Senin, 27 Februari 2017

Komisi D Dorong Revitalisasi Taman Hiburan Rakyat Surabaya

id Komisi D, Dorong Revitalisasi, Taman Hiburan Rakyat Surabaya, dprd kota surabaya
Komisi D Dorong Revitalisasi Taman Hiburan Rakyat Surabaya
Wakil Ketua Komisi D DPRD Surabaya Junaedi (Abdul Hakim)
THR memiliki perantig penting dalam pengembangan budaya tradisional. Di tempat itu, dulunya merupakan cikal bakal berdirinya paguyuban lawak yang melegenda Srimulat. Saya khawatir, apabila tak ada upaya pembenahan, THR akan mati suri
Surabaya (Antara Jatim) - Komisi D Bidang Kesra DPRD Surabaya mendorong Pemerintah Kota Surabaya  melakukan revitalisasi  tempat pagelaran kesenian tradisional berupa taman hiburan rakyat yang kini kondisinya memprihatinkan karena kumuh dan sepi pengunjung.

Wakil Ketua Komisi D  DPRD Surabaya Junaedi mengatakan ada beberapa hal yang menjadi penyebab kondisi THR kian terpuruk selain masalah sosialisasi dan promosi ke masyarakat yang  masih kurang, akses menuju ke lokasi juga terhalang oleh bangunan Hitech Mall.

"THR memiliki perantig penting dalam pengembangan budaya tradisional. Di tempat itu, dulunya merupakan cikal bakal berdirinya paguyuban lawak yang melegenda Srimulat. Saya khawatir, apabila tak ada upaya pembenahan, THR akan mati suri," katanya.

Ia mengaku kalangan dewan siap mendukung pengembangan kesenian tradisional di THR, dengan mendorong proses revitalisasi dan  sosiliasi yang gencar, sehingga menarik minat masyarakat untuk mengunjunginya.

"Pembenahan bisa dengan merenovasi, menata SDM-nya, kemudian sponsornya," katanya.

Junaedi mengakui tantangan yang dihadapi untuk menghidupkan kesenian tradisional adalah budaya asing yang berkembang di era globalisasi. Namun, ia optimistis apabila Dinas Kebudayan dan Pariwisata Surabaya bisa bekerja sama dengan Dinas Pendidikan bisa meramaikannya dengan memanfaatkan untuk kegiatan pentas seni kalangan pelajar.

"Jadi apabila ada lomba sekolah di sana, THR akan ramai," katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, untuk mempromosikan kegiatan di THR, perlu melibatkan perangkat daerah di kecamatan dan kelurahan untuk mensosialisasikan kegiatan yang ada.

"Kalau bisa kita berikan beberap tiket gratis untuk mereka," katanya.

Junaedi mengatakan selama ini, para pengunujung yang masuk area THR memang dikenai retribusi. Meski tidak mahal, namun pengenaan retribusi tersebut bertujuan untuk mendapatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Hanya saja, lanjut dia, pihaknya menilai hingga kini selama ini pemerintah kota belum mempunyai sentuhan untuk memajukan kesenian tradisional, terutama di THR. Untuk itu, menurutnya kegiatan seni dan budaya yang digelar di THR masih kalah dengan pertunjukan di Taman Budaya milik Pemprov Jatim. (*)

Editor: Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga

Generated in 0.0085 seconds memory usage: 0.56 MB