Liburan sekolah biasanya diisi oleh keluarga dengan berkunjung ke sejumlah lokasi wisata. Itu sudah biasa. Rutinitas dari tahun ke tahun dan cenderung menghabiskan uang banyak.

Cobalah wisata yang satu ini. Ke Kampung Inggris, Pare. Pare di Kabupaten Kediri ini sudah terkenal ke se-antero Tanah Air, bahkan hingga ke luar negeri lho. Karena itu anak-anak yang ikut kursus ini akan bertambah teman dari mana-mana. Untuk masyarakat Jawa Timur, cenderung lebih murah karena dekat. Berwisata ke tempat ini memiliki manfaat lebih besar bagi anak-anak.

Agar maksimal saat memilih berwisata ke kampung ini, sebaiknya anak-anak diikutkan kursus singkat selama dua pekan yang di Pare dikenal dengan program "holiday". Bukan sekadar berkunjung sehari, kemudian pulang. Untuk mendampingi anak-anak, orang tua bisa juga menikmati suasana tempat kos di desa itu selama beberapa hari.

Secara umum, tarif tempat kos dengan fasilitas sederhana rata-rata Rp100 ribu sebulan. Satu kamar bisa diisi dua hingga empat orang. Biasanya ditambah Rp25 ribu untuk biaya "camp". Camp adalah program mendatangkan guru ke tempat kos, yakni pagi hari pukul 05.00 hingga 06.00 dan sore hari. Tergantung kesepakatan antara guru dengan penghuni tempat kos.

Untuk masalah tempat kos ini, sebaiknya mencari lokasi jauh-jauh hari karena saat liburan sekolah, Kampung Inggris akan dibanjiri peserta dari berbagai penjuru Nusantara ini. Tidak jarang, sejumlah tempat kos yang menolak peminat karena sudah penuh. A Zulkarnain dalam bukunya "Pare dan Catatan tak Usai" menulis bahwa saat sepi ada sekitar 500 peserta dan saat ramai bisa naik tiga kali lipat, yakni sekitar 1.500 orang.

Ada 100 lebih tempat kursus yang kini tersebar di Desa Pelem dan Tulungrejo itu. Tarif kursusnya juga beragam, tergantung tempat dan lamanya kursus. Ada yang melayani kursus terstandar, misalnya, selama sebulan Rp200 ribu. Ada juga yang melayani per program, seperti khusus "speaking" Rp85 ribu per dua pekan.

Untuk program speaking ini, biasanya waktu belajar sangat longgar, yakni 1,5 jam dalam sehari. Karena itu, peserta bisa mengambil program lain, sehingga dalam sehari termanfaatkan secara maksimal.

Awalnya, tempat kursus ini hanya satu, yakni "Basic English Course" (BEC) yang didirikan oleh Muhammad Kalend Osen. Namun, seiring perkembangan waktu, tempat kursus itu berkembang pesat. Karena itu, masyarakat yang hendak mengikuti kursus harus pandai-pandai memilih program yang diinginkan. Tidak jarang peserta berpindah kursus dalam satu pekan begitu mengetahui program yang diikuti tidak cocok.

Masalah cocok atau tidak ini juga menjadi tantangan tersendiri karena bisa menjadi "jebakan" bagi anak-anak peserta kursus yang kurang memiliki motivasi tinggi untuk beralasan pindah lokasi kursus di tengah jalan. Maka akan banyak waktu terbuang karena perpindahan lokasi atau program kursus.

Karena Bahasa Inggris adalah keterampilan, program speaking kini banyak diminati. Di program ini peserta dilatih untuk berani berbicara, meskipun awalnya tidak menggunakan struktur atau "grammer" secara benar. Setelah itu, biasanya mentor mereka akan memperbaiki dengan menunjukkan kalimat yang benar. Peserta kemudian dilatih menghafal sejumlah kata dalam sehari.

Meskipun disebut Kampung Inggris, ternyata tidak semua masyarakat di kampung itu bisa berbahasa Inggris. Hanya saja, di lokasi-lokasi tertentu, sesuai kesepakatan, ada area khusus berbahasa Inggris. Misalnya di tempat kos atau di tempat kursus. Atau ada juga penjual makanan yang selalu menjawab menggunakan Bahasa Inggris saat pembelinya diketahui sebagai siswa kursus.

