Sampang - Tragedi kemanusiaan di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, yang menimpa ratusan pengikut aliran Islam Syiah, akibat aksi penyerangan sekelompok warga pada 26 Agustus 2012, hingga saat ini belum teratasi, di mana para korban masih tinggal di lokasi pengungsian.

Para korban dalam kasus tragedi kemanusiaan di Sampang, Madura ini terpaksa tinggal di tempat penampungan di gedung olahraga (GOR) Wijaya Kusuma, Sampang dengan kondisi yang sangat terbatas. Mereka juga terpaksa hidup dengan belas kasihan orang lain.

Juru bicara kelompok Islam Syiah, Iklil Almilal mengaku, tidak tahu sampai kapan mereka harus tinggal di lokasi pengungsian dan kembali ke kampung halamannya di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, Sampang.

"Sudah banyak pejabat pemerintahan yang berkunjung melihat secara langsung kondisi kami di GOR ini. Mereka semuanya berjanji akan segera mengembalikan kami ke kampung. Tapi sampai saat ini janji-janji itu belum terealisasi," ucap Iklil, lirih.

Para pengungsi ini berharap, mereka segera kembali hidup normal seperti masyarakat lainnya, menjalankan aktivitas sehari-hari, dan tidak lagi hidup belas kasihan orang.

Kronologis
Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di Sampang 26 Agustus 2012. Satu orang tewas dan enam orang lainnya luka-luka serta sebanyak 47 rumah pengikut aliran Islam Syiah ludes dibakar massa penyerang.

Ketika itu sekelompok warga Syiah hendak mengantar anak-anak mereka untuk belajar di pondok pesantren Syiah di Pasuruan dan Malang.

Akan tetapi, keberangkatan rombongan Syiah ini dihalangi oleh sekelompok masyarakat yang menggunakan sepeda motor. Mereka tidak ingin anak-anak mereka menempuh ilmu pengetahuan agama yang beraliran paham Syiah.

Tida hanya itu saja, massa bergerombol ini juga akhirnya menyerang perkampungan Syiah di dua desa, yakni Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, Sampang.

Sedikitnya 282 warga Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang harus dievakuasi. Kini, mereka terpaksa hidup di pengungsian di gedung olahraga (GOR) Wijaya Kusuma, Sampang.

"Pemicu konflik berdarah itu bukan karena perbedaan paham, antara kelompok Islam Sunni dengan Syiah, tetapi karena persoalan pribadi antara pimpinan Syiah Tajul Muluk dengan saudaranya Roisul Hukama yang beraliran Sunni," ucap Bupati Sampang, Noer Tjahja.

Tetapi, akhirnya meluas menjadi konflik menjurus pertentangan Suku-Agama-Ras dan Antar-golongan (SARA), yakni antara Islam Syiah yang dianut Tajul dengan Sunni, yang merepotkan banyak orang.

Kedua kakak-beradik ini, dulunya sama-sama menganut ajaran Islam Syiah, kemudian terjadi persoalan keluarga, yakni Tajul melarang santrinya Halimah menikah dengan Rois.

Sikap Tajul dalam berupaya menghalangi kakaknya Rois dengan cara menjodohkan santrinya, Abdul Aziz dengan gadis Halimah itu, akhirnya merembet menjadi konflik ideologi.

"Jadi, sebenarnya tidak ada konflik Sunni-Syiah di Sampang ini," tutur Bupati Noer Tjahja, menegaskan.

Ketua Jamaah Syiah Iklil Almilal mengakui, masalah pribiadi antara Tajul Muluk dengan Roisul Hukama memang menjadi salah satu pemicu renggangnya hubungan kekeluargaan di antara mereka.

Akan tetapi, menurut Iklil, hubungan asmara antara Rois dengan gadis Halimah, bukan satu-satunya penyebab, terjadinya aksi penyerangan terhadap kelompok Islam Syiah di Sampang, Madura.

"Bahwa konflik asmara antara Rois dengan Tajul itu memang benar ada. Tapi itu bukan satu-satunya," ujar Iklil.

Yang menyebabkan adanya gerakan permusuhan hingga akhirnya menyebabkan adanya aksi penyerangan terhadap kelompok Syiah, karena aliran Islam yang ada dipimpin Tajul Muluk itu dianggap sebagai ajaran Islam sesat.

Kalau hanya masalah keluarga, apalagi perempuan, tidak mungkin massa dalam jumlah banyak akan bergerak melakukan penyerangan terhadap warga Syiah.

