Kota Surabaya merupakan sebuah kota metropolitan yang tidak memiliki gunung. Namun, ketika berada di bangunan tinggi dan melihat ke arah selatan, tampak dari kejauhan ada sebuah gunung nan elok yang sangat sayang jika mengedipkan mata.

Sebuah gunung yang berada tidak jauh dari pintu masuk Surabaya dari sisi Sidoarjo. Ya, itulah Gunung Penanggungan. Tepatnya berada di Kabupaten Mojokerto. Tidak lebih dari 75 kilometer dari pusat Kota Surabaya, berdiri gunung berapi nonaktif tersebut.

Dari jauh maupun dekat, tidak ada yang berbeda dari gunung pada umumnya. Dilihat dari kaki gunung, hanya hamparan hutan hijau menjulang dan bebatuan layaknya gunung.

Lokasinya terletak di perbatasan antara Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Mojokerto. Jika melakukan perjalanan darat Surabaya ke Malang, selepas keluar jalan tol Gempol, akan terlihat gunung Penanggungan dengan kondisi puncaknya yang tandus di sisi kanan, tampak seperti miniatur Gunung Semeru.

Puluhan, bahkan ratusan pencinta alam mendaki gunung tersebut setiap tahunnya. Tidak ada yang berbeda. Setelah sukses naik puncak, pemandangan "landscape" terhampar seraya berucap syukur menikmati keindahan ciptaan Allah SWT.

Akan tetapi, hal itu berbeda bagi peneliti dan pencinta situs purbakala. Jika orang umumnya mendaki gunung yang tingginya 1.653 meter di atas permukaan laut (mdpl) atau sekitar 5.423 kaki tersebut tidak sampai seharian, namun para peneliti bisa menghabiskan waktu lebih dari sehari semalam untuk menikmatinya.

Ya, Gunung Penanggungan terbukti menyimpan sejarah dunia kerajaan. Di sanalah terletak puluhan, atau mungkin ratusan situs peninggalan sejarah yang seseorang tidak bisa mengelak setelah melihatnya secara nyata dari dekat.

"Sangat benar dan itu adalah fakta. Di Gunung Penanggungan terdapat puluhan, bahkan ratusan situs peninggalan sejarah yang terdiri dari berbagai bentuk. Ada relief, candi, dan situs kepurbakalaan lainnya," ujar Konsultan Development Experiencial Learning Program UTC, Kusworo Rahadian.

"Tidak berlebihan jika gunung ini dijuluki 'Gunung 1001 Situs', sebab saya yakin tidak ada gunung semacam ini di Indonesia, atau bahkan di dunia," katanya menambahkan.

UTC atau "Ubaya Training Centre" adalah Pusat Pelatihan Universitas Surabaya. UTC membentuk sebuah tim ekspedisi yang tujuannya meneliti dan mencari fakta-fakta situs di Gunung Penanggungan. "Home Base UTC" sangat ideal, karena terletak persis di salah satu pintu akses jalur pendakian.

Kusworo dipercaya sebagai pemimpin sebuah tim eksepidisi itu. Namanya, Tim Ekspedisi Penanggungan Archeological Trail UTC. Terhitung sejak Mei 2012 tim ini memulai penelitian dan sukses mengakhiri tugasnya medio November 2012.

"Tim ini terbentuk ketika seorang ketua yayasan kampus membaca surat kabar yang isinya mengupas situs Penanggungan pada akhir 2011. Dari situlah ketertarikan muncul dan tim terbentuk, meski beranggotakan tidak banyak orang," terang Kusworo.

Kebetulan, saat itu ada seorang peneliti kelahiran Inggris bernama Nigel Bullough yang sudah memiliki nama Jawa, Hadi Sidomulyo. Ia dikenal sebagai penulis buku Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca. Ia gandrung pada sejarah Majapahit dan Jawa Timur pada umumnya.

