Kamis, 23 November 2017

Menpora Imam Nahrawi Terima Gelar Kehormatan dari UINSA

id Menpora, Imam Nahrawi, UINSA, gelar doktor honoris causa
Menpora Imam Nahrawi Terima Gelar Kehormatan dari UINSA
Rektor UINSA Prof Abd A'la memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Menpora Imam Nahrawi di kampus setempat, Kamis. (Moch Asim)
"Dulu saya hanya bercita-cita jadi seorang guru. Tetapi jalan hidup saya mengarahkan saya menjadi politisi. Tentunya saya bersyukur bisa lebih belajar pada kehidupan yang lebih kompleks," kata alumnus Pendidikan Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah UINSA tahun 1997 ini
Surabaya (Antara Jatim) - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menerima gelar Doktor Honoris Causa (HC) atau gelar kehormatan dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dalam bidang Kepemimpinan Pemuda Berbasis Agama di kampus setempat, Kamis.

Imam Nahrawi dalam acara tersebut menyampaikan rasa terima kasihnya pada semua pihak yang mendukungnya selama ini. 

"Dulu saya hanya bercita-cita jadi seorang guru. Tetapi jalan hidup saya mengarahkan saya menjadi politisi. Tentunya saya bersyukur bisa lebih belajar pada kehidupan yang lebih kompleks," kata alumnus Pendidikan Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah UINSA tahun 1997 ini

Pria yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni (Ika) UINSA ini mengatakan dirinya sangat bangga alumnus UINSA saat ini telah tersebar di berbagai pelosok Indonesia.

Sementara itu Rektor UINSA Prof Abd A'la berharap dengan penganugerahan ini bisa menjadi pemacu kampusnya dalam mencetak generasi muda dan calon pemimpin yang unggul. Sehingga ke depan, akan lahir pemimpin-pemimpin masyarakat, bangsa, dan negara yang baik dan unggul demi menjamin terciptanya keadaban publik secara lebih baik.

"Anugerah ini diberikan pada Menpora lantaran terobosan dan inovasinya pada pengembangan karakter pemuda. Terlepas dari jabatannya, anugerah ini memang untuk tokoh masyarakat," ujarnya.

Pada kesempatan itu Direktur Pasca Sarjana UINSA Prof  Husein Aziz menilai Menpora layak atas gelar kehormatan tersebut setelah melihat komitmen untuk terus membangun kepemudaan baik dalam bidang keolahragaan, pembangunan karakter, maupun pendidikan.

Dari sisi akademis, kata dia, tema "Kepemimpinan Pemuda Berbasis Agama" yang diangkat Imam, sangat menarik untuk diangkat sebagai kajian. Hal itu, mengingat kepemimpinan pemuda mengacu kepada kekuatan, keilmuan, kecerdasan, militansi dan intelektual. Sementara agama, merujuk kepada integritas dan akhlak yang mulia.

"Integrasi kedua aspek ini dibutuhkan dalam membangun peradaban bangsa. Agama tanpa keilmuan mengakibatkan melemahnya peradaban dan mendatangkan problem sosial dan ekonomi. Sedangkan keilmuan tanpa agama menimbulkan dekadensi  nilai-nilai kemanusiaan," tuturnya.(*)

Editor: Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0151 seconds memory usage: 0.58 MB