Tulungagung (Antara Jatim) - Dua eks-lokalisasi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur ditengarai kini tetap menjadi sentra prostitusi terselubung (liar) dengan berkedok warung karaoke ataupun sekedar warung kopi.

Antara di Tulungagung, Jumat, melaporkan, aktivitas pelacuran bahkan terlihat dilakukan secara terang-terangan dengan menyediakan bilik-bilik untuk bercinta.

Pemilik rumah karaoke maupun warung kopi sepertinya sengaja mempekerjakan para pekerja seks komersil (PSK) atau wanita tuna susila (WTS) yang sebelumnya menjadi penghuni eks-lokalisasi Ngujang maupun Kaliwungu untuk menjadi pemandu lagu dan pelayan warung.

"Kemarin (Kamis, 28/3) sudah kami sidak (inspeksi mendadak), masalah ini segera ditertibkan," kata Kabid Penataan dan Ketertiban Satpol PP Kabupaten Tulungagung, Hari Ðw.

Tidak sekedar melakukan penertiban biasa, Satpol PP bahkan telah mengumpulkan semua pemilik warung kopi maupun warung karaoke "remang-remang" yang ada di eks-Lokalisasi Ngujang maupun Kaliwungu.

Mereka kemudian diimbau agar secepatnya mengurus HO dan izin usaha ke Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) setempat, untuk menghindari penutupan secara paksa.

"Kami juga memperingatkan, siapa saja yang melakukan, melayani, serta menyediakan
layanan prostitusi akan dijerat dengan hukum pidana tentang perdagangan manusia ("trafficking")," tegasnya.

Masih banyaknya aktivitas perdagangan seksual di bekas dua lokalisasi terbesar di Kabupaten Tulungagung tersebut kontras dengan penghargaan yang pernah diterima pemerintah daerah setempat dari Kementrian Sosial RI, akhir pertengahan 2012.

Saat itu, Kabupaten Tulungagung dinilai berhasil dalam melakukan penutupan dua lokalisasi di daerahnya tanpa ada gejolak ataupun konflik sosial.

Kementrian Sosial RI bahkan memberikan penghargaan khusus dan menjadikan Tulungagung sebagai daerah percontohan bagi kota/kabupaten lain se-Indonesia yang masih memiliki lokalisasi bagi pekerja seks komersil.

Beberapa penghuni eks-lokalisasi Ngujang dan Kaliwungu mengaku janji bantuan keuangan dari pemerintah untuk usaha lain maupun ganti rugi bangunan belum juga direalisasikan sehingga mereka memilih nekat menjalani aktivitas lamanya. (*)