Sejak 1972, ia sudah banyak menulis buku maupun artikel menyangkut sejarah dan budaya Jawa, bahkan antara tahun 1985 hingga 1994, ia dipercaya Gubernur Jatim saat itu, Sularso, untuk menyusun buku promosi pariwisata.

Ia juga membantu Pemda Yogyakarta untuk promosi Wisata Budaya, maka sobat-sobatnya menyebut Hadi sebagai orang Jawa kelahiran Inggris. Ia menikah dengan wanita Solo dan tinggal di Bali.

Tim ekspedisi ini akhirnya bekerja sama dengan Hadi Sidomulyo "menaklukkan Penanggungan". Mereka dipadukan dalam tim dengan Hadi sebagai penasihat arkeologi dan Kusworo sebagai koordinator lapangan. Keduanya dibantu Arif, Zain, Dian dan Nurul sebagai anggota.

"Kami memilih Mei hingga November karena juga memantau cuaca di gunung. Saat itu, diprediksi cuaca mendukung dan bersahabat, sehingga sangat tepat dilakukan penelitian dan mendaki dalam jangka waktu yang tidak sedikit," paparnya.

Pria asal Solo tersebut mengakui timnya sukses menemukan 82 situs purbakala mulai dasar hingga puncak Penanggungan. Hal itu berarti sama dengan sebuah penemuan peta kepurbakalaan yang dilakukan peneliti pada 1975, yang mencatat situs dengan jumlah sama.

"Tapi saya yakin jumlahnya masih lebih dari itu, sebab sangat besar kemungkinan masih ada situs yang belum ditemukan. Bisa tertutup semak dan pohon, atau bisa juga karena faktor lainnya, seperti pernah diambil orang tak bertanggung jawab," kata Kusworo.

Kendati demikian, pada Tahun 1991-1992, sesuai pendataan resmi oleh Badan Koordinasi Survey dan Penataan Nasional yang bekerja sama dengan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala beserta Pusat Penitian dan Pengembangan Geoteknologi, tertulis sekitar 55 situs saja.

Kusworo mengungkapkan, survei Tim Ekspedisi UTC dilakukan tidak hanya memetakan situs, tapi juga mencari rute antarsitus. Tujuannya memetakan ulang dan mengkomparasikan penemuan peneliti yang sudah ada, namun dengan catatan berbeda.

Ia menceritakan, tidak ada kendala berarti selama melakukan eskpedisi. Hanya saja, data dan informasi tentang situs di Penanggungan yang dinilai minim.


Candi Selokelir
Ternyata, tidak sedikit situs yang ditemukan sudah memiliki nama. Bahkan ada juga yang baru diberi nama sesuai nama kawasan tidak jauh dari ditemukannya situs. Salah satunya Goa Soetomo.

Goa tersebut terletak di sisi lereng timur Gunung Penanggungan. Goa berukuran dimensi 3x3 meter, lebar sekitar 60 centimeter, tinggi tidak lebih dari satu meter.

"Menurut penuturan warga sekitar, goa itu adalah lokasi pertapaan dan ketika tim mencatatnya, baru dua hari ditemukan oleh pencari rumput sekitar September 2012," timpal Kusworo.

Salah satu situs yang dinilai fenomenal di Penanggungan adalah Candi Selokelir. Candi ini diperkirakan ada sekitar abad XI atau XII. Ada juga petunjuk menyebutkan, candi yang terletak di sebelah barat Gunung Bede ini ada sekitar tahun 1404 Masehi.

Petunjuk ini ditemukan di Goa Buyung atau di sekitar Candi Selokelir. Di dalam goa muncul beberapa kesamaan ukiran dan bentuk batu bata yang terbuat dari batu andesit.

Selain itu, tanda-tanda kebesaran peninggalan purbakala sebelum Majapahit terlihat dengan adanya bentuk bangunan berteras tujuh dan terbuat dari batu andesit.

