Surabaya, (Antara Jatim) - Jika hidup ini merupakan pilihan-pilihan, maka Initial Public Offering (IPO) juga merupakan satu pilihan, yakni pilihan untuk mendapatkan dukungan permodalan. IPO telah menjadi pilihan manajemen Bank Jatim untuk memperoleh dana segar penunjang ekspansi usahanya.

Inisiatif untuk memperoleh dana dari pasar modal melalui penerbitan saham itu sebenarnya sudah lama diinisiasi, meskipun baru terealisasi pertengahan 2012. Gubernur Jatim Soekarwo pernah menyampaikan, IPO Bank Jatim sudah bisa dilakukan pada tahun 2010. Namun, rencana penawaran saham perdana kembali molor dari tahun 2011 menjadi Juli 2012.

Di pasar modal, yang di Indonesia dikenal dengan Bursa Efek Indonesia (BEI), ada dua instrumen yang lazim digunakan untuk memperoleh dana, yakni menerbitkan saham atau mengeluarkan surat utang (obligasi). Pilihan di antara keduanya tergantung dari pertimbangan dan kepentingan masing-masing.

Proses IPO memang cukup panjang, karena harus melalui tahapan-tahapan seperti dipersyaratkan undang-undang. Tahapan itu biasanya menyangkut persiapan yang harus dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), pengajuan pendaftaran yang harus dilengkapi dokumen dan laporan keuangan yang telah diaudit, penawaran perdana serta pencatatan di bursa efek.

Dalam literartur, pengertian IPO memang cukup beragam. Tapi dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.8 tahun 1995 tentang Pasar Modal menyebutkan bahwa "public offering" adalah aktivitas yang dilakukan oleh "issuer" pada saat pertama kali menjual sahamnya ke publik berdasarkan regulasi pemerintah yang berlaku.

Dengan demikian, cukup beralasan kiranya jika IPO yang dilaksanakan Bank Jatim sempat mundur. Banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum melakukan perdana maupun pencatatan di bursa efek, agar setelah tercatat, nilai saham tidak anjlok. Sebab, sentimen negatif sekecil apapun bisa berdampak turunnya nilai saham di pasar bursa. Begitu pula sebaliknya, sentimen positif apapun akan cukup membantu mendongkrak naiknya nilai saham.

Berdasarkan data PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (Bank Jatim), penawaran perdana saham (IPO) sebanyak-banyaknya 2,98 miliar saham baru. Saham itu berupa saham Seri B atau 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor. Sedangkan saham Seri A Bank Jatim dimiliki Pemerintah Provinsi Jawa Timur 64,33 persen dan Pemerintah Kota/Kabupaten se-Jawa Timur 35,67 persen.

Direktur Utama Bank Jatim, Hadi Sukrianto, dalam "Public Expose Due Diligence Meeting" terkait rencana IPO di Jakarta pada 19 Juni 2012 menjelaskan, masa penawaran awal saham Bank Jatim dilakukan 19-26 Juni 2012, dan dilanjutkan dengan penetapan harga pada 26 Juni 2012.

Bank Jatim saat itu masih menunggu pernyataan efektif dari Bapepam-LK yang diharapkan akan diperoleh pada pada 29 Juni 2012. Setelah penawaran umum pada 3-6 Juli 2012, penjatahan dilakukan pada 9 Juli 2012 dan puncak prosesi IPO yakni pencatatan saham di papan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Juli 2012.

Untuk memperlancar proses IPO, Bank Jatim telah menunjuk dua perusahaan sekuritas selaku Penjamin Emisi yakni PT Bahana Securities dan PT Mandiri Sekuritas.

Menurut Hadi, IPO untuk mendukung investasi perseroan tersebut didasari oleh beberapa pertimbangan, di antaranya adalah pendapatan dan laba perseroan yang stabil terus meningkat sebagai cerminan kinerja keuangan yang kuat.

Selain itu, portofolio utang perseroan berisiko rendah, dengan nilai NPL (non performing loan) di bawah 1 persen dalam 8 tahun terakhir. Pendapatan bunga 2011 sebesar Rp2,8 triliun dengan laba bersih sebesar Rp900 miliar.

Total aset Bank Jatim hingga akhir 2011 sebesar Rp24,8 triliun, dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp19,9 triliun, loan to deposit ratio (LDR) Rp80,11 triliun, perbandingan antara pendapatan dengan semua aset (Retrun on Assets) 4,97 persen, NPL gross 0,97 persen, Net Interest Margin (NIM) 7,95 persen, dan rasio efisiensi bank yang mengukur beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) 60,02 persen.

