Bojonegoro (Antara Jatim) - Dinas Pengairan Bojonegoro, Jatim, akan mengevaluasi distribusi air Waduk Pacal yang saat ini masih tersisa sekitar 13 juta meter kubik agar bisa mencukupi untuk mengairi areal pertanian seluas 16.633 hektare di daerah irigasinya.

"Kami masih akan mengevaluasi air Waduk yang masih ada untuk menentukan besarnya pengeluaran air agar mampu mencukupi kebutuhan areal pertanian di daerah irigasinya selama kemarau ini," kata Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan (OP) Dinas Pengairan Bojonegoro, Hefdi Taufik, Jumat.

Ia yang didampingi Kasi Pengelolaan Pemanfaatan Sumber Air, Rudianto mengaku tidak tahu apakah stok air yang masih tersisa di Waduk Pacal di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang mampu mencukupi areal pertanian di sepanjang daerah irigasinya.

"Yang jelas para petani masih banyak yang menanam padi, bahkan baru menebar benih sehingga jelas membutuhkan air," katanya.

Sesuai data, katanya, di daerah irigasi barat, seperti di Kecamatan Sukosewu, Kapas, juga yang lainnya terdapat tanaman padi garapan seluas 400 hektare, tanaman padi yang baru ditanam 991 hektare dan palawija 567 hektare.

Di daerah irigasi tengah, lanjutnya, terdapat tanaman padi garapan seluas 910 hektare, benih padi 213 hektare, tanaman padi baru tanam 2.162 hektare dan palawija 868 hektare.

Sementara itu, di irigasi barat, seperti Kecamatan Kepohbaru dan sekitarnya terdapat tanaman padi garapan seluas 3.080 hektare dan palawija 2.372 hektare.

"Sejak 10 hari lalu air Waduk Pacal dikeluarkan 5 meter kubik/detik untuk mengairi areal pertanian di daerah irigaisnya," jelasnya.

Dengan pengeluaran air itu, lanjutnya, Waduk Pacal yang semula mampu menampung air hujan sekitar 24 juta meter kubik semakin berkurang dengan ketinggian air pada papan duga mencapai 111,86 meter atau sekitar 13 juta meter kubik per 21 Agustus.

"Pengeluaran air kemungkinan masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan karena ada permintaan air lagi dari petani di daerah irigasi barat yang masih kekurangan air," jelasnya.

Secara terpisah, Kasi Operasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro Mucharom menyatakan sudah mengimbau kepada berbagai pihak termasuk petani untuk tidak menanam padi pada musim kemarau ini.

"Kami tidak bisa mencegah para petani untuk tidak menanam padi. Yang jelas kalau ada tanaman padi akan sangat rawan dengan serangan hama," ujarnya. (*)