Batu-batu tersebut muncul pada zaman Hindu sebelum Majapahit. Tanda tersebut terpampang di ukiran-ukiran yang mengedepankan lambang, corak bunga dan simbol-simbol di tengah-tengah masyarakat.

Kondisi ini berbeda dengan zaman Budha, karena simbol-sombol kebesaran zaman Budha biasanya tertuang dengan menceritakan keadaan masyarakat, sedangkan kondisi batu-batu di Candi Selokelir kebanyakan bermotif bunga, kotak-kotak dan coretan tiga di setiap batu. Fakta ini menunjukan, candi ini sudah ada sebelum masa Majapahit.

Kusworo Rahadian mengatakan, keberadaan batu-batu dan petunjuk lain sudah menguatkan bahwa candi ini sudah ada sebelum kerajaan Majapahit muncul.

"Bahkan ada kemungkinan candi ini ada saat kerajaan Kadiri masih berjaya. Apalagi ukiran-ukiran yang tertuang dalam batu memiliki struktur kesamaan," paparnya.

Dari temuan arkeolog di Candi Selokelir, ukuran-ukuran teras telah ditemukan. Di teras tersebut ragam hiasan bangunan tidak terlalu jelas, namun di halaman bangunan banyak dijumpai tumpukan yang merupakan bagian bangunan dengan hiasan relief raksasa dan salib Portugis.

Ada juga batu lumpung yang memiliki garis tengah 80 centimeter dan lubang tengan 25 centimeter, tetapi tinggi sulit diketahui.

"Yang menarik, ditemukan lubang yoni yakni dudukan lingga atau arca berbentuk segi empat sepanjang 10 centimeter, lebar 10 centimeter dengan dalam 10 centimeter," tutur Kus, panggilan akrabnya.

Ada juga umpak batu bagian atas sepanjang 10 centimeter, lalu bagian bawah berukuran panjang 25 centimeter, lebar 22 centimeter, dan bagian atas berukuran panjang lebar 18 centimeter dengan tinggi 22 centimeter, sedangkan bagian atas umpak ada hiasan segi tiga, umpak ini diperkirakan untuk sesaji.

Di tempat itu juga ditemukan batu pipisan dan dua buah batu umpak. Batu pipisan berukuran panjang 60 centimeter, lebar 35 centimeter, dan tinggi dua centimeter, sedangkan ukuran dua batu umpak sama dengan ukuran batu umpak yang terdapat di halaman candi.

Tidak hanya satu candi, di atas Candi Selokelir juga ada candi bernama Telo Blandong. Peninggalan purbakala ini disebut Candi Telong Blandong karena bentuknya sumuran yang dari struktur batu andesit berukuran panjang 200 centimeter, lebar 200 centimeter dengan dalam 170 centimeter.

"Candi ini memiliki kaitan erat dengan candi Selokelir," terang Kusworo.


Sejarah
Gunung Penanggungan sendiri dikenal memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya terdapat banyak peninggalan purbakala, baik berupa candi, pertapaan, maupun petirtaan.

Peninggalan sejarah di Gunung Penanggungan berasal dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. Tidak hanya itu, Gunung Penanggungan dikenal sebagai Gunung Pawitra yang berarti kabut.

Gunung ini berada dalam pegunungan Penanggungan yang terdiri dari Gunung Penanggungan (1.653 mdpl), dan beberapa bukit yang mengelilinginya yaitu Bukit Bakel (1.238 mdpl), Gajah Mungkur (1.084 mdpl), Sarah Klopo (1.235 mdpl), dan Bukit Kemuncup (1.238 mdpl).

Puncaknya terdiri dari batuan cadas dan rerumputan. Ada juga satu situs berbentuk seperti makam di puncak. Ketika malam, udara di puncak berkisar antara 10-15 derajat celcius, sedangkan siang berkisar antara 15-25 derajat celcius.

