Surabaya - Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al Jufri dalam kunjungan kerjanya ke Balai Kota Surabaya, Jumat mendukung upaya Pemkot menutup tiga lokalisasi selama 2013.

Salim menilai Surabaya merupakan kota yang berhasil menekan angka prostitusi melalui pengentasan pekerja seks komersial (PSK) dan penutupan lokalisasi.

"Terus terang, saya sudah berkeliling provinsi, kabupaten dan kota, tapi belum pernah menjumpai program yang seperti ini. Saya sangat salut. Ini bisa jadi pilot project nasional," ujarnya.

Menurut dia, umumnya kendala yang dihadapi saat hendak menutup lokalisasi adalah peralihan ke profesi baru. Itu lantaran pendapatan yang bakal diterima PSK setelah keluar dari profesinya bisa jadi lebih sedikit.

Oleh karenanya, lanjut dia, penyediaan lapangan kerja menjadi solusi yang paling pas, agar wanita harapan ke depan bisa mandiri. "Yang terpenting adalah ketika beralih profesi mereka bisa mendapat penghasilan yang tak jauh beda dari sebelumnya, dan yang pasti harus halal," kata menteri dari Partai Keadilan Sejahtera ini.

Intinya, kata dia, Kemensos siap mendukung sepenuhnya upaya pemkot dalam revitalisasi kawasan lokalisasi.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjelaskan tahun ini pemkot berencana menutup tiga lokalisasi yakni Tambak Asri (April 2013), Klakah Rejo (Agustus 2013), dan Sememi (Desember 2013).

"Sedangkan Lokalisasi Dolly dan Jarak diagendakan tutup pada 2014," katanya.

Risma memaparkan rincian kondisi lokalisasi yang bakal tutup tahun 2013 yakni Tambak Asri terdapat 96 wisma, 96 mucikari, 354 PSK, sedangkan Klakahrejo terdapat 70 wisma, 65 mucikari, 219 PSK. Sementara Sememi terdapat 32 wisma, 22 orang, 208 PSK.

Wali kota pertama di Surabaya ini mengatakan jumlah PSK dan mucikari di Surabaya tiap tahun mengalami penurunan. Hal itu dikarenakan adanya kesepakatan tentang larangan penambahan PSK baru.

"Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan terus melakukan pemantauan. Jika ketahuan ada PSK baru, wisma yang bersangkutan disanksi tutup," katanya.

Data terbaru, pada 2012 jumlah PSK yang teridentifikasi sebanyak 2.117 orang dan mucikari 584 orang. Sebagai pembanding, pada 2008 lalu, masih dijumpai 3.518 PSK dan 915 mucikari di Surabaya.

Pascapenutupan lokalisasi, kata dia, pihaknya tak serta merta lepas tangan, melainkan pemkot terus memonitor dan mendampingi eks-PSK dan mucikari. Berdasarkan pantauan, mereka banyak yang menekuni usaha kecil atau pulang ke kampung halamannya.

Diakui Risma, pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu senjata andalan bagi eks-PSK dalam berwirausaha. "Saat ini wanita harapan (PSK) sudah banyak yang menerima order-an membuat sovenir dan oleh-oleh khas Surabaya. Dalam waktu dekat, kami juga akan membangun pasar serta sentra PKL di Tambak Asri agar mereka bisa berjualan di situ," katanya.

Sementara menanggapi potensi metamorfosis ke bentuk prostitusi lainnya jika lokalisasi ditutup, wali kota menyatakan pihaknya sudah mengantisipasi dengan menggencarkan sweeping di tempat-tempat hiburan malam. Langkah pencegahan juga dilakukan dengan rajin sosialisasi ke sekolah-sekolah dan razia di mal-mal. (*)