Jember (Antara Jatim) - Aparat Kepolisian menetapkan sembilan tersangka dalam kasus kerusuhan yang terjadi di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

"Ada sembilan orang yang ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan terhadap korban meninggal Eko Mardi Santoso," kata Kapolda Jatim Irjen Pol Unggung Cahyono di Jember, Jumat.

Menurut dia, awalnya polisi menetapkan satu orang tersangka berinisial RM (41) warga Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, namun dalam pemeriksaan ia juga menyebutkan sejumlah nama yang mengarah pada pelaku penganiayaan lainnya.

"Berdasarkan keterangan RM dan hasil penyelidikan, polisi kembali menetapkan delapan tersangka lainnya yang diduga terlibat dalam penganiayaan hingga menyebabkan korban tewas dengan luka bacok, sehingga totalnya ada sembilan orang yang ditetapkan sebagai tersangka," tuturnya.

Ia menjelaskan sembilan tersangka tersebut dijerat dengan pasal berlapis yakni pasal 170 ayat 3 KUHP tentang tindak kekerasan yang menyebabkan orang meninggal dunia, kemudian pasal 160 KUHP karena mengajak dan menghasut orang lain untuk melakukan tindak kekerasan, dan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal.

"Ancaman hukuman masing-masing pasal tersebut yakni 12 tahun, enam tahun, dan tujuh tahun," katanya.

Tersangka RM, lanjut dia, sudah tuntas diperiksa di Mapolres Jember, sedangkan delapan tersangka lainnya masih dalam proses pemeriksaan oleh penyidik Polres Jember.

Sementara Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono menambahkan polisi masih menetapkan tersangka untuk penganiayaan terhadap korban Eko Mardi Santoso, sedangkan tersangka perusakan Pondok Pesantren Darus Sholihin masih didalami.

"Kami harus hati-hati dalam menetapkan tersangka perusakan fasilitas pesantren, sehingga perlu sejumlah bukti kuat dengan melihat sejumlah foto dan tayangan video untuk menetapkan tersangka," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, sekelompok orang menyerbu Ponpes Darus Solihin asuhan Habib Ali dan merusak sejumlah fasilitas yang ada di pesantren tersebut pada Rabu (11/9) siang, bahkan puluhan unit sepeda motor yang diparkir di halaman pesantren dirusak dan dibakar.

Perusakan tersebut terjadi saat seluruh pengurus pesantren melakukan pawai karnaval untuk memperingati HUT ke-68 Kemerdekaan Republik Indonesia, padahal aparat kepolisian sudah melarang karnaval itu.

Kemudian sejumlah orang melakukan aksi balas dendam atas perusakan pesantren tersebut dengan melakukan penganiayaan terhadap warga setempat Eko Mardi Santoso (45) hingga tewas.(*)