Bojonegoro (Antara Jatim) - Unit Pelaksana Teknis Kayu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bojonegoro, Jawa Timur, diminati para perajin mebel, karena ongkos menggergaji kayu hanya Rp150 ribu per meter kubik, lebih murah dibanding di tempat lain.

"Ongkos menggergaji kayu di penggergajian lain bisa mencapai Rp175 ribu per meter kubik, sehingga perajin mebel lebih memilih menggergaji kayunya di UPT Kayu," kata Kepala UPT Kayu Disperindag Bojonegoro Mustam, Kamis.

Selain itu, lanjut dia, para perajin juga tidak harus mengeluarkan ongkos angkut kayu, karena lokasi UPT Kayu juga di Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, berdekatan dengan lokasi para perajin kayu.

"Para perajin mebel di Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, yang jumlahnya sekitar 75 perajin mebel semuanya menggergaji kayunya di UPT Kayu yang berdiri sejak 2010," katanya.

Ia menjelaskan di UPT Kayu memiliki tiga jenis gergaji yaitu gergaji "bensaw", "circle", dan pelurus.

Sedangkan gergaji ukir seperti yang ada di unit kerajinan Jepara, Jawa Tengah, belum dimiliki UPT Kayu di Bojonegoro.

Gergaji yang ada itu, lanjut dia, bisa dimanfaatkan untuk membuat bahan mebel, antara lain, meja kursi, almari, kusen-kusen, juga yang lainnya.

"Kalau mebel ukir memang belum ada, sebab UPT Kayu belum memiliki gergaji ukir yang harganya mencapai Rp1 miliar lebih," ujar Mustam.

Di lain pihak, menurut Mustam, di UPT Kayu juga belum memiliki gedung yang bisa dimanfaatkan para perajin untuk merakit mebel setelah mengergajikan kayunya, sehingga sebagian perajin masih ada yang mengambil mebel setengah jadi asal Jepara, Jateng.

"Tapi mebel setengah jadi asal Jepara yang diambil para perajin semakin berkurang sejak keberadaan UPT Kayu," jelas seorang perajin mebel di Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, Afan.

Yang jelas, menurut Mustam, dibenarkan Afan, keberadaan UPT Kayu membawa pengaruh meningkatnya kualitas mebel yang dihasilkan para perajin di Desa Sukorejo, karena mampu membuat mebel sendiri dengan memanfaatkan bahan kayu asal Bojonegoro.

Bahkan, lanjut Afan, para perajin juga tidak kesulitan memperoleh kayu jati berkualitas baik di Kesatuan Pemangkuan Hutan KPH) Bojonegoro, juga di KPH lainnya di Tuban.

"Mebel Jepara memanfaatkan kayu jati "kampung", sehingga kualitasnya tidak terlalu bagus," kata Afan. (*)