Penyisihan piutang tak tertagih atau Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) juga terus turun dari 2010 sebesar Rp182,12 miliar menjadi Rp101,43 miliar di akhir 2011. "Ini menunjukkan kinerja keuangan yang baik dari Bank Jatim, terutama dalam bidang profitabilitas dan efisiensi," katanya menegaskan.

Sementara itu, berdasar data 2011, portofolio kredit bank sebesar 60 persen multiguna, 16 persen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dan 24 persen kredit lain-lain. Sedangkan simpanan nasabah Bank Jatim sendiri antara lain 24 persen deposito, 35 persen tabungan, dan 41 persen giro.



Tercatat di Bursa

Proses panjang telah dilalui. Saham Bank Jatim akhirnya tercatat (listing) di BEI dengan nama PT Bank Pembagunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM). Bank Jatim melepas 2,98 miliar lembar saham pada harga Rp430 per saham. Dana hasil IPO sekitar 80 persen di antaranya untuk mendukung ekspansi kredit. Sementara sisanya untuk pengembangan jaringan dan peningkatan teknologi informasi perseroan.

Vice President Corporate Communications Mandiri Sekuritas selalu penjamin pelaksana emisi IPO Bank Jatim, Nadira Febrianti, pernah mengatakan, saat penawaran umum (IPO) Bank Jatim menawarkan saham sebanyak 2.983.537.000 lembar saham baru atau 20 persen dari kepemilikan publik dengan harga penawaran Rp 430 per lembar saham.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 persen saham Bank Jatim dibeli investor asing dan 80 persen dibeli investor lokal, dengan rincian 70 merupakan investor institusi dan 30 investor retail. Investor asing tersebut dari Singpura, Kuala Lumpur, dan Hongkong.

Berdasarkan komposisi peruntukannya Bank Jatim tampaknya tidak hanya ingin memperluas pasar dan memperkokoh usaha perbankan yang digeluti. Bank Jatim menargetkan perolehan dana hasil IPO guna menambah Capital Adequate Ratio (CAR) perseroan hingga akhir tahun pada kisaran 20-21 persen. CAR adalah perbandingan antara modal dan aset tertimbang menurut risiko.

Suntikan dana tersebut terus dimaksimalkan manajemen Bank Jatim. Sebab, dana yang diperoleh dengan menerbitkan saham disadari bukanlah dana cuma-cuma, tapi harus dikelola dengan baik agar bisa mendukung kinerja sesuai yang diharapkan, yakni penyaluran kredit terus tumbuh. Selain itu, hasil dari IPO itu harus dipertanggungjawabkan kepada pemilik saham sebagaimana perusahaan terbuka lainnya.

Langkah manajemen Bank Jatim untuk menarik modal dari pasar bursa guna mengembangkan usaha tersebut sudah pasti melalui perhitungan yang matang. Keputusan menerbitan saham pada 2012 dinilai positif, sebab pada tahun itu, industri perbankan mengalami perkembangan yang menggembirakan.

Sejumlah pengamat pasar modal bahkan menilai tahun 2012 merupakan tahun sukses industri perbankan. Laba sejumlah bank terkemuka tumbuh berkisar 20 -30 persen, kredit tumbuh di atas 20 persen dan dana pihak ketiga meningkat di atas 20 persen.

Saham-saham emiten perbankan di pasar modal favorit di kalangan investor dalam dan luar negeri karena fundamentalnya yang kuat dan prospek yang cerah seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih di atas enam persen.

Pada tahun 2013 meski diprediksikan kondisi ekonomi global sangat dinamis, tapi perekonomian Indonesia diperkirakan stabil dan cerah. Pertumbuhan ekonomi domestik pada tahun 2013 diperkirakan sekitar 6,3 persen atau bahkan lebih tinggi karena program Masterplan Percepatan Pembangunan Perekonomian Indonesia (MP3EI) dengan dana triliunan terus digenjot. Kinerja perekonomi dan perbankan pada tahun ini diperkirakan tetap bersinar.

Bersinarnya industri perbankan itu di antaranya bisa diikuti dari perjalanan usaha Bank Jatim, utamanya pasca-IPO. CAR Bank Jatim pada 2012 di level 20,99 persen dan setelah ada tambahan dana dari IPO, CAR bank ini akhir tahun berkisar 21-22 persen.

