industri penerbangan sehingga pengembangan SDM pilot melalui LP3B di Banyuwangi akan sangat mendukung terciptanya industri penerbangan nasional yang kompetitif.

"Indonesia harus mengantisipasi kebijakan ASEAN Open Sky 2015 dan kebijakan pasar penerbangan tunggal ASEAN 2020. Kita membutuhkan setidaknya tambahan 4.000 pilot, 1.000 pengatur lalu lintas penerbangan dan 4.500 teknisi di industri penerbangan," tambahnya. (*)