Malang - Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup atau Walhi Jawa Timur simpul Malang Purnawan D Negara menilai Kota Batu saat ini dalam proses "pembetonan" dengan cara memunculkan bangunan hotel-hotel baru.

"Berkembang pesatnya hotel dan wahana wisata buatan membuat Kota Batu mau tidak mau berubah dan lahan-lahan terbuka yang menjadi resapan atau hutan beralih fungsi," katanya di Malang, Jumat.

Akibat banyaknya lahan hijau yang berubah fungsi tersebut, kata Purnawan yang akrab dipanggil Pupung itu, Kota Batu berubah menjadi daerah banjir ketika musim hujan, meski berada di dataran tinggi. Berarti ada yang salah karena dataran tinggi masih terkena banjir.

Menurut dia, alih fungsi lahan pertanian maupun ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Batu dalam kurun waktu lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan, terutama untuk pembangunan hotel, tempat wisata dan perekonomian modern.

Ia menilai, Kota Batu berada diambang kerusakan ekologis yang kritis akibat perusakan dan penjarahan ekologi. Apalagi, selama ini kebijakan Pemkot Batu cenderung mengarah ke echo destructive dan echo blunder diantaranya mengizinkan berdirinya hotel dan wisata di kawasan perlindungan dan bertentangan dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW).

Salah satu kebijakan Pemkot Batu yang sama sekali tidak pro-lingkungan dan sangat fatal adalah pemberian izin pembangunan Jambuluwuk Resort, sebab bangunan tersebut berdiri di kemiringan sekitar 40 derajat.

Dan, lanjut Purnawan, yang terbaru adalah pemberian izin pembangunan Hotel Rayja yang berlokasi di atas sumber air Gemulo. Meski sudah berkali-kali ditentang oleh warga, proses perizinannya tetap jalan.

Padahal, tegasnya, Wali Kota Batu Eddy Rumpoko pernah berjanji tidak akan mengeluarkan izin lagi untuk pembangunan hotel dan akan memberdayakan desa sebagai area wisata (desa wisata). "Kami sambut positif kebijakan itu dan tentunya kami tunggu realisasi dan komitmennya," tandasnya.(*)