Surabaya - Mantan Bupati Bojonegoro Santoso, menjalani sidang perdana kasus korupsi dana 'Mobile Cepu Limited' (MCL) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya, Rabu.

Kali ini, pria yang baru sebelumnya sempat menjalani hukuman lima tahun penjara atas perkara korupsi APBD Bojonegoro tersebut, diadili bersama mantan Sekretaris Kabupaten Bojonegoro, Bambang Santoso.

Dalam persidangan tersebut, Jaksa Penuntut Umum, Muhlis, menjerat keduanya dengan pasal 2 dan 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman hukuman hingga seumur hidup.

Kedua terdakwa diduga mengorupsi dana operasional pembebasan lahan untuk eksplorasi migas Blok Cepu dari MCL sebesar Rp 3.814.650.000 (Rp 3,8 miliar). Dana ini diberikan MCL untuk bantuan kerja Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Dana tersebut diberikan MCL berdasarkan penandatanganan nota kesepahaman bernomor 188/04/412.12/2007 tanggal 16 Mei 2007 antara Pemkab dengan MCL.

Muhlis menjelaskan, seharusnya uang dari MCL tersebut dimasukkan ke rekening kas daerah (Kasda), namum Santoso memasukkannya ke rekening Tim Koordinasi dan Pengendali Pembebasan Tanah untuk keperluan MCL. Di dalam tim, Santoso selaku Pelindung, sedangkan Bambang Santoso sebagai Ketua I.

"Tapi kenyataannya ada dana yang digunakan di luar ketentuan kesepakatan yang sudah disetujui," ujar JPU, Muhlis, ketika membacakan dakwaannya.

Pihaknya juga mengungkapkan bahwa tidak sedikit pengeluaran fiktif muncul. Diantaranya pembayaran honor Rp280 juta, biaya rapat tim senilai Rp56 juta. Padahal, tidak ada realisasi rapat dan Rp957,5 juta untuk dana sosialisasi.

"Kenyataannya, dana sosialisasi dibiayai oleh sumber lain. Bahkan, dua terdakwa diduga kuat tidak pernah hadir dalam acara sosialisasi," katanya.

Tidak hanya itu saja, berbagai pengeluaran fiktif antara lain dana Kasatpol PP Rp500 juta, pengamanan dan cipta kondisi Rp145 juta, sewa kendaraan fiktif, dana pers dan nasi kotak.(*)