Trenggalek - Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menyelidiki kematian ribuan ayam di wilayah Kecamatan Rejotangan yang diduga disebabkan virus
flu burung (H5N1).

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan kabupaten Tulungagung, Mulyanto, Sabtu mengaku, beberapa petugas telah mereka kerahkan ke sejumlah sentra peternakan ayam di Dusun Ngipik, Desa Tenggur, Kecamatan Rejotangan untuk mendeteksi kasus kematian mendadak ribuan ayam yang terjadi di wilayah tersebut selama sebulan terakhir.

"Meskipun sudah sampai di sana, kami belum bisa memeriksa secara fisik terhadap bangkai ayam yang mati, karena seluruh unggasnya sudah tidak ada sehingga kami hanya sebatas melakukan wawancara," katanya.

Dari proses wawancara tersebut, lanjut dia, diketahui ribuan ayam petelur tersebut mati secara sporadis dengan ciri-ciri yang hampir sama dengan serangan virus flu burung (H5N1).

Untuk memastikan prediksi tersebut pihaknya mengimbau masyarakat terutama di sekitar Kecamatan Rejotangan untuk segera melaporkan ke dinas peternakan apabila muncul kasus serupa, sehingga petugas kesehatan hewan bisa melakukan pemeriksaan sampel ayam yang terserang.

"Terkait hal ini kami juga telah menghubungi tim Laboratorium Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Timur di Malang, kemungkinan dalam waktu dekat akan segera meluncur ke Tulungagung," imbuh Mulyanto.

Sementara itu, untuk mencegah penyebaran virus flu burung, dinas peternakan mulai Jumat (11/1) telah melakukan penyemprotan desinfektan di pasar hewan Ngemplak.

"Karena pasar hewan ini adalah salah satu lokasi keluar masuknya unggas sehingga sangat penting untuk dilakukan, kami tidak ingin kasus flu burung merembet ke mana-mana," katanya.

Ia mengimbau masyarakat di wilayah Tulungagung, untuk menghindari kontak langsung dengan unggas yang terserang terutana apabila dalam kodisi tubuh kurang sehat atau mengalami sakit flu.

Pihaknya juga meminta apabila ada ayam yang mati mendadak untuk dilakukan pembakaran agar virus tidak menyebar. (*)