Sabtu, 18 November 2017

Akibat Layang-layang, 54 Kali Listrik Tulungagung Alami Pemadaman

id PLN, pemadaman listrik, listrik tulungagung
Akibat Layang-layang, 54 Kali Listrik Tulungagung Alami Pemadaman
Ilustrasi - Pekerja memperbaiki jaringan listrik untuk rumah tangga di Beji, Batu, Jawa Timur, Selasa (10/5). Antara Jatim/Ari Bowo Sucipto/zk/16. ()
"Citra PLN menjadi kurang baik, karena pasokan listrik yang terganggu. Padahal kejadian tersebut diakibatkan kesalahan warga," katanya.
Tulungagung (Antara Jatim) - Perusahaan Listrik Negara selama 2017  melakukan 54 kali pemadaman aliran listrik di wilayah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur akibat layang-layang yang  jatuh menimpa jaringan listrik tegangan tinggi sehingga terjadi arus pendek pada area tertentu.
    
"Terutama jenis layangan besar atau biasa disebut layangan bapangan. Layangan ini biasanya dinaikkan sehari-semalam suntuk namun kemudian jatuh pada dini hari," kata Supervisor PLN Area Kediri Sukron Mashudi di Tulungagung, Selasa.
    
Akibatnya, kata dia, hampir setiap hari terjadi pemadaman listrik di kawasan permukiman tertentu.
    
Selain merugikan masyarakat selaku konsumen, secara ekonomis pemadaman itu sangat merugikan PLN karena banyak energi listrik yang tidak tersalurkan ke rumah-rumah penduduk ataupun industri dan perkantoran.
    
"Rata-rata kerugian yang dialami PLN mencapai 98.123 kilowatt jam (Kwh)," ujarnya.
    
Selain itu ada ada kerugian akibat kerusakan alat, seperti trafo yang meledak.
    
Jika dikalkulasi, selama periode September 2017 kerugian yang dialami PLN mencapai Rp132.662.296.
    
Selain kerugian material, PLN juga mengalami kerugian non material.

"Citra PLN menjadi kurang baik, karena pasokan listrik yang terganggu. Padahal kejadian tersebut diakibatkan kesalahan warga," katanya.
    
Sejauh ini PLN tidak pernah melakukan langkah hukum.
    
Sebab menurut Sukron, belum ada peraturan daerah (perda) yang mengtur soal menerbangkan layang-layang.
    
Menurutnya, butuh dukungan pemerintah daerah untuk menertibkan layang-layang yang dianggap mengganggu listrik PLN.

Sukron mencontohkan wilayah Probolinggo. Di wilayah tersebut keberadaan layang-layang sudah dianggap parah dan sangat mengganggu pasokan listrik PLN.
    
Pemerintah setempat kemudian membuat Perda, sehingga bisa menindak warga yang dianggap membandel. (*)

Editor: Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0126 seconds memory usage: 0.58 MB