Sampang - Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sampang, Jawa Timur, menyatakan siap dan sudah melakukan antisipasi, jika pemilihan kepala daerah setempat berlangsung hingga dua putaran.

Anggota KPU Sampang Hernandi Kusumahadi, Rabu menjelaskan, pihaknya tidak ingin berandai-andai dengan kemungkinan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) setempat hingga dua putaran.

"Namun, kalau pun nantinya akan berlangsung hingga dua putaran, kami siap melaksanakannya. Pada masa awal pembahasan anggaran pilkada dengan Pemkab dan DPRD Sampang, kami sebenarnya sudah mengajukan anggaran dengan estimasi pilkada hingga dua putaran," ujarnya di Sampang.

Ketika itu, kata dia, pihaknya mengajukan anggaran pilkada hingga Rp21 miliar lebih dengan asumsi berlangsung dua putaran.

"Namun, dalam pembahasan bersama hanya diputuskan untuk menyiapkan anggaran sebesar Rp16 miliar dengan asumsi pelaksanaan pilkada satu putaran. Sementara untuk kemungkinan adanya pilkada putaran dua akan disiapkan anggaran sebesar Rp3,6 miliar lebih," ujarnya.

Hernandi juga enggan berkomentar banyak terkait kemungkinan pelaksanaan Pilkada Sampang hingga dua putaran.

"Sebaiknya tunggu saja hasil pemungutan suara pada Rabu ini," katanya.

Ia juga mengemukakan, pelaksanaan Pilkada Sampang akan berlanjut hingga dua putaran, jika hasil perolehan suara semua kandidat tidak ada yang mencapai 30 persen lebih.

"Kalau tidak ada pasangan calon bupati-wakil bupati yang memperoleh suara hingga 30 persen plus satu, berarti Pilkada Sampang akan berlanjut hingga dua putaran, dan pesertanya adalah dua kandidat dengan perolehan suara tertinggi," tuturnya.

Sebelumnya pada Rabu siang usai mencoblos, sejumlah calon bupati, yakni Noer Tjahja (pasangan nomor urut 3), KH Fannan Hasib (1), dan Hermanto Subaidi (6) optimistis bisa memenangi pilkada dengan satu putaran.

Kandidat Pilkada Sampang sebanyak enam pasangan calon bupati-wakil bupati, semuanya laki-laki, yakni KH Fannan Hasib-Fadhillah Boediono ("Al-Falah"), Ahmad Yahya-Faidhol Mubarok, dan Noer Tjahja-Heri Poernomo ("Cahaya Purnama").

Kemudian, Haryono Abdul Bari-Yahya Hamiduddin, KH Faishol Muqoddas-Triyadi Khusnul Yaqin ("Faiq"), dan Hermanto Subaidi-KH Djakfar Shodiq ("Hejas").

Sesuai data di KPU Sampang, jumlah pemilih pilkada pada tahun ini sebanyak 676.146 orang, dengan rincian 344.033 perempuan dan 332.113 laki-laki.


Satu putaran
Sementara itu, proses penghitungan cepat versi Proximity mencatatkan hasil pasangan "Al-Falah" atau KH Fannan Hasib-Fadhillah Boediono memenangkan Pemilihan Kepala Daerah Sampang dengan perolehan suara 32,36 persen, sehingga pilkada hanya berlangsung satu putaran.

"Semua data di lapangan sudah kami terima, dan hasilnya pasangan 'Al-Falah" berada di urutan pertama," ujar Ahmad Hasan Ubaid, kepada wartawan di Surabaya, Rabu sore.

Dengan hasil ini, pasangan nomor urut pertama itu mengalahkan saingan yang dianggap paling berat, yakni calon pejabat kini ("incumbent") Noer Tjahja yang berpasangan dengan Heri Purnomo.

Pasangan nomor urut tiga tersebut, hanya memperoleh 20,32 persen suara dan hanya menempati urutan tiga terbesar.

Sedangkan di urutan kedua, ditempati pasangan Hermanto Subaidi-KH Djakfar Shodiq. Pasangan nomor urut enam tersebut meraih suara sebanyak 27,61 persen.

Sementara itu, tiga pasangan lainnya yakni Haryono Abdul Bari-Yahya Hamiduddin dengan perolehan 14,31 persen suara. Kemudian, pasangan Ahmad Yahya-Faidhol Mubarok hanya meraih 04,25 persen suara, serta urutuan terakhir ditempati pasangan KH Faishol Muqoddas-Triyadi Khusnul Yaqin yang hanya meraih 01,15 persen suara.

Ahmad Husan Ubaid menyatakan, pihaknya melakukan penghitungan cepat di Kabupaten Sampang dengan menggunakan sampel sebanyak 69.115 orang di 150 tempat pemungutan suara (TPS), dari jumlah pemilih sebesar 676.064 orang, dengan 1.462 TPS.

Kendati demikian, ia mengaku sampel suara yang diambil sudah cukup mewakili karena menggunakan metode "multi stage random sampling" atau melalui beberapa tahapan termasuk jumlah pemilih dan TPS, dengan ambang batas kesalahan hanya 1 persen.

"Sehingga kami jamin sudah mewakili karena dilakukan menyebar. Apalagi ambang batas kesalahannya hanya 1 persen saja," tukasnya.

Ia juga mengingatkan, bahwa hasil penghitungan cepat ini bukan hasil akhir karena pemenang sesungguhnya akan diputuskan oleh Komisi Pemilihan Umum setempat. (*)