Rabu, 22 November 2017

Semua Pihak Diminta Menkes Turut Kembangkan Stem Cell (Video)

id Menkes Nila Moeloek, Stem cell
Semua Pihak Diminta Menkes Turut Kembangkan Stem Cell (Video)
Menteri Kesehatan Nila Moeloek saat menjeadi pembicara di acara "National Symposium & Workshop Stem Cell" di Surabaya, Minggu. (Willy Irawan)
"Akademisi, bisnis dan pemerintah harus sama-sama. Riset mereka (peneliti) harus dibiayai perusahaan. Peneliti yang gak punya modal, hanya akan disimpan di bawah laci dan tak bisa memberikan produk. Itu pentingnya kerja sama dengan bisnis," kata Nila Moeloek usai acara "National Symposium & Workshop Stem Cell" di Surabaya, Minggu.
Surabaya, (Antara Jatim) -  Menteri Kesehatan Nila Moeloek meminta semua pihak baik akademisi dan perusahaan bersama-sama turut mengembangkan "stem cell" di Indonesia.

"Akademisi, bisnis dan pemerintah harus sama-sama. Riset mereka (peneliti) harus dibiayai perusahaan. Peneliti yang gak punya modal, hanya akan disimpan di bawah laci dan tak bisa memberikan produk. Itu pentingnya kerja sama dengan bisnis," kata Nila Moeloek usai acara "National Symposium & Workshop Stem Cell" di Surabaya, Jatim, Minggu.

Kerja sama pengembangan stem cell, kata Nila, sangat penting bagi perkembangan dunia medis di Indonesia. Nila mengatakan saat ini pihaknya menetapkan dua rumah sakit yakni Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM) di Jakarta dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soetomo Surabaya sebagai tempat pengembangan stem cell.

Selain itu, pihaknya telah mengatur standar operasional prosedur (SOP) untuk stem cell.

"Di Soetomo stem cell tak hanya diabet. Kenapa RSCM dan Soetomo, karena mereka punya pakar dan penelitian yang dilakukan mulai dari fase pertama. Mereka yang membimbing ke rumah sakit pendidikan," tutur dia.

Senada dengan Menkes, Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof M Nasih kesulitan untuk mengembangkan stem cell karena sulitnya mencari pemodal untuk membiayai.

"Stem cell ini kalau benar-benar terbukti dan digunakan secara massal pasti ada banyak obat yang tergerus yang tidak lagi digunakan dan akan merugikan mereka yang punya bisnis. Itulah mengapa mereka punya banyak cara agar penelitian dan pengembangan kita tidak sampai 'finish'," ungkap Nasih.

Di Amerika, lanjut dia, sudah ada kesepakatan untuk tidak mengembangkan stem cell terlebih dahulu. Hal tersebut harus menjadi konsen di luar dari aspek medis. "Politik internasional termasuk politik kesehatan internasional harus menjadi perhatian semua pihak," ujarnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Unair Porf Dr Soetojo mengatakan, pengobatan stem cell di RSUD Dr Soetomo sudah berlangsung lama. Selain itu, penelitian stem cell di Unair sudah banyak dilakukan, terutama S-3.

Dia mengatakan SOP yang ada di Soetomo terkait stem cell sudah sesuai dengan kaidah nasional yang diatur oleh Kemenkes.

"Semuanya sudah mencukupi di Soetomo. SDM lengkap, peneliti banyak dan alat memadai. Kita sudah melakukan stem cell diabetes, jantung, tulang dan kelainan darah. Ada banyak kasus. Mahasiswa mulai tahun 2001 sudah mulai melakukan penelitian," tuturnya.(*)
Video oleh: Willy Irawan

Editor: Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0107 seconds memory usage: 0.57 MB