Contohnya adalah Supriyanto (38), penjual batagor. di depan lokasi kursus BEC. Dengan logat Jawa dia sangat percaya diri menggunakan Bahasa Inggris ketika melayani pembelinya. "Saya belajar sendiri dengan mendengarkan anak-anak kursus bercakap-cakap. Kemudian saya banyak bertanya ke guru-guru yang mengajar di tempat kursus ini," paparnya.

Di tempat lain, ada sekelompok anak berjejer di pinggir Jalan Brawijaya Pare sedang bercas cis cus dalam Bahasa Inggris dengan diawasi seorang guru. Rupanya mereka sedang pratik di depan umum agar terbiasa menggunakan bahasa asing tersebut.

Memilih berwisata mengisi liburan di Kampung Inggris tidak terlalu sulit. Semua fasilitas tersedia. Kalau tidak membawa kendaraan, kita bisa menyewa sepeda onthel dengan harga rata-rata Rp80 hingga Rp100 ribu sebulan. Meskipun masih jarang, ada juga yang menyewakan sepeda motor dengan tarif di atas Rp500 ribu sebulan. Persewaan sepeda onthel ini juga menjamur di Pare.

Untuk urusan makan, tidak perlu khawatir. Ramainya kursus di Pare telah berdampak pada perkembangan ekonomi dengan munculnya banyak warung. Bahkan ada warung yang menyediakan masakan dengan sistem prasmanan. Untuk urusan informasi, jangan khawatir juga jika malas membawa komputer jinjing (laptop), karena di tempat itu banyak warnet.

Untuk mencapai Kampung Inggris juga mudah. Kalau dari Surabaya, bisa naik bus jurusan Blitar yang melewati Pare atau jurusan Kediri yang juga melewati Pare. Penumpang turun di perempatan Tulungrejo. Biasanya kru bus sudah paham dengan menyebut tujuan ke BEC. Tarifnya cukup murah, yang bus biasa sekitar Rp10 ribu dan yang patas sekitar Rp20 ribu.

Dari perempatan Tulungrejo, penumpang bisa memilih naik becak atau ojek dengan tarif Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Jika naik becak, kita bisa leluasa menikmati suasana tempat kursus yang berderet seperti di Jalan Brawijaya.

Biasanya jam belajar di tempat kursus itu mulai Senin hingga Jumat pagi. Jumat pagi adalah ujian lisan. Setelah ujian, peserta bisa bebas menikmati libur. Mereka yang rumahnya di Jawa Timur, biasanya pulang. Sementara yang dari luar, apalagi yang dari luar Pulau Jawa memilih mengisi waktu di Pare dengan menghafal pelajaran-pelajaran.

O iya, peserta bisa memilih lokasi-lokasi yang ramai atau yang justru lebih sepi dengan nuansa pedesaan yang kental. Yang sudah sangat ramai berada di Jalan Brawijaya, sementara yang masih dengan suasana desa terletak di Dusun Singgahan, Desa Pelem. Di tempat ini, jika libur kursus kita bisa berjalan-jalan ke sawah melihat petani memanen buah pare (untuk sayur dengan rasa pahit) atau mentimun. Bahkan ada lokasi kursus yang di belakangnya terdapat areal tanaman pare dan mentimun.

Ternyata tidak hanya anak sekolah atau mahasiswa yang belajar di tempat kursus itu. Ada juga lho, orang tua berusia 67 tahun yang masih mau belajar Bahasa Inggris dari dasar. Atau ada juga orang dewasa yang hendak belajar ke luar negeri, kemudian memperdalam Bahasa Inggris di kampung itu. Selain Bahasa Inggris, kampung itu juga menyediakan kursus bahasa asing lain, seperti Arab, Mandarin, Jepang dan lainnya.

Cobalah berwisata ke kampung ini. Lokasi wisata yang menyegarkan otak dan jiwa. (*)