Surabaya - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini beberapa bulan terakhir ini disibukkan dengan membangun citra Surabaya bebas dari pekerja seks komersial atau PSK.

Sebuah harapan besar agar predikat Surabaya yang terkenal dengan Dolly-nya sebagai prostitusi terbesar di Asia Tenggara bisa sirna seiring dengan berjalannya waktu sedikit demi sedikit mulai tercapai dengan menutup wisma di sejumlah lokalisasi di Surabaya.

Keinginan untuk berubah menjadi lebih baik itu dimulai dengan giatnya melakukan razia terhadap anak baru gede (ABG) di sejumlah tempat umum maupun tempat hiburan orang dewasa yang kerap digunakan sebagai tempat prostitusi terselubung.

Bahkan di tempat-tempat itulah sering terjadi perdagangan manusia atau human trafficking.

Risma pun tidak jarang ikut terjun langsung di lapangan pada saat razia bersama petugas Satpol PP maupun Bakesbanglinmas.

Puluhan hingga ratusan ABG berhasil diamankan oleh petugas di kantor Satpol PP.

Tidak cuma itu Risma pun sempat memarahi para germo hasil tanggapan polisi saat berkunjung ke Polrestabes Surabaya.

Risma menilai, para germo tersebut telah menjerumuskan para ABG menjadi pelacur atau PSK.

Berawal dari situlah Risma mulai melakukan pembersihan di sejumlah lokalisasi di Surabaya.

Puncak dari pembersihan tersebut adalah menutup total Dolly sebagai lokalisasi terbesar di Surabaya bahkan Asia Tenggara.

Pada Kamis (27/9), Pemkot Surabaya memulangkan 29 PSK atau yang belakangan mulai diganti dengan sebutan wanita harapan ke daerah asalnya.

Dari seluruh wanita harapan yang dipulangkan hari itu, rinciannya sebanyak 22 orang berasal dari beberapa daerah di Jawa Timur antara lain Malang, Batu, Blitar, Pasuruan, Lumajang, Banyuwangi, Lamongan, Sidoarjo, Mojokerto, Nganjuk, dan Kediri.

Serta ada dua orang dari Surabaya. "Sedangkan tujuh orang berasal dari luar Jatim seperti Pekalongan, Kalimantan, Batang (Jawa Barat), dan Karawang," kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya Supomo.

Komitmen Pemerintah Kota Surabaya untuk merubah kawasan lokalisasi di Surabaya menjadi kawasan rumah tangga. Ternyata bukan isapan jempol belaka, pada Sabtu (27/10), Pemkot Surabaya menutup 3 wisma yang berada di kawasan lokalisasi Dupak Bangunsari, Kelurahan Dupak, Kecamatan Krembangan.

Upaya Pemkot Surabaya untuk merubah kawasan lokalisasi Bangunsari menjadi kawasan rumah tangga mendapat dukungan dari para tokoh masyarakat di kawasan tersebut.

Bahkan Dinas Sosial Surabaya memberikan apresiasi kepada Pak Siwoto pemilik tiga wisma yang peruntukkannya berubah menjadi rumah tangga.

Kepala Dinas Sosial Jatim Supomo mengatakan bahwa langkah yang dilakukan oleh Pak Siswoto bisa menjadi contoh bagi warga pemilik wisma untuk merubah bangunannya menjadi rumah tinggal.

Tak hanya itu, Pemkot juga memulangkan delapan PSK yang bekerja di lokalisasi Bangunsari.

Satu PSK yang dipulangkan merupakan warga Surabaya, sedangkan sisanya berasal dari kota / kabupaten yang ada di Jawa Timur.

Dalam kesempatan itu, juga diberikan bantuan modal usaha sebesar Rp3 juta dan perlengkapan solat kepada PSK yang mau dipulangkan.

"Jumlah PSK sebelum dipulangkan 213 dan sekarang tinggal 162 PSK yang masih bekerja. Dari jumlah tersebut, bisa dilihat kemauan PSK untuk berhenti dari pekerjaannya sangat besar sekali. Buktinya, mereka mau untuk dipulangkan dan tidak kembali lagi," kata Supomo.

Penutupan 22 wisma juga dilakukan di lokalisasi Kremil Tambakasri pada Selasa (4/12). Sebanyak 22 wisma tersebut kini resmi beralih fungsi menjadi rumah tempat tinggal keluarga.

Penutupan wisma ditandai dengan pemasangan plat bertuliskan "Rumah Tangga" oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.


Wisuda PSK
Sebanyak 29 wanita pekerja seks komersial (PSK) di sejumlah lokalisasi di Kota Surabaya diwisuda setelah mengikuti serangakaian pelatihan yang digelar pemkot bekerja sama dengan Yayasan Sentuhan Kasih Bangsa (YSKB) selama November 2012.

"Merekalah yang konsisten hingga akhir dan menyatakan komitmennya untuk memulai profesi baru," kata Pembina YSKB Caleb Natanielliem di acara wisuda 29 wanita PSK yang digelar di SIBEC-ITC Surabaya, Jumat (7/12).

Menurut dia, pelatihan terhdap 29 PSK dikemas dalam bentuk sesi motivasi dan keterampilan. Materi-materi yang diberikan antara lain, tata boga, tata rias, tata rambut, tata niaga, dan kerajinan.

"Kami berhapan agar keberhasilan 29 wanita harapan (PSK) yang telah mentas dari profesi lamanya itu dapat menularkan inspirasi bagi para PSK lainnya," katanya.

Menurut dia, awalnya pelatihan ini diikuti oleh 90 peserta, namun setelah melalui serangkaian proses, akhirnya yang konsisten mengikuti pelatihan sebanyak 29 wanita.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya mengajak semua PSK untuk melupakan masa lalu dan menatap ke depan. "Anda adalah pembawa harapan. Tinggalkan masa lalu dan tataplah masa depan yang lebih baik. Anda pasti bisa," ujarnya memotivasi.

Dorongan semangat juga datang dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang turut hadir di acara wisuda tersebut. Dia mengatakan, keputusan wanita harapan yang berhenti dari pekerjaan lamanya adalah sebuah langkah yang benar.

"Ini saatnya berhenti. Apa pun alasan anda menjadi PSK, lupakanlah itu. Ini waktunya anda memulai hidup yang baru," kata wali kota.

Risma tidak mempermasalahkan kalau dari 90 peserta hanya 29 yang mantap meninggalkan dunia prostitusi. Yang terpenting baginya adalah keputusan berhenti timbul dari kesadaran hati dan tanpa paksaan.

"Jumlah bukan menjadi masalah, yang penting dari hati, itu yang akan bertahan lama," tuturnya.

Risma menegaskan, pada 2012 ini Pemkot Surabaya berkonsentrasi untuk menutup kawasan Lokalisasi Dupak Bangunsari dan Tambakasri. Berikutnya, yang jadi target penutupan adalah Dolly, Jarak dan Moroseneng.

"Saya berharap tahun ini PSK di Bangunsari sudah tidak ada lagi. Semua warga dan tokoh masyarakat sudah sepakat. Nantinya, supaya para PSK tidak bingung ketika sudah berhenti mau kerja apa, Dinsos memberikan pelatihan ketrampilan menjahit, handycraft, membuat kue dan sebagainya," tuturnya.

Wali Kota juga berjanji, pemulangan ini akan terus berlanjut, namun dilakukan secara bertahap.
"Kami punya target menutup lokalisasi tapi harus dilakukan dengan cara humanis, seperti melalui pelatihan dan pemberian stimulus modal usaha," ujarnya. (*)