Sampang - Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Timur menyatakan, hasil hitung cepat perolehan suara Pemilu kepala daerah yang dilakukan tim kampanye kandidat maupun lembaga survei, bukan patokan resmi.

"Silakan dipantau dan dibaca perolehan suara hasil hitung cepat itu. Tapi, patokan resmi dan riil yang harus dipegang oleh warga adalah hasil dari rekapitulasi penghitungan suara yang dilakukan oleh KPU," kata anggota KPU Jawa Timur Nadjib Hamid di Sampang, Madura, Rabu.

Nadjib berada di Sampang dalam rangka memantau pelaksanaan Pemilu kepala daerah (Pilkada) setempat.

"Dalam setiap Pilkada, hitung cepat yang dilakukan oleh tim kampanye maupun lembaga survei merupakan hal yang biasa. Bagi tim kampanye, hitung cepat itu bisa menjadi data internal," ujarnya.

Ia hanya meminta warga memahami hitung cepat itu bukan patokan resmi yang bisa digunakan sebagai sebuah hasil penghitungan perolehan suara Pilkada.

"Kalau ingin yang benar-benar resmi, silakan menunggu rekapitulasi hasil perolehan suara yang dilakukan oleh KPU. Namun, kami memang tidak bisa melarang tim kampanye kandidat pilkada maupun lembaga survei untuk melakukan hitung cepat," ucapnya.

Nadjib juga berharap pasangan calon dan tim kampanyenya melakukan jalur resmi berupa gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), jika hasil hitung cepat yang dilakukannya berbeda dengan rekapitulasi hasil perolehan suara yang dilakukan KPU.

"Kalau memang dinilai ada kecurangan, silakan dibuktikan melalui jalur yang bermartabat, yakni gugatan ke MK," katanya.

Pada Rabu ini, tiga kabupaten di Jawa Timur menggelar pilkada, yakni Sampang, Bangkalan, dan Nganjuk.

Di Sampang, sejumlah kandidat Pilkada melakukan hitung cepat, di antaranya pasangan calon KH Fannan Hasib-Fadhillah Boediono dan Hermanto Subaidi-KH Djakfar Shodiq.

Kandidat Pilkada Sampang sebanyak enam pasangan calon bupati-wakil bupati, semuanya laki-laki, yakni KH Fannan Hasib-Fadhillah Boediono ("Al-Falah"), Ahmad Yahya-Faidhol Mubarok, dan Noer Tjahja-Heri Poernomo ("Cahaya Purnama").

Kemudian, Haryono Abdul Bari-Yahya Hamiduddin, KH Faishol Muqoddas-Triyadi Khusnul Yaqin ("Faiq"), dan Hermanto Subaidi-KH Djakfar Shodiq ("Hejas").(*)