"Hingga 16 Juni 2012 kredit kita tumbuh menjadi Rp17,7 triliun dari 2011 yang sebesar Rp16,1 triliun,” kata Dirut Bank Jatim Hadi Sukrianto seraya menambahkan bahwa DPK juga tumbuh dari posisi tahun 2011 sebesar Rp20,1 triliun menjadi Rp23,3 triliun per Juni 2012, sehingga LDR tercatat di posisi 76,35 persen. Laba per Juni 2012 pun tercatat Rp466 miliar.

Dengan rata-rata pertumbuhan kredit di level 23-24 persen per tahun, katanya, posisi CAR perseroan pada 2016 diperkirakan akan turun kembali ke level 16-17 persen atau sejalan dengan target kredit Bank Jatim yang diharapkan fokus ke UMKM hingga 80 persen dan sisanya 20 persen ke korporasi.

Bisnis utama (core business) Bank Jatim saat ini masih pada kredit konsumsi (cunsumer loan), tetapi perlahan-lahan secara selektif Bank Jatim tampaknya akan mengarah ke UMKM yang potensinya sangat besar. "Untuk Kredit Usaha Rakyat saja kita menyalurkan Rp1,7 triliun kepada 25 ribu nasabah," kata Hadi memberi ilustrasi.

Bank Jatim hingga akhir tahun 2013 akan menambah 25 cabang dan 120 ATM. Dari 25 cabang tersebut, 17 di antaranya naik kelas dari kantor kas menjadi kantor cabang, dan 8 cabang baru. Investasi untuk cabang sekitar Rp20 miliar dengan indikasi per cabang sekitar Rp1 miliar.

Sedangkan untuk pengembangan teknologi informasi, Bank Jatim mengalokasikan investasi sekitar Rp178 miliar yang akan dimanfaatan untuk peningkatan pelayanan melalui sistem teknologi informasi yang baik sehingga Bank Jatim semakin dekat dengan masyarakat.

Hadi menambahkan, sebelum IPO pemegang saham Seri A telah menyuntik modal Perseroan sebesar Rp 700 miliar, dengan rincian sebesar Rp280 miliar oleh Pemerintah Provinsi Jatim, dan sisanya dari Pemerintah Kota/Kabupaten se-Jatim.

Kondisi makro ekonomi dan perekonomian Indonesia tampaknya masih menjajikan bagi tumbuh kembangnya industri perbankan, meskipun bukan berarti tanpa risiko. Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menyusul membengkaknya nilai subsidi pemerintah, mungkin salah satu isu lokal yang patut diwaspadai dampaknya oleh perbankan, khususnya Bank Jatim.

Kebijakan menaikkan harga BBM dinilai tidak memberi stimulus terhadap ekspansi proyek-proyek infrastruktur yang harusnya dapat menguatkan diversifikasi pertumbuhan ekonomi ke seluruh negeri. Apalagi program MP3EI yang terus digenjot.

Bank yang aktif dalam melakukan "bridging finance" atas proyek-proyek berbasis APBD agaknya perlu lebih waspada dan selektif, bahkan jika bisa melakukan diversifikasi pembiayaan. Memang, bisnis dan risiko bagaikan dua sisi mata uang, harus sama-sama diperhatikan dan diwaspadai. Artinya, prinsip prudensial harus dijalani.

Kinerja

Kinerja Bank Jatim pada kuartal pertama 2013, atau beberapa bulan setelah IPO, tampaknya selaras dengan yang diharapkan, tumbuh menggembirakan. Kondisi tersebut bisa jadi merupakan jawaban atas keraguan sejumlah pihak terhadap kinerja bank pembangunan daerah ini.

Bank Jatim menjawab penilaian pelaku pasar modal yang mempersepsikan saham Bank Pembangunan Daerah (BPD), seperti halnya Bank Jatim, tidak prospektif untuk berinvestasi. Pelaku pasar yang menilai saham BPD belum menjanjikan sehingga perdagangannya juga tidak atraktif, bukan penilaian yang bisa diseragamkan terhadap saham Bank Jatim.

Terpaan miring adanya kredit fiktif Rp50 miliar tak terlalu berpengaruh terhadap kinerja perbankan ini. Apalagi masalah tersebut telah ditangani aparat kepolisian dari Polda Jatim dan sudah menetapkan sejumlah tersangkanya.

Kredit bermasalah atau NPL yang selama ini lebih banyak pengaruh dari pengucuran KUR, sudah dikelola dengan baik. Pemahaman nasabah bahwa KUR sebagai hibah sehingga tidak perlu mengembalikan, telah diluruskan. Kucuran sedikit dibatasi sambil terus memberikan pemahaman kepada nasabah tentang KUR.

