Madiun (Antara Jatim) - PT KAI Daerah Operasional VII Madiun mulai memberlakukan tarif komersial pada kereta api ekonomi jarak jauh yang dilengkapi dengan fasilitas pendingin ruangan atau KA Ekonomi AC.

Manajer Humas PT KAI Daop VII Madiun Sugianto, Sabtu, mengatakan, pemberlakuan tarif komersial tersebut berdasarkan keputusan direksi. Dimana, PT KAI akan mengubah format pelayanan KA Ekonomi menjadi kelas komersial yang ditargetkan mulai berlaku menyeluruh pada Mei mendatang.

"Pemberlakuan tarif komersial ini akan menggunakan tarif batas atas dan batas bawah tergantung dari pasar. Yakni berkisar antara Rp125.000 hingga Rp150.000 per penumpang dewasa," ujar Sugianto, kepada wartawan.

Adapun KA Ekonomi AC jarak jauh yag telah dikomersialkan tarifnya di wilayah Daop VII Madiun adalah KA Brantas jurusan Kediri-Tanjung Priok, Jakarta dan KA Kahuripan jurusan Kediri-Padalarang, Bandung.

Menurut dia, dengan pemasangan AC di kabin kereta kelas tiga tersebut, maka tarif keretanya tak lagi mendapatkan subsidi. Sejak Februari 2013, pihaknya sudah menjalankan program tersebut secara bertahap.

"Awalnya untuk KA Brantas hanya dua hingga tiga gerbong saja yang diberlakukan tarif komersial dan lainnya masih menggunakan tarif ekonomi biasa. Namun sekarang semuanya telah menggunakan tarif ekonomi AC atau komersial," kata Sugianto.

Pihaknya menjelaskan, pemberlakuan tarif komersial ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan yang diberikan PT KAI kepada kepada masyarakat atau penumpang.

"Sesuai rencana, nantinya secara bertahap semua kereta api ekonomi jarak jauh harus dilengkapi dengan fasilitas AC. Itu sudah keputusan direksi atau pusat," katanya.

Sementara, untuk KA ekonomi lokal dan perintisan seperti KA Doho, KA Penataran, KA Arjuna, dan KA Madiun Jaya masih menggunakan tarif ekonomi biasa dan parsial.

Sugianto menambahkan, guna memperlancar pelayanannya, PT KAI juga melakukan perubahan grafik perjalanan kereta api yang berlaku mulai 1 April 2013.

"Ada yang maju hampir satu jam seperti KA Brantas dan KA Arjuno. Namun ada juga yang mundur, seperti KA Turangga dan lainnya," tambah Sugianto.

Perubahan grafik perjalanan kereta api tersebut disebabkan karena beberapa hal. Di antaranya adalah, penambahan jumlah perjalanan KA, perubahan waktu jarak tempuh perjalanan KA, pasar relasi perjalanan KA, dan juga pemanfaatan jalur baru. (*)