Surabaya (Antara Jatim) - Wartawan senior Yousri Nur Raja Agam meluncurkan buku "Riwayat Surabaya Rek. Doeloe, Kini, dan Esok" yang bercerita berbagai hal mengenai cikal bakal kelahiran Kota Surabaya hingga menjadi kota modern seperti sekarang.

Acara peluncuran ditandai dengan bedah buku yang menghadirkan Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Unitomo Surabaya Prof Dr Sam Abede Pareno, dosen Fakultas Ilmu Budaya Unair Dr Purnawan Basundoro, dan Ketua Yayasan Putra Surabaya Sabrot D. Malioboro di Surabaya, Selasa.

Menurut Yousri, rencana penulisan buku tentang Kota Surabaya telah muncul sejak 10 tahun lalu, namun baru bisa direalisasikan pada 2013, bertepatan dengan perayaan hari jadi ke-720 Kota Surabaya.

"Ide awalnya, saya ingin apa yang saya lihat, dengar, amati, alami, dan baca dari berbagai literatur tentang Surabaya, juga harus diketahui orang lain," kata pria kelahiran Bengkalis, Riau, 63 tahun silam itu.

Anggota PWI Jatim yang telah berkecimpung sebagai jurnalis sejak mahasiswa (pers kampus) itu mengemukakan bahwa buku tersebut merupakan bagian pertama dari sekitar tiga hingga empat judul buku riwayat Surabaya yang rencananya diterbitkan.

"Hasil kumpulan tulisan sempat saya konsultasikan dengan sahabat saya Prof Sam Abede, kemudian disarankan untuk membaginya menjadi beberapa buku agar tidak terlalu tebal dan pembacanya tidak jenuh," kata Yousri yang saat ini aktif sebagai Pemimpin Redaksi Koran DOR (tabloid terbitan Jatim).

Dalam buku setebal 357 halaman itu, Yousri menceritakan berbagai hal mengenai Kota Surabaya, mulai cikal bakal kelahiran hingga menjadi kota metropolitan yang akan menjadi provinsi Surabaya Raya.

Mengenai kelahiran Kota Surabaya, pria yang juga aktif di berbagai organisasi itu mengemukakan bahwa pada zaman dulu Surabaya itu "tidak ada" dan kawasan Surabaya yang sekarang adalah muara sungai serta terbentuk dari gugusan kepulauan.

"Nama lama Surabaya dulu adalah Hujunggaluh atau Ujunggaluh, kemudian berubah menjadi Curabhaya atau Sura Ing Baya. Keberhasilan Raden Wijaya sebagai pendiri Kerajaan Majapahit ketika mengusir tentara Tar-Tar pada 31 Mei 1293 pada pertempuran di Muara Sungai Brantas, menjadi cikal bakal lahirnya Surabaya," katanya.

Yousri mengakui buku karyanya masih jauh dari sempurna, tetapi diharapkan bisa menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat, terutama generasi muda mengenai Kota Surabaya.

"Mudah-mudahan di buku-buku berikutnya bisa lebih disempurnakan berdasarkan masukan dari berbagai kalangan dan tokoh masyarakat Surabaya," kata Yousri yang telah 38 tahun tinggal di Kota Pahlawan itu.

Guru Besar Fikom Universitas Dr Soetomo, Prof Dr Sam Abede Pareno, memberikan apresiasi tinggi terhadap peluncuran buku tersebut, apalagi penulisnya juga bukan asli orang Surabaya.

"Banyak hal baru tentang Surabaya yang terungkap dalam buku ini, salah satunya Wali Kota Surabaya pertama adalah Radjiman Nasution, bukan Doel Arnowo yang sebenarnya adalah wali kota keempat," katanya. (*)