Vegetasi yang menutupnya merupakan kawasan hutan dipterokarp bukit, hutan dipterokarp atas, hutan montane, dan hutan ericaceous atau hutan gunung. berbagai macam flora yang dijumpai di Gunung Penanggungan adalah jenis-jenis tanaman rimba seperti jempurit, kluwak, ingas, kemiri, dawung, bendo, wilingo, dan jabon. disana juga banyak ditemui tumbuhan seperti laos, kunir, dan jahe.

Medan yang ditempuh menuju puncak Penanggungan meliputi medan datar, landai, miring, berbukit, dan berjurang. di kaki gunung, keadaan medannya landai sampai sekitar 2 kilometer, naik ke atas kemiringannya berkisar antara 30 sampai 40 derajat. Di bagian perut gunung agak curam, berkisar 40 sampai 50 derajat.

Sampai di dada gunung banyak jurang-jurang dengan kemiringan berkisar antara 50-60 derajat. Sedangkan dari leher sampai puncak kita akan melewati medan curam berbatu, licin, dengan kemiringan berkisar antara 60-70 derajat. Ketika di puncak, batu-batu cadas akan nampak, dekat dengan puncak akan menemui sebuah goa kecil yang bisa di gunakan untuk berlindung dari badai.

Berdasarkan catatan sejarah, sekitar tahun 1920-an, terjadi kebakaran hutan di lereng Penanggungan bagian barat, kebakaran inilah yang mengawali penemuan puluhan situs arkeologi dan ratusan artefak di Gunung Penanggungan.

Lima tahun berikutnya, WF Stuterheim mengadakan penelitian di Gunung Penanggungan kemudian menyimpulkan makna Penanggungan bagi masyarakat Jawa kuno. Banyaknya bangunan suci di lereng Penanggungan membuktikan bahwa gunung Penanggungan erat kaitannya dengan tradisi pemujaan kepada para Dewa atau arwah leluhur.

Bangunan suci itu berupa punden berundak, altar persajian, dan goa pertapaan yang berfungsi sebagai pelataran tempat dijalankannya ritual-ritual keagamaan.

Masyarakat Jawa kuno menganggap gunung Penanggungan sebagai puncak gunung Semeru. Penjelasan itu juga berdasar pada kitab Tantu Panggelaran.

Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa Bhatara Guru menugaskan Brahma dan Wisnu untuk mengisi pulau Jawa dengan manusia. Karena Pulau Jawa selalu dilanda goncangan maka para dewa memindahkan Gunung Mahameru dari India ke Jawa.

Dalam perjalanan memindahkan gunung tersebut, bagian Mahameru berguguran menjadi gunung-gunung yang berjajar di sepanjang Pulau Jawa. Tubuh Gunung Mahameru diletakkan agak miring menyandar pada Gunung Brahma (Bromo) dan menjadi Gunung Semeru. Sedang Puncak Mahameru sendiri adalah gunung Penanggungan.

Namun ada cerita lain menyebutkan bahwa Gunung Penanggungan merupakan puncak dari Gunung Arjuno, para dewa memotong puncak Gunung Arjuno untuk membangunkan arjuna dari pertapaannya.

Gunung Penanggungan dianggap suci oleh masyarakat Jawa kuno, merupakan tempat mensucikan diri bagi para pertapa, raja-raja, keluarga dan petinggi kerajaan. Di kaki gunung Penanggungan terdapat petirtaan (pemandian) Jolotundo yang dibangun antara tahun 899-977 Masehi, dan dulu digunakan oleh keluarga kerajaan Majapahit.

Sekarang, Jolotundo masih mengalirkan air dan berfungsi sebagai tempat wisata pemandian. Masyarakat sekitar percaya bahwa air yang mengalir di Jaladwara (pancuran air di petirtaan Jolotundo) adalah amerta (air keabadian), karena berasal dari Gunung Penanggungan, yang dianggap sebagai gunung suci. (Bersambung) (*)