Bojonegoro (Antara Jatim) - Jajaran Petugas Kepolisian Resor (Polres) Bojonegoro, Jatim, Senin, mengamankan arus lalu lintas di seputaran lokasi demontrasi yang digelar dua kelompok di pertigaan Tugu Adipura dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional.

"Teatrikal tangan dirantai ini mengambarkan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi pengembangan migas di daerahnya sendiri, juga mulut tertutup mengambarkan tidak bisa ikut menikmati hasil yang diperoleh dari migas," kata koordinator demo Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Bojonegoro Galih Satria Buana Putra, usai demo.

Oleh karena itu, lanjut dia, pemkab harus ikut bertanggung jawab atas segala dampak yang ditimbulkan adanya pertambangan migas di daerahnya.

Meski jumlah LMND yang mengelar demo tidak lebih dari 10 orang, namun arus lalu lintas di sepanjang jalan di pertigaan Tugu Adipura berjalan melambat.

Sejumlah petugas Lantas Polres harus mengatur arus lalu lintas dengan cara mengatur kendaraan dari arah yang berlawanan secara bergantian.

Begitu pula, petugas Lantas Polres tetap melakukan penjagaan untuk mengatur arus lalu lintas, ketika belasan mahasiswa PMII setempat juga demo memperingati Hari Kebangkitan Nasional, setelah demo LMND membubarkan diri.

Koordinator demo mahasiswa PMII Bojonegoro Herry Cahyono menyatakan pihaknya menuntut adanya pembangunan infrastruktur dan penambahan fasilitas pendidikan agar tercipta pendidikan yang ideal.

Alasannya, katanya, di daerah setempat masih ada bangunan gedung SDN yang rusak sedang sebanyak 701 ruang dan rusak berat 1.451 ruang. Tidak hanya itu di daerahnya juga masih kurang ruang kelas bagi SMP/SMA/SMK yang jumlahnya mencapai 155 ruang.

"Kami menolak pembangunan yang disentralkan di kota," ujarnya.

Belasan Mahasiswa PMII itu, juga demo di Kantor Dinas Pendidikan, DPRD dan Pemkab dengan tema yang sama dengan mendapatkan penjagaan puluhan petugas Polres.(*)