KUR adalah jenis kredit atau pembiayaan modal kerja atau investasi kepada usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi (UMKMK) di bidang usaha yang produktif yang layak namun belum "bankable" dengan plafon kredit hingga Rp500 juta yang dijamin oleh perusahaan penjaminan.

Terkait dengan penyaluran KUR, Bank Jatim tahun ini mencoba menyalurkannya secara selektif. Alasannya, kredit macet di Bank Jatim yang disumbang dari KUR cukup besar. Bank Jatim tahun ini mengucurkan KUR sekitar Rp750 miliar, sedangkan sebelumnya mencapai Rp997 miliar.

Tingkat gagal bayar Bank Jatim pada per Januari 2013 mencapai 3,25 persen. Nilai tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan periode yang sama 2012 sebesar 2,96 persen. Bank Jatim menargetkan NPL hanya 1,5 persen.

Bank Jatim berkomitmen untuk terus meningkatkan kinerja sesuai "corporate plan" agar bisa menjadi "Bank Regional Champion" di tahun 2014. Dalam mewujudkan hal tersebut, Bank Jatim telah mempersiapkannya dengan peningkatan kinerja sebaik mungkin. Tekad tersebut telah dimulai dan terus berlangsung.

Memasuki kuartal pertama 2013, Bank Jatim per Maret 2013 berhasil mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp300,933 miliar atau tumbuh sebesar 3,50 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya (Year on Year/ YoY) sebesar Rp290,741 miliar.

Angka tersebut didapat dari penyaluran kredit yang mencapai Rp18,804 triliun atau tumbuh sebesar 13,53 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya ( YoY) sebesar Rp16,562 triliun. Perolehan DPK juga naik sebesar Rp 25,639 triliun, atau tumbuh 5,10 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya (YoY) sebesar Rp24,393 triliun.

Pendapatan bunga bersih mencapai Rp547,931 miliar, tumbuh sebesar 16,70 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp469,511 miliar. Pendapatan operasional selain bunga juga naik mencapai Rp111,270 miliar atau tumbuh 53,32 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya ( YoY) sebesar Rp72,570 miliar.

Guna menunjang tercapainya "corporate plan", Bank Jatim berusaha meningkatkan mutu dan layanan serta berupaya untuk terus melakukan inovasi untuk bisa menjadi bank yang sehat dan berkembang secara wajar sesuai dengan visinya.

Bank Jatim bahkan meluncurkan layanan "Intercity Clearing" yaitu layanan untuk nasabah yang mempunyai rekening Giro. Dengan intercity clearing nasabah dapat mencairkan warkatnya di seluruh cabang Bank Jatim. Layanan ini dimaksudkan pula untuk terus meningkatkan "market share" Giro Bank Jatim yang saat ini paling dominan ketimbang layanan serupa dari 78 bank di Jatim. Bank Jatim berkontribusi sekitar 24,53 persen terhadap pasar giro di Jatim.

Sedangkan layanan berbasis teknologi informasi, Bank Jatim juga terus mengembangkan layanan SMS Banking, Internet Banking, dan Host To Host Multi Biller.

Bank Jatim membagikan deviden sebesar 81,8 persen atau sekitar Rp592 miliar dari total laba tahun 2012 sebesar Rp 724,83 miliar. Dari jumlah itu, Pemprov Jatim sebagai pemegang saham mayoritas mendapat yang terbesar, yaitu Rp 300 miliar.

Direktur Utama PTBank Jatim Tbk, Hadi Sukrianto usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), mengakui deviden yang dibagi cukup besar. Ke depan manajemen akan menjelaskan pada pemegang saham kabupaten, kota dan provinsi tentang pembagian deviden. Ini karena, perseroan perlu tambahan modal untuk ekspansi pelayanan, penyaluran kredit, dan pembangunan insfrastruktur.

Untuk ekspansi tahun 2013, sesuai dengan rencana bisnis (Renbis) dan penggunaan dari hasil IPO yang telah disetujui Bank Indonesia (BI), sebagian menggunakan dana hasil IPO. “Masih ada sekitar Rp 190 miliar dana hasil IPO yang belum digunakan,” kata Hadi Sukrianto.

Setelah IPO, komposisi pemegang saham Seria A Bank Jatim Tbk adalah Pemprov Jatim sebesar 51,46 persen. Pemerintah kabupaten se-Jatim sebesar 23,04 persen, dan pemerintah kota sebesar 5,50 persen. Sedangkan saham Seri B, adalah masyarakat sebesar 20 persen.