"Kami mendengar dengan jelas yang mereka sampaikan bahwa Syiah adalah ajaran yang sesat, dan harus disingkirkan dari Sampang, Madura ini," kata Iklil Almilal, menuturkan.

Mediasi
Tragedi kemanusiaan di Sampang, Madura ini mendapat perhatian semua pihak, baik pemerintah, maupun sejumlah masyarakat, aktivis LSM kemanusian, serta aparat kepolisian.

Berbagai upaya dilakukan pemkab setempat untuk menyelesaikan konflik bernuansa SARA di kota Bahari di Pulau Madura tersebut. Salah satunya dengan menggelar dialog, pendekatan kepada para tokoh ulama di Sampang, serta meningkatkan pengamanan di dua desa oleh pasukan Brimob Polda Jatim.

Sejumlah pejabat teras, seperti Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Kapolri, serta sejumlah anggota DPR RI telah melakukan kunjungan, melihat secara langsung kondisi langsung pengungsi korban kerusuhan di Sampang, Madura itu.

Menteri Agama Suryadharma Ali saat berkunjung ke Sampang menyatakan, kerusuhan yang terjadi di Sampang, karena kurangnya dialog keagamaan, serta kurangnya koordinasi antartokoh agama.

Oleh karenanya, menurut dia, salah satu upaya yang perlu dilakukan ke depan dan perlu ditanamkan kepada pemeluk agama, serta di internal umat beragama yang memiliki paham dan aliran yang berbeda adalah sikap saling menghormati.

"Dialog keamanaan perlu ditingkatkan, sebab kurangnya dialog bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya konflik bernuansa Sara ini," tutur Suryadharma Ali ketika itu.

Upaya mediasi juga pernah dilakukan oleh Pemprov Jatim dan Pemkab Sampang. Pemprov bahkan menawarkan empat poin soluasi guna mengatasi masalah pengungsi korban tragedi kemanusiaan di Sampang, Madura itu.

Pertama, penegakan hukum kepada kedua belah pihak, baik Suni maupun Syiah jika terbukti melakukan kekerasan. Kedua, meminta peranan Kementrian Agama untuk segera melakukan pendalaman terhadap konflik tersebut.

Tawaran soluasi ketiga adalah mencarikan tempat pengungsian yang layak bagi korban penyerangan kelompok tak bertanggung jawab tersebut. Sedangkan poin terakhir, merumuskan pertemuan antara Rois dan Tajul untuk melakukan pembicaraan damai.

Dari tiga poin tawaran solusi yang disampaikan pemerintah ini, hanya tawaran relokasi yang tidak diterima para korban penyerangan di Sampang ini, yakni relokasi warga Syiah.

Pemerintah merencanakan akan merelokasi warga Syiah Sampang ini ke Surabaya atau ke Sidoarjo. Akan tetapi mereka menolak tawaran tersebut.

"Kami menolak, karena kami ingin tetap tinggal di desa kami. Dan perlu dipahami, kami ini bukan penjahat negara yang harus terusir dari kampung halaman sendiri," kata Ketua Kelompok Islam Syiah Iklil Almilal.

Akibat penolakan itu, hingga saat ini para pengungsi Syiah korban penyerangan tersebut, masih tinggal di lokasi pengungsian, yakni di gedung olahraga (GOR) Wijaya Kusuma, Sampang.

Sementara, bantuan kepada para pengungsi dari Pemkab Sampang kini telah dihentikan karena masa tanggap darurat telah berakhir dan dana yang tersedia di pemkab sudah habis untuk kebutuhan para pengungsi ini.

Saat ini, para pengungsi bergantung pada bantuan kemanusiaan dari masyarakat. Mereka lebih banyak berpuasa untuk menyiasati kelaparan.

"Mau bagaiman lagi, kita kan bergantung pada belas kasihan orang lain. Karena bantuan makanan dari pemerintah telah dihentikan, kami menyiasati dengan cara puasa," ungkap salah seorang pengungsi Syiah, Syaiful.

Sementara, terkait dengan pelaku perusakan dan penyerangan pada kelompok Islam Syiah ini, polisi telah menangkap sebanyak 7 orang sebagai tersangka dalam kasus yang terjadi pada tanggal 26 Agustus 2012 itu.

Satu di antara ketujuh orang yang diduga sebagai pelaku itu adalah saudara pimpinan Islam Syiah Tajul Muluk, yakni Roisul Hukama. Kasus penyerangan ini telah diproses hukum dan disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya.(*)