Jumat, 22 September 2017

Cabai Penyumbang Utama Inflasi Jatim Pada 2016

id Cabai, Antara, Jatim, Naik
Cabai Penyumbang Utama Inflasi Jatim Pada 2016
Foto dok, Penjual cabai rawit di Pasar Tanjung Jember (Zumrotun Solichah)
karena nilai konsumsi yang tinggi, namun tidak dibarengi dengan produksi yang cukup sehingga harga di pasaran melambung tinggi.
Surabaya, (Antara Jatim) - Komoditas cabai menjadi penyumbang utama inflasi di Jawa Timur selama Tahun 2016, ditambah komoditas pertanian lain seperti bawang merah, rokok kretek filter, bawang putih, cabai rawit, dan biaya pendidikan perguruan tinggi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur Teguh Pramono di Surabaya, Selasa mengatakan beberapa komoditas menjadi penyumbang inflasi karena nilai konsumsi yang tinggi, namun tidak dibarengi dengan produksi yang cukup sehingga harga di pasaran melambung tinggi.

Sementara itu, untuk Desember 2016 Jawa Timur tercatat mengalami inflasi sebesar 0,56 persen, dengan inflasi tertinggi  berada di Kota Jember yang mencapai 0.93 persen, dan terendah di Kota Kediri yaitu sebesar 0,36 persen.

"Hampir semua kelompok pengeluaran mengalami inflasi pada akhir tahun ini. Kecuali kelompok sandang yang mengalami deflasi 0,59 persen," katanya.

Untuk komoditas utama yang memberikan andil terbesar inflasi pada Desember 2016 adalah telur ayam ras, tarif angkutan udara, tarif pulsa ponsel, bensin dan cabai rawit

Sedangkan komoditas yang memberikan andil terbesar deflasi ialah emas perhiasan, bawang merah, cabai merah dan apel.

Sementara itu, untuk laju inflasi tahunan kalender pada Desember 2016 Jawa Timur mencapai 2,74 persen, angka ini lebih rendah dibanding tahunan kalender Desember 2015 yang mencapai 3,08 persen.

"Jawa Timur secara umum masih bagus sebab masih berada pada kisaran 2 persen, sedangkan nasional diatas tiga persen, sebab di Jatim ada tim pengendalian harga," katanya.

Sedangakan secara total untuk seluruh ibu kota provinsi di Pulau Jawa mengalami pada akhir tahun mengalami inflasi,  dan terendah terjadi di Serang sebesar 0,12 persen diikuti Semarang sebesar 0,20 persen, DKI Jakarta sebesar 0.27 persen.

Kemudian Yogyakarta sebesar 0, 35 persen, Surabaya 0,56 persen dan tertrngggi terjadi di Bandung yang mencapai 0,63 persen.(*)


Editor: Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.1469 seconds memory usage: 0.58 MB