Selasa, 22 Agustus 2017

Komisi C Nilai Surabaya Lebih Cocok MRT/LRT

id Komisi C DPRD Surabaya, Nilai Surabaya Lebih Cocok MRT/LRT, dprd kota surabaya
Komisi C Nilai Surabaya Lebih Cocok MRT/LRT
Anggota Komisi C DPRD Surabaya Vinsensius Awey (Abdul Hakim)
Kereta ini banyak digunakan di kota-kota besar di negara maju. Masing-masing gerbong LRT memiliki mesin penggerak sehingga tidak terpusat dalam satu gerbong
Surabaya (Antara Jatim) - Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Kota Surabaya menilai Kota Surabaya lebih cocok diterapkan angkutan massal cepat (AMC) berbasis rel berupa MRT/LRT dari pada trem/monorail yang selama ini direncanakan Pemkot Surabaya.

Anggota Komisi C  DPRD Surabaya Vinsensius Awey mengatakan Light Rail Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT) sangat cocok diterapkan di daerah perkotaan.

"Kereta ini  banyak digunakan di kota-kota besar di negara maju. Masing-masing gerbong LRT memiliki mesin penggerak sehingga tidak terpusat dalam satu gerbong," katanya.

Menurut dia, dalam pengoperasiannya, LRT ini dapat ditempatkan di antara lalu lintas lainnya mengingat tidak memiliki kecepatan tinggi, hanya sekitar 30-40 kilometer per jam.

Selain itu, lanjut dia, LRT yang memiliki lebar 2,7 hingga 2,8 meter ini dapat dikendalikan dengan sistem otomatis tanpa harus menggunakan masinis layaknya KRL. Mengingat dimensinya yang kecil, lanjut dia, LRT memiliki keunggulan dimana memiliki radius putar hanya 20-30 meter.

Untuk itu, lanjut dia, salah satu alasan memilih LRT adalah dengan radius lingkar itu sangat cocok dengan kondisi Jakarta dan Surabaya yang memiliki gedung-gedung tinggi.

Awey juga menambahkan tidak jauh beda dengan LRT maupun MRT juga merupakan kategori kereta yang dioperasikan secara otomatis tanpa harus dikendalikan oleh masinis.  

"Hanya menekan tombol dari pusat kendali, kereta akan berjalan dengan sendirinya sampai ketujuan," katanya.

Sementara itu, lebar gerbong MRT sekitar 3,2-3,5 meter. Tidak hanya itu, dalam hal kecepatan, MRT mampu melaju hingga 100 km/jam. Sementara kekurangannya, MRT memiliki radius putar lebih lebar dibanding LRT yang hanya sekitar 20-30 meter.  "LRT lebih fleksibel dibandingkan dengan MRT," kata Awey.

Awey mengatakan kalau masih diberlakukan modal transportasi jenis trem, maka itu hanya merupakan proyek romantika belaka. Intinya proyek ini jangan terlalu dipaksakan dan perlu pengkajian ulang.

"Kalau dipaksakan juga akan menambah subsidi pemerintah. Pertanyaannya adalah apakah subsidi itu akan terus menerus dilakukan oleh pemakai jasa transportasi trem ini," kata Awey.

Untuk itu, Awey mengatakan MRT/LRT lebih mudah terintegrasi dengan moda lainnya dari pada trem/monorel yang populasinya sedikit karena teknologinya tertutup.

Apalagi, lanjut dia, trem itu hidup diabad 19-an, kemudian berakhir di sekitar tahun 1970 di Kota Surabaya.  Dalam perkembangannya trem kalah bersaing dengan kendaraan umum lainnya. Awey mencontohkan seperti opelet, bus kota dan kendaraan pribadi.

"Pada zaman pendudukan Jepang, nasib trem itu, hidup engan mati tak mau," katanya.

Sebetulnya proyek ini sudah bisa dikerjakan mulai Agustus 2016 ini. Namun, pemerintah pusat tidak mungkin melaksanakan proyek itu. Lantaran proyek yang sama sedang dibangun di Kota Palembang (Sumatera Utara) yang menghabiskan dana APBN sebesar Rp4 triliun lebih.

"Alangkah baiknya proyek di Surabaya di tunda dulu satu atau dua tahun kedepan, sambil  pemerintah melakukan pengkajian ulang proyek trem tersebut," katanya. (*)

Editor: Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga

Generated in 0.0084 seconds memory usage: 0.57 MB