Untuk mencapai target sesuai dengan Renbis yang telah disetujui pemegang saham, pada tahun 2013 akan dilakukan pembukaan dua cabang syariah, dua cabang pembantu syariah. Peningkatan status 27 cabang pembantu. Pendirian tiga kantor kas. Peningkatan status tujuh kantor kas, pendirian 37 payment point, dan pembukaan 100 ATM.

Untuk layanan, saat ini Bank Jatim telah tergabung dalam jaringan ATM Bersama dengan total jaringan 45.902 mesin ATM, dan ATM Prima dengan total mesin ATM 45.902 unit. Kemudian Prima Debit di 177.522 mesin Electronic Data Capture (EDC). “Bank Jatim akan terus menambah jaringan, agar semua wilayah Jatim bisa dilayani oleh Bank Jatim,” kata Hadi Sukrianto.

Tren Positif

Pencatatan saham Bank Jatim di BEI tampaknya berada pada tren positif. Tren positif itu memberikan kepercayaan publik terhadap kinerja bank tersebut semakin menguat. Buktinya, harga saham bank yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemprov Jatim itu telah naik sekitar 20 persen dari Rp430 per lembar saham saat IPO pada 1 Juli 2012, menjadi Rp520 per lembar saham pada 22 Maret 2013.

Penguatan nilai saham tersebut tampaknya akan terus berlanjut. Gubernur Jawa Timur Soekarwo bahkan menyatakan Bank Jatim telah mendapatkan kepercayaan dari para nasabah dan investor yang tercermin dari perkembangan harga saham. "Progress-nya memang belum besar, namun sudah terlihat ada pertumbuhan," katanya.

Pertumbuhan itu mampu memberikan kepastian pada investor sehingga mampu mendongkrak harga saham menjadi lebih tinggi. "'Setelah RUPS ini, harga per lembar saham kita harapkan semakin naik seiring dengan meningkatnya profesionalitas Bank Jatim," kata Gubernur Jatim yang akrab disapa Pakde Karwo ini.

Langkah manajemen Bank Jatim untuk mencatatkan sahamnya di BEI, tampaknya mendorong perusahaan lain untuk mengikutinya. Sejumlah perusahaan kini melakukan hal yang sama. Euforia pasar saham domestik yang berada dalam tren positif menjadi salah satu alasan perusahaan melakukan penawaran saham perdana (IPO) tahun ini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen, mengatakan saat ini sudah ada sekitar delapan perusahaan yang akan melakukan IPO di tahun ini. Beberapa calon emiten menggunakan laporan keuangan Desember 2012 sebagai acuan pelaksanaan IPO dimana batas akhir pencatatan saham di BEI adalah Juni 2013.

"Kami berharap jumlah calon emiten yang melakukan pencatatan saham perdana sampai dengan pertengahan tahun ini bisa mencapai 15 emiten sehingga target 30 emiten baru tercapai di tahun ini," kata Hoesen menjelaskan.

Perusahaan yang telah mencatatkan saham perdana di BEI, yakni PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM), PT Saraswati Griya Lestari Tbk (HOTL), PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME).

Selain itu, PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk (MAGP), PT Trans Power Marine Tbk (TPMA), PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP), PT Dyandra Media International Tbk (DYAN) dan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT).

Bertambahnya perusahaan yang melakukan IPO tersebut diharapkan menjadi sentimen positif dan akan mendorong peningkatan nilai kapitalisasi pasar modal domestik. Nilai kapitalisasi pasar modal Idonesia saat ini sebesar Rp4.955 triliun.

Pasar saham agaknya kini sedang dalam kondisi cukup bergairah. Kondisi makro dan mikro ekonomi yang stabil serta terjaganya pertumbuhan ekonomi Jatim dan Indonesia, tampaknya menjadi aspek pendukung terciptanya kegairahan tersebut.

Bank Jatim sebagai pendatang baru dalam bursa saham, agaknya merasakan hal itu. Saham "BJTM" yang merupakan nama saham Bank Jatim di lantai bursa, kini mengindikasikan penguatan pula. Perjalanan panjang menuju IPO memang melelahkan, tapi kelelahan itu akhirnya terbayar sudah. Penguatan harga saham, penguatan ekspansi kredit serta perluasan jaringan seperti diharapkan sebelum IPO, kini telah menggeliat, meskipun perlu terus didorong. (*)