Jumat, 24 Maret 2017

Arek Suroboyo 1945 Sosok Pahlawan Proporsional

id arek, suroboyo, 1945, pahlawan, surabaya, antara, jatim
Arek Suroboyo 1945 Sosok Pahlawan Proporsional
Surabaya - Kelahiran Indonesia tak lepas dari keberanian dan perjuangan Arek Suroboyo pada tahun 1945 melawan segala bentuk penjajahan.

Meski berasal dari beragam suku bangsa mereka rela mengorbankan nyawanya tanpa pamrih. Bahkan, bersatu-padu demi kedaulatan negara sehingga pada masa kini terbentuklah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Kontribusi Arek Suroboyo yang membela Tanah Air pada tahun 1945 layak mendapatkan apresiasi," ujar General Manager House of Sampoerna, Ina Silas, ditemui di Surabaya, Jumat.

Apalagi, kata Ina, mereka berjuang demi negara dan melakukannya di luar tanggung jawab mereka seharusnya. Hal tersebut yang dimaksudnya sosok pahlawan proporsional.

"Kalau pada masa sekarang, saya tidak punya kebanggaan terhadap tokoh tertentu dan layak diberi gelar pahlawan termasuk koruptor juga bukan pahlawan," katanya.

Sementara, ia mengurai, banyak pejuang terutama Arek Suroboyo yang bertempur pada tanggal 10 November 1945 tewas tanpa mendapatkan gelar pahlawan.

"Itulah asal-muasal mengapa Surabaya dinamakan Kota Pahlawan karena tidak mungkin pemerintah mau memberikan gelar pahlawan kepada mereka masing-masing," katanya.

Terkait alasan tidak adanya tokoh yang sesuai menyandang gelar pahlawan, ulas dia, kini banyak orang yang berjuang demi negara walaupun tidak di medan perang tetapi umumnya diwujudkan untuk memperoleh pamrih.

"Di sisi lain, masih tentang kepahlawanan. Kami sangat 'nelongso' ketika ditanya bagaimana bentuk semangat patriotisme kaum muda sekarang menyusul minim yang cinta sejarah," katanya.

Selain itu, lanjut dia, ketika ada generasi saat ini yang sedikit memperhatikan seperti apa sejarah Indonesia beberapa di antara mereka justru menganggapnya sebagai memoar dan setelah itu berakhir.

"Padahal, masyarakat perlu 'melek' sejarah dan berkenan mengambil makna positif masa lalu untuk diterapkan pada masa kini," katanya.

Bagi mereka yang nyaris mengabaikan sejarah Indonesia, saran dia, perlu rajin menyisihkan waktu akhir pekannya mengunjungi tempat bersejarah. Contoh mengajak sanak saudara ke museum atau menikmati pagelaran wayang kulit yang sarat nuansa sejarah dan kekentalan budaya lokal.(*)

Editor: FAROCHA


COPYRIGHT © ANTARA 2011

Baca Juga

Generated in 0.152 seconds memory usage: 0.58 MB